AGAMA, YUDAISME
Yunani
threskia, berarti ungkapan lahiriah dari kepercayaan; dalam Kis 26:5 kata itu
diterjemahkan ‘agama’, yg berarti Yudaisme (bnd Gal 1:13, di situ tidak dipakai
kata tersendiri untuk ‘agama’ seperti bh Yunaninya). Dalam Kol 2:18 dan Yak
1:26,27 kata itu diterjemahkan ‘ibadah’. Barangkali Yakobus berbicara ironis,
sebab hal-hal yg ia katakan ‘ibadah yg murni’, sama sekali tidak dipikirkan
sebagai bagian dari agama oleh orang Yahudi yg ritualistik. Dalam Mat 6:1
‘kewajiban agama’ adalah merupakan tafsiran kata Yunani dikaiosyne,
‘kebenaran’; barangkali ada pertentangan yg disengaja antara semangat batiniah
agama dan penampakan lahiriahnya semata-mata.
YUDAISME
I. Definisi
Yudaisme
adalah agama Yahudi yg bertentangan dengan agama PL. Penelitian menyeluruh
mengenai pokok ini haruslah dimulai pada panggilan Abraham, namun praktisnya
Yudaisme hares dianggap mulai pada Pembuangan di Babel. Tapi pada kurun waktu
hingga thn 70 M istilah ini dipakai hanyalah untuk unsur-unsur baik yg berupa
modifikasi maupun perluasan konsep-konsep PL. Dalam karya penulis-penulis
Jerman berulang kali muncul ungkapan menyesatkan ‘Yudaisme yg kemudian’, yg
dipakai untuk agama Yahudi pada zaman Tuhan Yesus. Ungkapan ini didasarkan pada
teori yg mengatakan bahwa naskah P (mengenai imamat) dan sejarah dalam
Heksateuk, berasal dari zaman Pembuangan atau sesudahnya, dan itulah yg
dianggap benar awal Yudaisme.
Adalah lebih
baik menganggap Yudaisme mencapai kedewasaannya sesudah keruntuhan Bait Suci
thn 70 M, dan memakai istilah ‘Agama Antar Perjanjian’ untuk kurun waktu antara
Ezra dan Tuhan Yesus, kecuali jika yg dibicarakan adalah gejala-gejala yg
menyusul sesudah keruntuhan Bait Suci. Satu alasan utama untuk ini ialah,
kendati agama Kristen paling awal tidak menolak atau tidak mengabaikan seluruh
perkembangan sejarah dalam keempat abad pasca Ezra, tapi gereja perdana tegas
menolak unsur itu dalam Yudaisme, yaitu sikapnya terhadap hukum Taurat dan
penafsirannya, yg memisahkan Yudaisme dari agama Kristen dan PL.
Yudaisme
mencapai puncak perkembangannya sekitar thn 500 M, agak bersamaan dengan agama
Katolik. Kedua-duanya sejak saat itu terus bertumbuh dan berbenah diri. Namun
artikel ini tidaklah membicarakan masa pasca thn 200 M, tatkala Misyna sudah
lengkap dan konsep-konsep utama Yudaisme sudah jelas. Mengenai kurun waktu yg
kemudian, silahkan membaca tulisan-tulisan tentang Yudaisme dalam ERE, JewE,
EJ, dst.’
II. Timbulnya Yudaisme
Yudaisme tak
terelakkan akibat reformasi raja Yosia, yg mencapai puncaknya thn 621 sM.
Ketentuan bahwa korban yg sah hanyalah yg dipersembahkan di Bait Suci
Yerusalem, mendampakkan arti bahwa hidup keagamaan banyak orang makin jauh dari
tempat kudus dan sepi korban sembelihan. Kecenderungan demikian makin diperkuat
oleh Pembuangan ke Babel. Penelitian modem mengisyaratkan bahwa pukulan akibat
tertimpa hukuman dari Allah, adalah terlalu membingungkan bagi suatu ibadah
resmi tanpa korban sembelihan, untuk dikembangkan di Pembuangan.
Masa
Pembuangan adalah kurun waktu menantikan pemulihan. Dan penolakan untuk kembali
ke Palestina pada thn 538 sM oleh mayoritas Yahudi, mengharuskan adanya perubahan
dalam hidup keagamaan mereka, jika mereka ingin tetap hidup sebagai Yahudi.
Tidak cukup hanya mengembangkan ibadah tanpa korban sembelihan (hal ini secara
resmi dgn bentuk-bentuknya yg tertentu nampaknya timbul kemudian); pandangan
baru atas hidup yg sama sekali dapat dipisahkan dari tempat kudus sangat
dibutuhkan. Pandangan baru itu ditemukan dalam Taurat Musa. Ini tidak ketat
diartikan sebagai peraturan undang-undang, tapi agak lebih sebagai seperangkat
prinsip yg dapat dan harus diterapkan pada setiap segi kehidupan, dan yg
mengikat semua orang yg ingin disebut Yahudi (Taurat lebih berarti ‘pengajaran’
daripada ‘hukum’). Sebenarnya Ezra adalah ‘Bapak Pencipta Yudaisme’, sebab ia
kembali dari Babel bukan untuk memperkenalkan dan memberlakukan hukum yg baru,
melainkan cara baru untuk memberlakukan hukum yg lama.
Pada
abad-abad berikutnya kebijaksanaan Ezra ini menghadapi perlawanan keras dari
imam-imam kaya dan yg lain-lain, yg pada pemerintahan Antiokhus Epifanes
(175-163 sM) menjadi pemimpin golongan Helenis. Mayoritas masyarakat umum (’ am
ha-’arets) berusaha menyingkirkan segala-galanya, kecuali arti yg jelas dari
Taurat. Pada masyarakat yg berdiaspora di barat terjadi pembauran yg makin
meningkat dengan pola pikir Yunani, yg dipertajam oleh tafsir Kitab Suci secara
alegoris yg merajalela pada waktu itu.
Tingkat
berikut dalam perkembangan Yudaisme ialah penghelenisasian para pemuka imam di
Yerusalem dan kemerosotan moral para raja imam Hasmonean yg menyusul kemudian
(khususnya Aleksander Yanneus). Beribadah di Bait Suci bagi orang saleh menjadi
lebih merupakan kewajiban daripada sukacita. Sementara itu anggota Perjanjian
Qumran kelihatannya membelakangi Bait Suci, sampai Allah sendiri akan
membersihkannya dari imam-imam jahat, para Farisi yg mengagungkan sinagoge
sebagai sarana utama untuk melakukan ibadah kepada Allah dan untuk mengenal
kehendak-Nya melalui penyelidikan Taurat. Akibatnya, menjelang zaman Tuhan
Yesus ada ratusan sinagoge di Yerusalem sendiri.
Walaupun
kehancuran Bait Suci thn 70 M adalah pukulan berat bagi Farisi dan pengagum
mereka, toh mereka sudah dipersiapkan untuk itu oleh beberapa kali Bait Suci
dinodai dengan berbagai cara sejak zaman Antiokhus Epifanes. Hidup keagamaan
mereka yg berpusat di sinagoge, dengan cepat dapat menyesuaikan diri pada
keadaan yg baru itu, apalagi mengingat kelompok agama-agama lain sudah
dimusnahkan atau dijadikan tak berdaya. Menjelang thn 90 M para pemimpin
Farisi, yaitu para rabi, merasa cukup kuat untuk mengucilkan dari sinagoge
orang-orang yg dianggapnya guru-guru bidat (minim), termasuk orang-orang
Kristen Ibrani. Menjelang thn 200, sesudah bertempur mati-matian, mereka paksa
‘am ha-’arets supaya menyesuaikan diri dengan para rabi, jika mereka ingin
dianggap Yahudi. Sejak saat itu dan seterusnya Yudaisme dipengaruhi oleh
pemikiran modern. Istilah-istilah Yahudi dengan Yudaisme seperti rabi, Yudaisme
ortodoks atau Yudaisme keturunan pada dasarnya adalah searti.
Perlu
diperhatikan, kendati kelompok Farisi selalu merupakan kelompok kecil,
keberjayaan pandangan mereka adalah wajar. Memang mereka sering tidak disenangi
oleh masyarakat umum, tapi pandangan merekalah yg paling logis menyesuaikan PL
pada keadaan sesudah Pembuangan. Dan pandangan mereka menjadi milik umum
melalui kesanggupan mereka menggunakan sinagoge.
III. Doktrin Yudaisme
Seyogianyalah jelas bagi pembaca Ps, betapa tajamnya pun pertentangan
Kristus dan Paulus di satu pihak, dengan lawan-lawan utama mereka pada pihak
lain, medan pertentangan itu jelas terbatas. Kedua pihak sama-sama mengakui
Kitab Suci yg sama — berbeda dari orang Saduki — dan, setidak-tidaknya tafsir
kedua pihak adalah hampir sama. Kemiripan yg begitu dekat antara ajaran Kristus
dengan ajaran para rabi terdahulu telah lama dikenal, dan ditemukannya
naskah-naskah Qumran meningkatkan pengakuan, bahwa pengaruh Helenisme terhadap
Ps hanyalah bersifat sampingan. Maka dapat dikatakan bahwa umumnya ajaran
Yudaisme tidak begitu berbeda dari ajaran PL maupun ajaran Kristen. Jadi dapat
dianggap bahwa dalam hal-hal yg tidak disebut di sini, tak ada perbedaan
mendasar sampai thn 500 M. Tapi harus diingat, bahwa perjuangan Yudaisme yg
begitu lama untuk mempertahankan keberadaannya menghadapi agama Kristen yg
makin berjaya, sering mendampakkan pergeseran penekanan yg berarti, sehingga
mempersempit hal-hal yg nampaknya sama-sama disetujui.
a. Israel
Dasar
Yudaisme ialah keberadaan dan panggilan Israel serta keanggotaan berdasarkan
kelahiran, kendati pintu terbuka juga bagi proselit. Tidak ada bukti bahwa
Yudaisme mengerti ajaran PL mengenai adanya ‘sisa’. Semboyan bahwa ‘Seluruh
Israel akan mendapat bagian dalam dunia yg akan datang’ umumnya diterima. Hanya
kemurtadan (istilah yg artinya tidak mantap) biasanya dianggap satu-satunya
penghalang untuk menikmatinya.
Dalam
lingkungan Israel semua orang dianggap saudara. Kendati perbedaan tingkat
sosial yg lazim dalam masyarakat tak pernah disangkal, di hadapan Allah tingkat
seseorang bergantung pada pengetahuan akan Taurat dan penggenapannya. Jadi
dalam kebaktian-kebaktian di sinagoge kualifikasi pemimpin ialah kesalehan,
pengetahuan dan kesanggupan. Para rabi bukanlah imam ataupun pendeta.
‘Penahbisan’ rabi melulu berdasarkan pengakuan jemaat, bahwa rabi itu pakar
Taurat, dan berdasarkan itu ia boleh berperan sebagai hakim. Jadi rabi adalah
orang yg mengetahui Taurat dan yg tahu mengajarkannya dengan baik, dan ia
diakui oleh beberapa rabi yg sudah mendapat pengakuan, atau dalam hal-hal yg
luar biasa diakui oleh jemaat. Semua hal itu cukup untuk membuat seseorang sah
menjadi rabi.
Wanita
dipandang di bawah kedudukan lelaki, karena wanita di bawah kuasa suaminya.
Juga dianggap tidak sanggup melaksanakan perintah-perintah tertentu dari
Taurat. Tapi pada dasarnya Yudaisme selalu mempertahankan makna #/TB Kej 2:18*
dan mempertahankan martabat wanita.
b. Kebangkitan dari antara orang
mati
Kendati
berlawanan dengan kehendaknya, di kemudian hari, karena pengaruh filsafat
Kristen dan Yunani, Yudaisme agak menyetujui ajaran bahwa roh manusia tak dapat
mati. Namun demikian Yudaisme tetap setia kepada jiwa PL yg menganggap
kebangkitan tubuh harus terjadi demi hidup yg sebenarnya sesudah kematian. #/TB
2Tim 1:10* bukanlah menyangkal pengharapan Yudaisme akan kebangkitan dari
antara orang mati, sebab hal itu — berbeda dari iman Kristen yg didasarkan kepada
kebangkitan Kristus — disimpulkan berdasarkan sekelumit petunjuk dalam PL dan
ditempa dalam kepedihan rohani yg menimpa orang saleh sejak zaman Antiokhus
Epifanes.
‘olam
ha-zeh (’ dunia ini’) tegas dibedakan dari ‘olam ha-ba’ (’ dunia yg akan
datang’). Yg terakhir selalu dipandang (kecuali anggota yg berdiaspora di bg
barat karena sudah lebih helenistis) berhubungan dengan bumi ini. Keduanya —‘
dunia ini’ dan ‘dunia yg akan datang’ — dihubungkan oleh ‘Zaman Mesias’ yg
selalu dipandang sebagai masa yg terbatas.
c. Taurat
Agaknya
golongan Farisi berada pada posisi tengah antara golongan Saduki yg menolak
otoritas Kitab-kitab Nabi (kendati tidak menolak nilainya), dengan kelompok
Perjanjian Qumran yg sangat menghormati otoritas Kitab-kitab Nabi, asal
Kitab-kitab Nabi itu di tangan penafsir yg laik menafsirkannya.
Golongan
Farisi memandang Kitab-kitab Nabi sebagai ulasan yg diilhamkan Allah tentang
Taurat, Pentateukh, yg bagi mereka merupakan pernyataan kehendak Allah yg
sempurna dan terakhir. Alasan utama mereka menolak Kristus, dan mengapa mereka
menuntut tanda dari Kristus, ialah karena Dia mengandalkan otoritas yg ada
pada-Nya, bukan yg ada pada Musa.
Para rabi
menjunjung tinggi peranan dan nilai Taurat, sehingga meyakininya merupakan
pengungkapan dan pembenaran keberadaan Israel. Barulah di kemudian hari,
sesudah Yudaisme menghadapi gereja yg makin berjaya, kepada Taurat diberikan
kedudukan kosmis dan pengakuan akan keberadaannya sebelum penciptaan dunia,
sehingga peranan Taurat bagi Yudaisme sama dengan peranan Kristus bagi agama
Kristen. Jadi mudah dimengerti mengapa Yahudi ortodoks sangat terpukul karena
doktrin tambahan rasul Paulus mengenai Taurat (#/TB Gal 3:19*) yg membuat mencolok
pelanggaran sebagai dosa (#/TB Rom 7:13*).
Tapi, di
kalangan Yudaisme pra thn 500 M Pentateukh hanyalah tora sye-bikhetav (Taurat
tertulis). Jika ‘pengyakinan’ atas Taurat harus menjadi urusan pribadi dari
setiap orang Yahudi yg saleh, dan penerapannya harus dipprluas sehingga
mencakup seluruh bidang kehidupan guna menciptakan kesatuan yg menjadi inti
kehidupan Israel, maka haruslah ada kesepakatan mengenai dasar-dasar pendekatan
dan penafsiran. Unsur-unsur yg mendasari kesepakatan itu mungkin sudah
ditetapkan dalam garis-garis besarnya pada zaman Ezra. Bersama dengan beberapa
kebiasaan zaman dulu, ump pembasuhan tangan, maka semua hal itu dianggap adalah
tradisi bahkan dari sejak Musa di G Sinai. Prinsip-prinsip ini dan penerapannya
dalam hidup keseharian merupakan tora sye-be ‘al-peh (Taurat atau hukum Taurat
lisan). Otoritasnya sama dengan Taurat tertulis, sebab Taurat tertulis tak
dapat dipahami dengan tepat tanpa Taurat lisan.
Perkembangan Taurat lisan mungkin adalah sbb. Taurat tertulis diselidiki
untuk menemukan perintah-perintah yg ada di dalamnya; semuanya berjumlah 613
terdiri dari 248 yg positif dan 365 yg negatif. Semua perintah itu dilindungi
lagi dengan menciptakan hukum-hukum baru, dan mematuhinya dianggap adalah
jaminan mematuhi perintah-perintah dasar tadi. Hal ini terkenal dengan ungkapan
‘membuat pagar sekeliling Taurat’. Akhirnya, hukum-hukum yg diperbanyak ini
diterapkan sebagai analogi kepada semua lingkungan dan bidang kehidupan.
Kendati dalam
pengertian tertentu Taurat lisan tidak pernah dianggap lengkap, karena
perubahan dalam peradaban selalu mendampakkan keadaan-keadaan baru yg
terhadapnya Taurat harus diterapkan, tapi pada umumnya Taurat lisan dianggap
sudah mendapat bentuknya yg definitif dalam Talmud, bahkan dalam arti yg lebih
sempit dalam Midrasim (tunggal Midras), yaitu uraian-uraian (’ aggada) yg
resmi, terutama yg bersifat ibadah mengenai Kitab-kitab PL.
Talmud
dibagi menjadi dua bagian. Misyna, yakni himpunan Taurat lisan yg dibukukan yg
menjadi tanggung jawab utama Rabi Yehuda ha-Nasi (kr 200 M). Berlawanan dengan
kebanyakan Midrasim, Misyna merupakan halakha, yaitu hukum-hukum yg mengatur
hidup, dan yg sebenarnya merupakan ulasan mengenai segi hukum Pentateukh. Gemara,
yakni ulasan panjang lebar tentang Misyna. Gemara tidak hanya memberikan
keterangan yg tepat mengenai hal-hal yg belum jelas, tapi juga memberi
berlimpah keterangan mengenai segala segi Yudaisme terdahulu. Naskah Babel yg
lebih panjang nyatanya baru thn 500 M lengkap seutuhnya, tapi naskah Palestina
yg tak kunjung selesai, data-data historisnya terhenti atau alpa kr satu abad
mundur. Jauh lebih adil mengaitkan Talmud dengan Bapak-bapak gereja ketimbang
dengan PB. *TALMUD DAN MIDRASY.
d. Manusia dengan penggenapan
Taurat
Sama
sekali tidak adil menolak Yudaisme dengan tuduhan bahwa itu melulu hanyalah
praktik hukum (legalisme), kendati dalam praktiknya memang praktik hukum itu
dominan. Bagian-bagian Talmud yg sering dikutip untuk membuktikan legalisme
itu, sama saja dengan setiap buku pegangan yg berusaha memberlakukan atas hidup
suatu hukum sampai hal tetek bengeknya. Kecenderungan kepada legalisme itu agak
dikurangi melalui usaha pihak rabi, yg menekankan bahwa penerapan Taurat harus
timbul dari niat yg benar (kawwana), dan harus dilakukan demi Taurat itu
sendiri (lisyma), bukan karena pahala yg mungkin didatangkannya. Bagi mereka
pemberian Taurat oleh Allah adalah tindakan kasih karunia yg sangat luhur, dan
penerapan Taurat seharusnya adalah tanggapan kasih manusia.
Sistem
demikian menekankan bobot kemampuan manusia melakukan Taurat, bukan kegagalan
manusia melakukannya. Karena itu kengerian dosa yg ‘sopan’ dan ketidaksanggupan
manusia melakukan kehendak Allah secara sempurna diperkecil, dan kecenderungan
ini diperkuat oleh lenyapnya korban sembelihan thn 70 M. Pada Yudaisme sama
sekali tidak ada sesuatu yg dapat dibandingkan dengan ajaran Kristen mengenai
dosa asali. Memang benar manusia dikandung dan dilahirkan dengan keinginan
jahat (yetser ha-ra’), tapi hal ini diimbangi oleh keinginan batin yg baik yg
bobotnya sama (yetser ha-tov), yg jika ditopang oleh penelitian Taurat, akan
lebih unggul. Pandangan yg agak meremehkan dosa dan kodrat manusia ini terdapat
dalam seluruh Yudaisme.
Yg lebih
gawat lagi ialah pernyataan yg tersirat dalam Yudaisme akan keotonomian ahli
Taurat. Kendati Taurat menuntut otoritas mutlak atas manusia yg otonom itu,
Allah membiarkan sang ahli Taurat menemukan apa tuntutan Taurat. Pemikiran ini
begitu ngawur, sehingga dalam Talmud (Menakhot 29b) Musa digambarkan tidak
sanggup memahami uraian Rabi Akiba, yg menguraikan penemuan hal-hal yg tak
pernah terpikirkan oleh Musa tercantum dalam hukum Musa. Pada pihak lain,
kadang-kadang perintah-perintah langsung sengaja diputarbalikkan, karena hal
itu dianggap demi kepentingan umum. Contoh paling terkenal ialah #/TB Ul
15:1-3* — tapi contoh #/TB Mr 7:9-13* tidak dibicarakan dalam Misyna,
barangkali karena tempelakan Kristus itu diakui benar. Selanjutnya ada
kecenderungan yg mantap untuk memperingan muatan setiap peraturan, yg kelihatan
terlalu berat menekan orang banyak (ini tidak bertentangan dgn #/TB Mat 23:4*;
memang adalah hak istimewa setiap pakar memanfaatkan pengetahuannya untuk
memperingan bebannya!). Mungkin sikap percaya Farisi pada diri sendiri sebagai
orang-orang yg mengawasi dan merumuskan penyataan kehendak Allah, adalah yg
terutama melatarbelakangi tuduhan Kristus bahwa Farisi munafik (*MUNAFIK dan H.
L Ellison, ‘Jesus and the Pharisees’, JTVI 85, 1953). Kendati para rabi terus
menasihati supaya orang tetap rendah hati, catatan dalam #/TB Yoh 7:49* terlalu
sering muncul dalam sastra Yudaisme.
Karena
ajaran utama Yudaisme ialah mengabdi kepada Allah dengan menaati Taurat, dan
segenap kemampuan akal budi digunakan untuk mencari selengkapnya kerangka
perintah-perintah Allah, maka Yudaisme sangat sedikit sekali diganggu oleh
perdebatan teologi, yg meracuni kekristenan. Apabila seseorang mengakui kesatuan
yg sempurna dan keunikan Allah, juga mengakui otoritas mutlak dan finalitas
Taurat serta pemilihan Israel, maka orang itu dapat — asal ia menaati hukum
Taurat — menganut teori filsafat dan mistik mana pun yg dia pilih. Betapa
salahnya ucapan itu sehingga benar mengatakan bahwa kata ortopraksis —
kelainan, penyimpangan — lebih tepat digunakan untuk Yudaisme daripada
ortodoksi. Satu-satunya perpecahan serius di kalangan Yahudi antara masa jaya
pandangan Farisi dan zaman modern, ialah perpecahan golongan Karait (abad 8)
berkaitan dengan prinsip-prinsip penafsiran Taurat.
Perkembangan bagian terbesar sejarah Yudaisme terlindung dari pengaruh
Yunani pada tahapannya yg paling berbahaya. Sebagai hasilnya dapat
dipertahankan keseimbangan antara perseorangan dan masyarakat, yg kenyataannya
timpang dalam praktik kehidupan Kristen.
e. Mesias yg dijanjikan
Kendati
ada beragam pandangan, tapi tak ada tanda-tanda pada Yudaisme hingga thn 200 M
yg menunjukkan, bahwa pada diri Mesias ada unsur-unsur adikodrati. Mesias
pertama-tama dianggap adalah pembebas akbar dari penindasan orang asing,
barulah kemudian sebagai pelaksana penerapan Taurat secara benar. Zaman Mesias
adalah jembatan penghubung dengan dunia yg akan datang, tapi lamanya zaman itu
terbatas. Mengenai ringkasannya, lih J. K Klausner, The Mesianic Idea in
Israel, bg 3. *MESIAS.
f. Doktrin tentang Allah
Mengamati
antologi para rabi mengenai Allah, segera nampak bahwa bagian terbesar antologi
itu setia kepada penyataan PL. Perbedaannya dari pandangan Kristen terutama
terdapat dalam pokok-pokok berikut. Karena kontak dunia yg akan datang di bumi
ini tidaklah seerat kontak dunia sorgawi dengan Allah yg kekal, maka Yudaisme
kurang mengindahkan mutlaknya kekudusan Allah. Dan karena pengabdian kepada
Allah lebih ditekankan daripada persekutuan dengan Allah, kecuali di kalangan
kebatinan yg kadang-kadang muncul, maka perihal ‘pendamaian’ jarang muncul
dalam Yudaisme. Bagaimanapun tak ada suatu pengertian bahwa Israel perlu
diperdamaikan dengan Allah. Secara apriori konsep inkarnasi dikucilkan; jurang
antara Pencipta dengan ciptaan-Nya terlalu lebar dan dalam.
Silang
nalar antara Yudaisme dan gereja yg makin berjaya, membuat Yudaisme makin kuat
menekankan transendensi Allah, sehingga hampir tak mungkin lagi ada tempat bagi
imanen riil. Keimanenan yg terus-menerus ditekankan dalam ibadah penyerahan
diri orang Yahudi selalu bersifat semi panteistik — menyamakan Tuhan dengan
kekuatan-kekuatan dan hukum-hukum alam semesta. Doktrin kemanunggalan Allah
dibatasi dengan istilah-istilah yg membuat doktrin Tritunggal suatu kekejian.
Perihal Allah luas diinformasikan tapi dalam rangka menyangkali atau mengebiri
citra-Nya, sehingga Dia makin tak dapat dikenal, kecuali melalui
pekerjaan-pekerjaan-Nya. Kendati demikian asas PL yg ada pada Yudaisme sudah
dalam berakar di hati orang Yahudi yg saleh, sehingga tak bisa menerima ajaran
demikian dan berulang-ulang berusaha menempuh jalan mistisisme.
KEPUSTAKAAN.
- H Danby (terj.), The Mishnah, 1933; I Epstein (red.), The Talmud, terjemahan Inggris 35 jilid, 1935-1952; H. L Strack, Introduction to the Talmud and Midrash, 1931;
- G. F Moore, Judaisme in the First Centuries of the Christian Era, 3 jilid, 1927, 1930;
- E Schurer, HJP, 1, 1973; H. L Strack dan P Billerbeck. Kommentar zum Neuen Testament aus Talmud and Midrash, 4 jilid, 1922-1928;
- C. G Montefiore dan H Loewe, A Rabbinic Anthology, 1938;
- J Parkes, The Principles of the Jewish Faith, 1964;
- RA Stewart, Rabbinic Theology, 1961; S Safrai dan M Stern (red.), The Jewish People in the First Century, 2 jilid, 1974, 1976.
No comments:
Post a Comment