1. Dasar Alkitab: Perspektif Kekekalan
Alkitab memandang kesombongan bukan sekadar perilaku buruk, melainkan masalah hati yang serius di hadapan Tuhan.
Kesombongan (Pride)
Akar Dosa: Kesombongan dianggap sebagai "induk segala dosa" karena menempatkan diri sendiri di tempat yang seharusnya milik Tuhan.
Peringatan Tuhan: "Kecongkakan mendahului kehancuran, dan tinggi hati mendahului kejatuhan." (Amsal 16:18).
Kasus Alkitabiah: Raja Uzia (2 Tawarikh 26) yang menjadi sombong setelah merasa kuat, berakhir dengan kusta karena melanggar ketetapan Tuhan.
Kerendahan Hati (Humility)
Definisi Alkitabiah: Bukan berarti rendah diri (merasa tidak berharga), tetapi "ketergantungan total kepada Tuhan".
Teladan Kristus: Filipi 2:5-8 menggambarkan Yesus yang, walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan menghambakan diri-Nya.
Janji Tuhan: "Allah menentang orang yang congkak, tetapi mengasihani orang yang rendah hati." (1 Petrus 5:5).
2. Pandangan dalam Kehidupan Sehari-hari
Dalam interaksi sosial nyata, perbedaan keduanya sering kali terlihat pada bagaimana seseorang memperlakukan orang lain.
| Aspek | Kesombongan | Kerendahan Hati |
| Mendengar | Menunggu giliran bicara untuk memamerkan diri. | Mendengar untuk memahami dan menghargai. |
| Kesalahan | Menyalahkan orang lain atau situasi. | Mengakui kesalahan dan mau belajar (teachable). |
| Pencapaian | Merasa semua adalah hasil kerja keras sendiri. | Menyadari ada peran orang lain dan anugerah Tuhan. |
| Status | Mengukur orang berdasarkan jabatan atau harta. | Memandang setiap orang berharga (Imago Dei). |
3. Pandangan Media Sosial di Era Digital
Era digital menciptakan ekosistem yang secara alami memicu kesombongan melalui fitur-fitur yang menekankan validasi eksternal.
A. Jebakan Kesombongan Digital
Kurasi Hidup: Media sosial mendorong kita menampilkan sisi terbaik saja (highlight reel), yang sering kali berujung pada pamer (flexing) terselubung.
Haus Validasi: Jumlah likes, followers, dan komentar positif bisa menjadi "makanan" bagi ego. Tanpa sadar, kita merasa lebih "suci" atau lebih "berhasil" dibanding mereka yang tidak viral.
Budaya Menghakimi: Kesombongan intelektual dan moral di media sosial sering memicu cancel culture, di mana orang merasa berhak menghancurkan sesama dari balik layar.
B. Kerendahan Hati Digital (Digital Humility)
Otentisitas: Berani tampil apa adanya tanpa harus melebih-lebihkan kenyataan untuk dipuji.
Berbagi Tanpa Mencari Pujian: Menggunakan platform untuk memberkati atau menginspirasi, bukan untuk memposisikan diri sebagai "pahlawan".
Menghargai Perbedaan: Rendah hati dalam berpendapat di kolom komentar, menyadari bahwa pengetahuan kita terbatas dan orang lain memiliki sudut pandang berbeda.
4. Penerapan dan Refleksi
Bagaimana kita menjaga hati di era yang begitu bising ini?
Ingatlah Sumber Segala Sesuatu: Semua talenta, kecantikan, jabatan, dan kecerdasan adalah titipan. Seperti kata 1 Korintus 4:7: "Sebab siapakah yang menganggap engkau istimewa? Dan apakah yang engkau punyai, yang tidak engkau terima?"
Praktikkan "Hidden Acts": Cobalah melakukan kebaikan tanpa mempostingnya di media sosial. Ini melatih hati agar tetap murni untuk Tuhan, bukan untuk penonton.
Audit Motivasi: Sebelum memposting sesuatu, tanyakan: "Apakah saya ingin Tuhan yang dimuliakan melalui ini, atau saya ingin orang tahu betapa hebatnya saya?"
Kesimpulan
Kesombongan membangun tembok, tetapi kerendahan hati membangun jembatan. Di hadapan Tuhan, kerendahan hati adalah kunci untuk menerima anugerah-Nya yang lebih besar. Di hadapan manusia, kerendahan hati adalah daya tarik yang paling murni.






