Thursday, February 5, 2026

Dasar Alkitab: Kesombongan vs Kerendahan hati di Era Digital

 

1. Dasar Alkitab: Perspektif Kekekalan

Alkitab memandang kesombongan bukan sekadar perilaku buruk, melainkan masalah hati yang serius di hadapan Tuhan.

Kesombongan (Pride)

  • Akar Dosa: Kesombongan dianggap sebagai "induk segala dosa" karena menempatkan diri sendiri di tempat yang seharusnya milik Tuhan.

  • Peringatan Tuhan: "Kecongkakan mendahului kehancuran, dan tinggi hati mendahului kejatuhan." (Amsal 16:18).

  • Kasus Alkitabiah: Raja Uzia (2 Tawarikh 26) yang menjadi sombong setelah merasa kuat, berakhir dengan kusta karena melanggar ketetapan Tuhan.

Kerendahan Hati (Humility)

  • Definisi Alkitabiah: Bukan berarti rendah diri (merasa tidak berharga), tetapi "ketergantungan total kepada Tuhan".

  • Teladan Kristus: Filipi 2:5-8 menggambarkan Yesus yang, walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan menghambakan diri-Nya.

  • Janji Tuhan: "Allah menentang orang yang congkak, tetapi mengasihani orang yang rendah hati." (1 Petrus 5:5).


2. Pandangan dalam Kehidupan Sehari-hari

Dalam interaksi sosial nyata, perbedaan keduanya sering kali terlihat pada bagaimana seseorang memperlakukan orang lain.

AspekKesombonganKerendahan Hati
MendengarMenunggu giliran bicara untuk memamerkan diri.Mendengar untuk memahami dan menghargai.
KesalahanMenyalahkan orang lain atau situasi.Mengakui kesalahan dan mau belajar (teachable).
PencapaianMerasa semua adalah hasil kerja keras sendiri.Menyadari ada peran orang lain dan anugerah Tuhan.
StatusMengukur orang berdasarkan jabatan atau harta.Memandang setiap orang berharga (Imago Dei).

3. Pandangan Media Sosial di Era Digital

Era digital menciptakan ekosistem yang secara alami memicu kesombongan melalui fitur-fitur yang menekankan validasi eksternal.

A. Jebakan Kesombongan Digital

  • Kurasi Hidup: Media sosial mendorong kita menampilkan sisi terbaik saja (highlight reel), yang sering kali berujung pada pamer (flexing) terselubung.

  • Haus Validasi: Jumlah likes, followers, dan komentar positif bisa menjadi "makanan" bagi ego. Tanpa sadar, kita merasa lebih "suci" atau lebih "berhasil" dibanding mereka yang tidak viral.

  • Budaya Menghakimi: Kesombongan intelektual dan moral di media sosial sering memicu cancel culture, di mana orang merasa berhak menghancurkan sesama dari balik layar.

B. Kerendahan Hati Digital (Digital Humility)

  • Otentisitas: Berani tampil apa adanya tanpa harus melebih-lebihkan kenyataan untuk dipuji.

  • Berbagi Tanpa Mencari Pujian: Menggunakan platform untuk memberkati atau menginspirasi, bukan untuk memposisikan diri sebagai "pahlawan".

  • Menghargai Perbedaan: Rendah hati dalam berpendapat di kolom komentar, menyadari bahwa pengetahuan kita terbatas dan orang lain memiliki sudut pandang berbeda.


4. Penerapan dan Refleksi

Bagaimana kita menjaga hati di era yang begitu bising ini?

  1. Ingatlah Sumber Segala Sesuatu: Semua talenta, kecantikan, jabatan, dan kecerdasan adalah titipan. Seperti kata 1 Korintus 4:7: "Sebab siapakah yang menganggap engkau istimewa? Dan apakah yang engkau punyai, yang tidak engkau terima?"

  2. Praktikkan "Hidden Acts": Cobalah melakukan kebaikan tanpa mempostingnya di media sosial. Ini melatih hati agar tetap murni untuk Tuhan, bukan untuk penonton.

  3. Audit Motivasi: Sebelum memposting sesuatu, tanyakan: "Apakah saya ingin Tuhan yang dimuliakan melalui ini, atau saya ingin orang tahu betapa hebatnya saya?"


Kesimpulan

Kesombongan membangun tembok, tetapi kerendahan hati membangun jembatan. Di hadapan Tuhan, kerendahan hati adalah kunci untuk menerima anugerah-Nya yang lebih besar. Di hadapan manusia, kerendahan hati adalah daya tarik yang paling murni.

Rrokok: Tubuhku Adalah Bait Allah

 

Tinjauan Alkitab: Tubuhku Adalah Bait Allah

I. Pendahuluan

Bagi orang Kristen, etika tidak hanya didasarkan pada daftar "boleh" dan "tidak boleh", tetapi pada pertanyaan: "Apakah hal ini memuliakan Allah?". Rokok sering kali dianggap sebagai wilayah abu-abu bagi sebagian orang, namun jika kita membedahnya melalui kacamata kebenaran firman Tuhan, kita akan menemukan bahwa kesehatan fisik dan kesehatan rohani adalah dua hal yang tidak terpisahkan.

II. Latar Belakang

Masalah rokok dalam kekristenan biasanya muncul dari dua sisi:

  1. Kesehatan: Kerusakan organ tubuh yang diciptakan Tuhan.

  2. Adiksi (Keterikatan): Kehilangan penguasaan diri karena kecanduan nikotin. Secara historis, gereja mulai mengambil sikap tegas terhadap rokok seiring dengan penemuan medis tentang bahaya kanker dan penyakit jantung yang disebabkan oleh tembakau.


III. Poin-Poin Penting (Tinjauan Alkitabiah)

1. Tubuh adalah Bait Roh Kudus

"Atau tidak tahukah kamu, bahwa tubuhmu adalah bait Roh Kudus yang diam di dalam kamu... Karena itu muliakanlah Allah dengan tubuhmu!" (1 Korintus 6:19-20)

Dalam Perjanjian Lama, Bait Allah adalah tempat yang sangat kudus dan dijaga kebersihannya. Jika Roh Kudus tinggal di dalam kita, maka merusak tubuh dengan zat karsinogenik secara sengaja dapat dipandang sebagai bentuk ketidakhormatan terhadap "rumah" Tuhan tersebut.

2. Prinsip Penguasaan Diri (Kemerdekaan Kristen)

"Segala sesuatu halal bagiku, tetapi bukan semuanya berguna. Segala sesuatu halal bagiku, tetapi aku tidak membiarkan diriku diperhamba oleh suatu apa pun." (1 Korintus 6:12)

Kekristenan menawarkan kemerdekaan, tetapi rokok menawarkan perhambaan. Ketika seseorang tidak bisa berfungsi tanpa rokok, maka ia sedang "diperhamba" oleh nikotin. Orang Kristen dipanggil untuk hidup di bawah kendali Roh Kudus, bukan kendali zat adiktif.

3. Prinsip Menjadi Batu Sandungan

"Sebab itu baiklah kita mengejar apa yang mendatangkan damai sejahtera dan yang berguna untuk saling membangun." (Roma 14:19)

Rokok memiliki dampak sosial (perokok pasif) dan dampak kesaksian. Jika perilaku kita membuat orang lain (anak-anak, jemaat baru, atau sesama) merasa terganggu atau jatuh dalam iman, maka kita gagal mengasihi sesama seperti diri sendiri.


IV. Akibat yang Ditimbulkan

  • Secara Fisik: Kerusakan paru-paru, jantung, dan sistem imun. Ini adalah bentuk pengabaian terhadap karunia hidup yang Tuhan berikan.

  • Secara Ekonomi: Pemborosan berkat keuangan. Alkitab mengajarkan penatalayanan (stewardship) yang baik atas uang yang Tuhan percayakan.

  • Secara Spiritual: Mengaburkan kesaksian hidup. Orang Kristen dipanggil menjadi "surat Kristus" yang terbuka. Jika "asap" lebih menonjol daripada "buah Roh", maka pesan Injil bisa terhambat.


V. Penerapan bagi Orang Kristen

  1. Bertobat dan Memohon Kekuatan: Jika Anda sedang terikat, akuilah itu sebagai kelemahan di hadapan Tuhan. Roh Kudus adalah Penolong yang mampu melepaskan belenggu kecanduan.

  2. Mengganti Kebiasaan (Disiplin Rohani): Saat keinginan merokok muncul, ganti dengan doa atau membaca satu ayat Alkitab. Fokuskan pikiran pada hal-hal yang membangun (Filipi 4:8).

  3. Lingkungan yang Sehat: Bergabunglah dengan komunitas sel atau rekan seiman yang mendukung gaya hidup sehat dan tidak menghakimi, melainkan merangkul untuk pulih.

  4. Menghargai Karunia Nyawa: Lihatlah setiap napas sebagai pemberian Tuhan. Memelihara kesehatan adalah bentuk ibadah yang nyata (Roma 12:1).


VI. Kesimpulan

Alkitab mungkin tidak menulis "Janganlah kamu merokok", tetapi Alkitab dengan tegas menulis "Muliakanlah Allah dengan tubuhmu." Rokok tidak memberikan nilai tambah bagi kerohanian maupun jasmani. Sebagai murid Kristus, pilihan terbaik adalah melepaskan apa yang merusak dan memegang teguh apa yang mendatangkan kehidupan.

Alfa dan Omega

 

Alfa dan Omega: Allah yang Memegang Kendali Segala Sesuatu

I. Pendahuluan

Dunia kita sering kali terasa kacau dan tidak pasti. Kita khawatir tentang masa depan, menyesali masa lalu, dan merasa lelah di masa kini. Namun, di tengah ketidakpastian itu, Tuhan memperkenalkan diri-Nya dengan sebuah gelar yang absolut: "Aku adalah Alfa dan Omega." Ini bukan sekadar simbol huruf, melainkan sebuah proklamasi bahwa Tuhan adalah pemilik garis start dan garis finish kehidupan kita. Tidak ada satu detik pun dalam sejarah yang berada di luar jangkauan-Nya.


II. Latar Belakang

Gelar "Alfa dan Omega" muncul tiga kali dalam kitab terakhir Alkitab, yaitu Wahyu (Wahyu 1:8; 21:6; 22:13).

  • Etimologi: Alfa ($\alpha$) adalah huruf pertama dalam alfabet Yunani, dan Omega ($\omega$) adalah huruf terakhir.

  • Konteks Sejarah: Kitab Wahyu ditulis saat jemaat mula-mula mengalami penganiayaan hebat di bawah kekaisaran Romawi. Mereka merasa "akhir" sudah dekat dan segalanya hancur. Tuhan menggunakan istilah ini untuk menghibur mereka: bahwa Dialah yang memulai sejarah, dan Dialah yang akan menutupnya, bukan kaisar dunia.

  • Makna Budaya: Dalam tradisi Yahudi, mencakup seluruh alfabet (dari Aleph sampai Tav) adalah cara untuk menyatakan totalitas atau kesempurnaan.


III. Poin-Poin Penting (Eksposisi)

1. Allah yang Transenden (Melampaui Waktu)

Sebagai Alfa dan Omega, Allah ada sebelum waktu diciptakan dan tetap ada setelah waktu berakhir. Dia tidak terikat oleh kalender manusia.

  • Alfa: Dia adalah Penyebab Pertama (The First Cause). Segala sesuatu ada karena ide-Nya.

  • Omega: Dia adalah Tujuan Akhir. Semua sejarah bergerak menuju satu titik: kemuliaan-Nya.

2. Allah yang Immanen (Menyertai di Antara Alfa dan Omega)

Penting untuk diingat: Allah bukan hanya ada di huruf pertama dan terakhir. Dia adalah seluruh "alfabet" kehidupan. Di antara Alfa dan Omega, terdapat huruf-huruf lain. Artinya, di antara kelahiran dan kematian kita, di antara awal rencana dan pencapaiannya, Allah hadir di setiap prosesnya.

3. Kesatuan Kristus dengan Bapa

Dalam Wahyu 22:13, Yesus Kristus mengklaim gelar ini bagi diri-Nya sendiri. Ini adalah bukti teologis yang sangat kuat tentang ke-Tuhan-an Yesus. Dia setara dengan Allah Bapa dalam kekekalan dan kuasa.


IV. Penerapan Praktis

  • Berhenti Menjadi "Alfa" Bagi Diri Sendiri: Seringkali kita stres karena kita mencoba mengontrol awal dari segala sesuatu. Percayalah bahwa Allah sudah memulai pekerjaan yang baik di dalam kita.

  • Ketidaktakutan Terhadap Masa Depan (Omega): Jika Allah memegang akhir sejarah, kita tidak perlu takut akan kematian atau akhir zaman. Akhir kita bukan kehancuran, melainkan perjumpaan dengan Sang Omega.

  • Ketekunan di Masa Sulit: Jika Anda sedang berada "di tengah-tengah" masalah (antara awal dan akhir), ingatlah bahwa Sang alfabet agung sedang merangkai cerita indah dalam hidup Anda.


V. Kesimpulan

Mengakui Tuhan sebagai Alfa dan Omega berarti menyerahkan kendali total hidup kita kepada-Nya. Dia yang merancang awal hidupmu, dan Dia pula yang menjamin akhir hidupmu akan penuh dengan kemenangan. Jangan takut pada apa yang ada di depan, karena Sang Omega sudah lebih dulu ada di sana.


VI. Sumber Buku (Referensi)

Untuk pendalaman lebih lanjut, berikut adalah beberapa referensi buku yang otoritatif:

  1. Beale, G. K. (1999). The Book of Revelation (New International Greek Testament Commentary). Wm. B. Eerdmans Publishing. (Sangat mendalam tentang simbolisme Yunani).

  2. Ladd, George Eldon. (1972). A Theology of the New Testament. Eerdmans. (Membahas eskatologi dan kedaulatan Kristus).

  3. Mounce, Robert H. (1997). The Book of Revelation (New International Commentary on the New Testament). Eerdmans.

  4. Barclay, William. (2001). The Revelation of John (The New Daily Study Bible). Westminster John Knox Press. (Sangat baik untuk latar belakang sejarah dan bahasa).

  5. Sproul, R.C. (2012). The Holiness of God. Tyndale House. (Membahas tentang keabadian dan sifat Allah).

Saturday, January 24, 2026

Bangkit dari Kegagalan



Ibadan Pemuda (24/1/2026)

Tema: Bangkit dari Kegagalan melalui Kasih Karunia

Nats Alkitab: 2 Korintus 12:9

Pendahuluan

Dunia sering mendefinisikan keberhasilan lewat pencapaian materi, popularitas, atau status sosial. Bagi pemuda Kristen, tekanan ini sering kali menimbulkan ketakutan luar biasa akan kegagalan. Namun, kita perlu memahami bahwa kegagalan bukanlah akhir dari segalanya, melainkan sering kali merupakan cara Tuhan untuk membentuk karakter kita agar lebih tangguh dan bergantung sepenuhnya kepada-Nya.



______________

I. Mengapa Kita Gagal? (Akar Masalah)

Sebelum kita bangkit, kita perlu mengevaluasi diri dengan jujur. Ada empat faktor utama yang sering menjadi "lubang" penyebab jatuhnya pemuda Kristen:

1. Krisis Kepercayaan (Iman yang Dangkal): Sering kali kita hanya percaya pada Tuhan saat keadaan baik. Ketika badai datang, kita meragukan janji-Nya. Tanpa akar iman yang kuat, angin pencobaan akan mudah menumbangkan kita.

2. Lengah dalam Pergaulan: Alkitab mengingatkan bahwa "Pergaulan yang buruk merusakkan kebiasaan yang baik" (1 Korintus 15:33). Lingkungan yang tidak mendukung pertumbuhan rohani perlahan akan mengikis nilai-nilai kristiani kita.

3. Buta Aksara Rohani (Kurang Pengetahuan Alkitab): Hidup tanpa Firman seperti berjalan di hutan gelap tanpa kompas. Tanpa pengetahuan Alkitab, kita tidak memiliki dasar untuk mengambil keputusan yang benar.

4. Penyakit "Aku" (Kesombongan): Merasa sanggup melakukan segalanya sendirian adalah awal dari kejatuhan. Kesombongan menutup telinga kita dari nasihat Tuhan maupun sesama.

______________

II. Perspektif Baru: Kuasa di Balik Kelemahan.

Dalam kegagalan, kita sering merasa lemah dan tidak berdaya. Namun, Rasul Paulus memberikan rahasia besar dalam 2 Korintus 12:9:

"Tetapi firman-Nya kepadaku: 'Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab di dalam kelemahankulah kuasa-Ku menjadi sempurna.'"

Kasih Karunia yang Cukup: Tuhan tidak menjanjikan hidup tanpa masalah, tetapi Ia menjanjikan kasih karunia yang cukup untuk menopang kita di tengah masalah tersebut.

Titik Balik Kuasa Tuhan: Saat kita mengakui bahwa kita tidak mampu (rendah hati), di sanalah kuasa Tuhan bekerja secara maksimal. Kegagalan melepaskan kita dari ketergantungan pada diri sendiri dan mengarahkan kita kepada ketergantungan pada Tuhan.

______________

III. Langkah untuk Bangkit

1. Bertobat dan Mengakui: Akui kegagalan dan kesombongan kita di hadapan Tuhan.

2. Membangun Fondasi Baru: Mulailah disiplin membaca Firman dan berdoa setiap hari.

3. Memilih Lingkungan yang Sehat: Cari komunitas (sel grup/pemuda) yang saling menguatkan dan membangun iman.

4. Jadikan Kegagalan sebagai Guru: Belajarlah dari kesalahan, namun jangan biarkan kesalahan itu mendefinisikan identitasmu. Identitasmu ada di dalam Kristus, bukan pada kegagalanmu.

______________

Kesimpulan

Kegagalan mungkin membuat kita terluka, tetapi jangan biarkan ia membuat kita berhenti. Ingatlah bahwa Tuhan lebih tertarik pada proses pembentukan kita daripada sekadar hasil akhir. Saat kamu merasa lemah, ingatlah bahwa ada kasih karunia yang sedang bekerja menyempurnakan kekuatanmu.


Tuhan tidak mencari pemuda yang tidak pernah jatuh, tetapi Ia mencari pemuda yang mau bangkit kembali bersama-Nya. YP

Sunday, January 18, 2026

Firman Allah yang Hidup & Kuat (Ibrani 4:12-13)

 Firman Allah yang


Hidup & Kuat (Ibrani 4:12-13)

‎1⃣ Kekuatan Firman Allah:

Ayat 12 menjelaskan bahwa firman Allah adalah "hidup dan kuat". Ini menunjukkan bahwa firman-Nya tidak hanya merupakan tulisan biasa, tetapi memiliki kekuatan transformasi yang nyata dalam hidup orang percaya. Kita diundang untuk mempelajari dan merenungkan firman-Nya karena ia mampu mengubah hati dan kehidupan kita.


‎2⃣ Ketajaman Firman:

Firman Allah diibaratkan seperti pedang bermata dua yang tajam. Ini berarti firman-Nya dapat menembus sangat dalam, membedakan antara apa yang lahiriah dan yang batiniah. Ia mampu menyentuh bagian terdalam dari jiwa dan roh kita, memunculkan hal-hal yang perlu diperbaiki dalam hidup kita.


‎3⃣ Akuntabilitas di Hadapan Allah: 

Pada ayat 13, dinyatakan bahwa tidak ada yang tersembunyi dari Allah. Setiap pikiran dan tindakan kita terlihat oleh-Nya. Ini mengingatkan kita untuk hidup dengan kesadaran bahwa kita harus memberikan pertanggungjawaban atas hidup kita kepada Tuhan. Menyadari ini dapat mendorong kita untuk hidup dengan integritas dan kedekatan dengan Allah.


‎➡️Refleksi Pribadi: 

▫️Mengajak diri kita untuk merenungkan: Sejauh mana kita membiarkan firman Allah memenuhi hidup kita? 

▫️ Apakah kita membuka hati untuk mendengarkan dan menerima pembenaran dari firman-Nya? 

▫️Bagaimana kita bisa lebih akuntabel di hadapan Allah dalam tindakan kita sehari-hari?

‎Melalui renungan ini, kita dapat mengingat betapa pentingnya firman Allah dalam kehidupan kita dan berkomitmen untuk lebih mendalami kebenaran-Nya. Semoga renungan ini memberkati dan memotivasi kita untuk terus mencari-Nya! CG YP🙏

Kasih yang Menantikan Kedatangan Tuhan

 Kasih yang Menantikan Kedatangan Tuhan (1 Korintus 16:22–24)


Firman Tuhan:

“Jika seorang tidak mengasihi Tuhan, terkutuklah ia. Maranata! Kasih karunia Tuhan Yesus menyertai kamu. Kasihku menyertai kamu sekalian dalam Kristus Yesus. Amin.”

(1 Korintus 16:22–24).


📝 Pendahuluan

Surat 1 Korintus ditutup dengan nada yang sangat tegas namun penuh kasih. Paulus tidak hanya mengakhiri surat dengan salam biasa, tetapi dengan peringatan rohani, pengharapan akan kedatangan Tuhan, dan berkat kasih karunia. Penutup ini menyingkapkan inti kehidupan Kristen: mengasihi Tuhan dan hidup dalam penantian akan kedatangan-Nya.


1⃣ Kasih kepada Tuhan adalah Ukuran Iman Sejati

Paulus berkata dengan keras: “Jika seorang tidak mengasihi Tuhan, terkutuklah ia.”

Ini bukan soal sekadar aktivitas rohani, pelayanan, atau pengetahuan Alkitab, melainkan relasi kasih dengan Kristus.

👉 Seseorang bisa aktif di gereja, tetapi tanpa kasih kepada Tuhan, semuanya menjadi kosong.

👉 Kasih kepada Tuhan tampak dalam ketaatan, kerinduan akan firman, dan kesetiaan dalam hidup sehari-hari.

Apakah aku hanya sibuk melakukan hal-hal rohani, atau sungguh mengasihi Tuhan dengan segenap hati?


2⃣ “Maranata” – Hidup Menantikan Tuhan

Kata “Maranata” berarti “Tuhan kami, datanglah!”.

Ini adalah seruan iman jemaat mula-mula yang hidup dengan kesadaran bahwa Yesus akan datang kembali.

👉 Orang yang mengasihi Tuhan tidak takut akan kedatangan-Nya

👉 Penantian akan Tuhan mendorong hidup yang kudus, setia, dan penuh pengharapan

Apakah hidupku mencerminkan orang yang siap menyambut kedatangan Kristus?


3⃣ Kasih Karunia Menyertai dan Menguatkan

Paulus menutup dengan berkat: “Kasih karunia Tuhan Yesus menyertai kamu.”

Ini menegaskan bahwa hidup Kristen tidak dijalani dengan kekuatan sendiri, melainkan oleh anugerah Tuhan.

👉 Kasih karunia memulihkan yang lemah

👉 Kasih karunia memampukan kita tetap setia sampai akhir. 

Bahkan Paulus menambahkan: “Kasihku menyertai kamu sekalian dalam Kristus Yesus.”

Teguran keras tidak menghilangkan kasih; justru kasih sejati berani menegur demi kebenaran.


⬇️ Penutup

1 Korintus 16:22–24 mengajak kita untuk:

▫️Mengasihi Tuhan dengan sungguh

▫️Hidup dalam penantian akan kedatangan Kristus

▫️Bersandar pada kasih karunia-Nya setiap hari


🛐 Doa:

Tuhan Yesus, ajar kami mengasihi Engkau lebih dari segalanya. Biarlah hidup kami siap menantikan kedatangan-Mu, dan dikuatkan oleh kasih karunia-Mu sampai akhir. Maranata. Amin. CG YP

Thursday, January 15, 2026

Kasih yang Berbeda

 Kasih yang Berbeda (Matius 5:46–47) 🌄🙋

“Apabila kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah upahmu? Bukankah pemungut cukai juga berbuat demikian? Dan apabila kamu hanya memberi salam kepada saudara-saudaramu saja, apakah lebihnya daripada perbuatan orang lain? Bukankah orang yang tidak mengenal Allah pun berbuat demikian?”

📝 Pendahuluan

Mengasihi orang yang baik kepada kita itu mudah. Namun Yesus mengajak murid-murid-Nya untuk hidup berbeda dari kebiasaan dunia. Standar Kerajaan Allah bukan sekadar “balas kebaikan dengan kebaikan,” melainkan kasih yang melampaui batas manusiawi.


Isi Renungan

1⃣ Kasih yang Biasa (ayat 46)

Yesus menegur sikap kasih yang bersyarat. Jika kita hanya mengasihi orang yang mengasihi kita, maka kasih itu tidak berbeda dari kasih orang berdosa. Kasih Kristen sejati tidak menunggu balasan.


2⃣ Iman yang Tampak dalam Tindakan (ayat 47)

Memberi salam kepada saudara sendiri adalah hal yang wajar. Namun pengikut Kristus dipanggil untuk menunjukkan iman lewat sikap yang nyata kepada semua orang—termasuk yang sulit, berbeda, atau menyakiti.


3⃣ Identitas Orang Percaya

Yesus menegaskan bahwa kehidupan orang percaya harus mencerminkan identitas sebagai anak-anak Allah. Kasih yang radikal adalah tanda bahwa Kristus benar-benar hidup di dalam kita.


➡️ Aplikasi Kehidupan

▫️Apakah kita hanya ramah kepada orang yang sepemikiran dengan kita?

▫️Maukah kita mengampuni orang yang menyakiti?

▫️Bisakah kita tetap mengasihi saat tidak dihargai?

Kasih seperti ini tidak lahir dari kekuatan manusia, tetapi dari hati yang dipenuhi Roh Kudus.


⬇️Penutup

Kasih yang diajarkan Yesus adalah kasih yang melampaui kebiasaan dunia. Ketika kita mengasihi tanpa syarat, dunia melihat perbedaan—dan Allah dimuliakan.


🛐 Doa Singkat

Tuhan, ajar kami mengasihi bukan dengan kasih kami sendiri, tetapi dengan kasih-Mu. Ubah hati kami supaya hidup kami memancarkan kasih Kristus di mana pun kami berada. Amin. CG YP

Dasar Alkitab: Kesombongan vs Kerendahan hati di Era Digital

  1. Dasar Alkitab: Perspektif Kekekalan Alkitab memandang kesombongan bukan sekadar perilaku buruk, melainkan masalah hati yang serius di h...