Sunday, July 13, 2025

Gereja yang Bertahan: Uang, Jabatan, atau Kristus?


Pandangan Alkitab tentang Gereja yang Bertahan: Uang, Jabatan, atau Kristus?

1. Fokus Gereja Sejati adalah Yesus Kristus

Alkitab dengan jelas menekankan bahwa fondasi gereja yang sejati adalah Kristus, bukan kekayaan atau jabatan:

- 1 Korintus 3:11 – "Karena tidak ada seorangpun yang dapat meletakkan dasar lain dari pada dasar yang telah diletakkan, yaitu Yesus Kristus."

- Matius 16:18 – "Di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya."

Uang, harta, dan nama besar bisa menjadi alat, tapi bukan dasar gereja yang sejati.

2. Peringatan Alkitab Tentang Ketergantungan pada Hal Duniawi

- Wahyu 3:17 (gereja di Laodikia): "Karena engkau berkata: Aku kaya dan aku telah memperkayakan diriku dan aku tidak kekurangan apa-apa..." — gereja ini ditegur karena kesombongan materi dan kehilangan kebergantungan kepada Kristus.

- 1 Timotius 6:10 – "Akar segala kejahatan ialah cinta uang."


3. Aplikasi bagi Gereja dan Orang Kristen Masa Kini

- Gereja dipanggil untuk mengandalkan Kristus dan firman-Nya sebagai pusat hidup dan pelayanan.

- Waspadai godaan mengukur kesuksesan gereja dari ukuran gedung, jumlah dana, atau popularitas hamba Tuhan.

- Umat Kristen harus menilai kehidupan bergereja dari kesetiaan pada Injil, kasih yang nyata, dan hidup dalam pertobatan.


Sumber Buku/Rekomendasi Studi:

- "The Purpose Driven Church" oleh Rick Warren (Gereja yang berpusat pada misi Kristus, bukan kesuksesan duniawi).

- "Nine Marks of a Healthy Church" oleh Mark Dever (Menekankan Injil, pengajaran sehat, dan pemuridan, bukan pertumbuhan eksternal semata).

- "Mengapa Gereja Ada?" oleh John Stott (Fokus pada gereja yang melayani Kristus di tengah dunia).

Pandangan Alkitab Pemimpin yang Meregenerasi


Pandangan Alkitab tentang Pemimpin yang Meregenerasi dan Aplikasinya bagi Pemimpin Rohani Masa Kini

1. Pandangan Alkitabiah:

Alkitab menekankan pentingnya regenerasi kepemimpinan, yaitu pemimpin yang membentuk dan mempersiapkan penerus yang setia dan berkarakter.

Contoh-contoh Alkitabiah:

- Musa
Yosua
(Bilangan 27:18-23): Musa menumpangkan tangan atas Yosua, membimbing dan menyerahkan kepemimpinan.

- Elia → Elisa (2 Raja-raja 2): Elia membentuk Elisa sebagai nabi pengganti yang setia.

- Yesus → Para Murid (Matius 28:19-20): Yesus memuridkan dan mempercayakan pelayanan pada murid-murid-Nya.

- Paulus → Timotius & Titus (2 Timotius 2:2): Paulus mengajar, memperlengkapi dan mempercayakan pelayanan kepada generasi berikutnya.


2. Prinsip-prinsip Regenerasi Kepemimpinan:

- Disiplin dan pembentukan karakter (1 Timotius 4:12)

- Pemuridan dan mentoring (2 Timotius 2:2)

- Pentransferan visi dan nilai (Ulangan 6:6-7; 1 Korintus 11:1)

- Pendelegasian tanggung jawab (Keluaran 18:21-23)


3. Aplikasi bagi Pemimpin Masa Kini:

- Membentuk pemimpin muda melalui pemuridan dan pelatihan rohani.

- Memberi ruang bagi generasi muda untuk bertumbuh dan melayani.

- Melibatkan mereka dalam keputusan pelayanan.

- Fokus bukan pada membangun nama sendiri, tapi membangun kerajaan Allah jangka panjang.


4. Sumber Buku & Referensi:

- John C. Maxwell, "The 21 Irrefutable Laws of Leadership" (khususnya Law of Legacy).

- J. Oswald Sanders, "Spiritual Leadership" — pembahasan soal pemimpin yang membina penerus.

- Bill Hull, "The Disciple-Making Pastor" — menekankan pemuridan dalam gereja.

- Howard & William Hendricks, "As Iron Sharpens Iron" — tentang mentoring rohani.



Thursday, July 10, 2025

Pandangan Alkitab tentang Penjara Hati & Penjara Fisik

Pandangan Alkitab tentang Penjara Hati & Penjara Fisik  

1. Penjara Fisik dalam Alkitab

Penjara secara fisik disebutkan sering dalam Alkitab:

- Yusuf dipenjara secara tidak adil (Kejadian 39:20-23), tetapi tetap setia dan akhirnya dipakai Tuhan.

- Yeremia dipenjara karena menyampaikan firman Tuhan (Yer. 37:15-16).

- Paulus & Silas dipenjara tetapi memuji Tuhan, lalu membebaskan kepala penjara (Kis. 16:25-34).

- Yesus sendiri diperlakukan seperti penjahat dan diadili secara tidak adil.

Makna: Penjara bukan akhir dari rencana Tuhan. Justru di tempat gelap, Tuhan sering nyatakan terang-Nya.

2. Penjara Hati

Penjara hati adalah kondisi batin yang terbelenggu oleh:

- Luka batin dan dendam (Efesus 4:31-32)

- Rasa bersalah dan malu (Mazmur 32:3-5)

- Ketakutan atau trauma masa lalu (Roma 8:15)

Yesus datang bukan hanya membebaskan tubuh, tapi jiwa yang terbelenggu:  

"Ia telah mengutus Aku... untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan..." (Lukas 4:18)


3. Aplikasi bagi Warga Kristen di Penjara

- Secara fisik: Meski terbelenggu, jiwa bisa bebas oleh pengampunan dan kasih karunia Kristus.

- Secara rohani: Penjara menjadi tempat perjumpaan dengan Tuhan (seperti Paulus & Silas).

 - Pemulihan batin: Melalui pertobatan dan pengampunan, hati yang terbelenggu bisa dipulihkan.

- Pelayanan di penjara: Jemaat bisa menjangkau napi dengan kasih, konseling, dan pendampingan iman.


Kesimpulan:  

Tuhan sanggup membebaskan, baik dari penjara fisik maupun penjara hati. Bagi warga Kristen di penjara, harapan tetap hidup bila hati percaya dan terbuka kepada Kristus. YP


Referensi Alkitab:

- Lukas 4:18  - Kejadian 39–41 (Yusuf)  - Kisah Para Rasul 16  - Yesaya 61:1  - Mazmur 142  

Referensi Buku:

- "Prison to Praise" – Merlin Carothers  

- "Strength to Love" – Martin Luther King Jr.  

- "Bound to Be Free: Escaping Performance to Be Captivated by Grace" – D.A. Horton


Tuesday, July 8, 2025

TINJAUAN ALKITABIAH: HUKUM GEREJA & HUKUM YURIDIS

TINJAUAN ALKITABIAH HUKUM GEREJA DALAM PERJANJIAN LAMA, PERJANJIAN BARU, DAN HUKUM POSITIF/YURIDIS SERTA APLIKASINYA BAGI ORANG KRISTEN MASA KINI


1. Hukum dalam Perjanjian Lama:

- Hukum Taurat (Torah): Merupakan dasar etika dan hukum sosial umat Israel (Keluaran 20; Imamat; Ulangan).

- Fungsi: Mengatur kehidupan rohani, sosial, ibadah, dan hubungan antar umat.

- Aplikasi: Menunjukkan standar kekudusan dan keadilan Allah, serta kebutuhan akan penebusan.


2. Hukum dalam Perjanjian Baru:

- Yesus sebagai Penggenap Hukum (Matius 5:17): Hukum kasih menggantikan hukum legalistik (Matius 22:37-40).

- Hukum Roh dan Kasih Karunia (Roma 8:2): Menekankan kasih, pengampunan, dan hidup dalam pimpinan Roh Kudus.

- Gereja mula-mula tetap menghormati struktur hukum, namun fokus pada kasih, kebenaran, dan disiplin jemaat (Kisah Para Rasul 15; 1 Korintus 5).


3. Hukum Gereja dan Hukum Positif/Yuridis:

- Roma 13:1-7: Paulus menasihati umat Kristen untuk tunduk pada pemerintah karena otoritas berasal dari Allah.

- Hukum gereja lokal (kanon, peraturan internal): Mengatur tata ibadah, organisasi, etika pelayan, dan disiplin jemaat.

- Hukum positif: Meliputi konstitusi, hukum pidana/sipil, hak asasi manusia — orang Kristen dipanggil untuk jadi warga negara yang baik selama hukum dunia tidak bertentangan dengan firman Tuhan (Kisah 5:29).

Hukum yuridis adalah sistem hukum yang berdasarkan pada peraturan perundang-undangan yang berlaku dan dapat diterapkan oleh lembaga hukum, seperti pengadilan. Hukum yuridis mencakup semua aspek hukum yang berkaitan dengan peraturan, norma, dan prosedur yang digunakan untuk menyelesaikan sengketa atau kasus hukum.

Hukum Yuridis memiliki beberapa karakteristik, seperti:

1. Berdasarkan peraturan perundang-undangan: Hukum yuridis berdasarkan pada peraturan perundang-undangan yang berlaku.

2. Dapat diterapkan oleh lembaga hukum: Hukum yuridis dapat diterapkan oleh lembaga hukum, seperti pengadilan.

3. Bersifat mengikat: Hukum yuridis memiliki kekuatan untuk mengikat masyarakat dan memberikan sanksi bagi mereka yang melanggarnya.

4. Menggunakan prosedur yang jelas: Hukum yuridis menggunakan prosedur yang jelas dan sistematis untuk menyelesaikan sengketa atau kasus hukum.

Contoh Hukum Yuridis termasuk:

- Hukum perdata

- Hukum pidana

- Hukum administrasi negara

- Hukum internasional

Hukum yuridis memainkan peran penting dalam menjaga ketertiban dan keamanan masyarakat, serta memberikan perlindungan bagi hak-hak individu.


4. Aplikasi bagi Orang Kristen Masa Kini:

- Memahami dan menaati hukum gereja sebagai bagian dari ketertiban dan kesaksian.

- Tunduk kepada pemerintah dan hukum negara, kecuali jika bertentangan dengan iman Kristen.

- Mempraktikkan kasih dan keadilan dalam relasi sosial sesuai prinsip Alkitabiah.


Referensi Buku:

- "Ethics for a Brave New World" – John S. Feinberg & Paul D. Feinberg  

- "Teologi Perjanjian Lama dan Baru" – Walter C. Kaiser Jr. & Thomas Schreiner  

- "Etika Kristen" – Louis Berkhof  

- "Gereja dan Negara" – R.C. Sproul  

- UU Organisasi Keagamaan di Indonesia – untuk konteks hukum positif


TINJAUAN ALKITABIAH: IBADAH DALAM PERJANJIAN LAMA, PERJANJIAN BARU

TINJAUAN ALKITABIAH: IBADAH DALAM PERJANJIAN LAMA, PERJANJIAN BARU & APLIKASINYA BAGI ORANG KRISTEN MASA KINI


1. IBADAH DALAM PERJANJIAN LAMA

Fokus: Ritual, simbol, korban binatang, tempat kudus (Kemah Suci/Bait Allah)  

Tujuan: Penyembahan, penebusan dosa, pemulihan hubungan dengan Allah  

Ciri khas:

- Imamat 1–7: Tata cara korban bakaran, korban keselamatan, dll.  

- Ibadah terpusat: di Kemah Suci/Bait Suci  

- Imam sebagai perantara  

- Hari-hari raya: Paskah, Hari Pendamaian (Imamat 23) 

> Ibadah diatur secara ketat untuk menyatakan kekudusan Allah dan kebutuhan manusia akan pengampunan.


2. IBADAH DALAM PERJANJIAN BARU

Fokus: Relasi pribadi melalui Kristus, dalam roh dan kebenaran  

Perubahan utama:

- Yohanes 4:23-24: Menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran  

- Ibrani 10:10-14: Yesus sebagai korban sempurna, menghapus sistem korban binatang  

- 1 Korintus 3:16: Orang percaya adalah Bait Allah  

- Ibadah menjadi gaya hidup (Roma 12:1)  

Ibadah bukan lagi terikat tempat atau ritual, tetapi hidup dalam penyerahan dan ketaatan kepada Kristus.


3. APLIKASI BAGI ORANG KRISTEN MASA KINI

- Ibadah bukan hanya hari Minggu → seluruh hidup adalah penyembahan

 - Kehadiran Tuhan → tidak tergantung tempat, tapi hati yang berserah  

- Menjaga kekudusan hidup (1 Petrus 1:15)  

- Melayani dan memberi dengan hati yang tulus (Ibrani 13:15-16)  

- Ibadah kolektif tetap penting (Ibrani 10:25)  


KESIMPULAN:

Ibadah dalam PL menekankan simbol dan ritual; dalam PB, berpusat pada Kristus dan hati yang menyembah dalam roh. Orang Kristen masa kini dipanggil hidup dalam penyembahan sejati—bukan hanya dalam liturgi, tetapi dalam setiap aspek kehidupan. YP


REFERENSI BUKU & SUMBER:

- Desiring God – John Piper  

- Worship Matters – Bob Kauflin  

- The Knowledge of the Holy – A.W. Tozer  

- The Spirit of the Disciplines – Dallas Willard  

- Teologi Sistematika – Louis Berkhof (topik: Ibadah & Penebusan)

KEHENDAK TUHAN ATAU KEHENDAK MANUSIA

TINJAUAN: KEHENDAK TUHAN ATAU KEHENDAK MANUSIA DALAM MELAYANI TUHAN DAN SESAMA


1. PENGANTAR  

Dalam pelayanan, sering muncul ketegangan antara mengikuti kehendak Tuhan atau menuruti kehendak pribadi/manusia. Melayani bukan sekadar aktivitas lahiriah, tapi ekspresi ketaatan dan penyerahan pada kehendak Allah.

2. KEHENDAK TUHAN DALAM PELAYANAN  

- Matius 6:10 – "Jadilah kehendak-Mu..."  

- Roma 12:2 – Kehendak Allah adalah yang baik, berkenan, dan sempurna.  

- Efesus 2:10 – Kita diciptakan untuk melakukan pekerjaan baik yang telah dipersiapkan Allah sebelumnya.  

Ciri pelayanan sesuai kehendak Tuhan:  

✓ Mendorong pertumbuhan rohani  

✓ Mengutamakan kasih, kebenaran, dan ketaatan  

✓ Tidak mencari pujian diri  


3. KEHENDAK MANUSIA DALAM PELAYANAN  

- Yohanes 5:44 – “Bagaimana kamu dapat percaya, kamu yang menerima hormat satu dari yang lain...?”  

- Pelayanan jadi bersifat ambisius, mementingkan nama pribadi, pencitraan, atau tradisi belaka.


4. TANDA MELAYANI DALAM KEHENDAK TUHAN  

✓ Penuh ketulusan dan kasih  

✓ Meninggikan Kristus, bukan diri  

✓ Siap dikoreksi dan tunduk pada Firman  

✓ Memberi dampak ilahi bagi sesama


5. APLIKASI PRAKTIS:  

- Berdoa meminta tuntunan sebelum melayani  

- Evaluasi motivasi hati (Kolose 3:23)

 - Berkonsultasi dengan pemimpin rohani  

- Siap mengoreksi arah saat menyimpang dari kehendak Allah


KESIMPULAN:  

Pelayanan sejati bukan hasil kehendak diri, melainkan hasil penyerahan pada kehendak Allah. Tuhan memanggil bukan hanya untuk aktif, tetapi untuk taat dan setia dalam kasih. YP


REFERENSI BUKU TEOLOGIS:  

- John Piper – Desiring God (tentang melayani karena kesukaan akan Tuhan)  

- Henry Blackaby – Experiencing God (mengenal kehendak Allah dan meresponsnya)  

- Rick Warren – The Purpose Driven Life (tentang hidup dan pelayanan yang berpusat pada Tuhan)  

- Charles Stanley – The Will of God  

- Norman Geisler – Systematic Theology (Vol. 3, bagian kehendak Allah)

Monday, July 7, 2025

Keluarga Kristen yang Harmonis dan Bahagia


TINJAU THEOLOGIS KELURGA YANG HARMONIS DAN BAHAGAI APLIKASINYA BAGI KELUARGA KRISTEN MASA KINI?

1. Dasar Teologis Keluarga dalam Alkitab:

- Institusi ilahi: Keluarga adalah rancangan Tuhan sejak awal (Kejadian 2:24).

- Pusat pertumbuhan iman: Keluarga adalah tempat pertama pendidikan rohani (Ulangan 6:6-7). Mazmur 128: Keluarga yang takut akan Tuhan akan diberkati, hidup dalam damai, dan mengalami kebahagiaan dalam pekerjaan dan keturunan.

- Cerminan relasi Kristus dan Jemaat: Pernikahan dan keluarga mencerminkan kasih, kesetiaan, dan pengorbanan Kristus (Efesus 5:22-33).


2. Ciri-ciri Keluarga Harmonis dan Bahagia menurut Alkitab:

- Kasih yang rela berkorban (1 Korintus 13:4-7)

- Komunikasi yang jujur/terbuka dan saling menghargai/penuh kasih (Efesus 4:15, 29)

- Pengampunan dan kerendahan hati (Kolose 3:13)

- Peran yang dijalankan sesuai kehendak Tuhan: Suami sebagai kepala (Efesus 5:23), istri sebagai penolong (Kej. 2:18), anak-anak taat dan dihargai (Efesus 6:1-4)

- Yesus Kristus sebagai pusat rumah tangga

- Kasih dan pengampunan menjadi dasar relasi

- Komitmen dalam doa dan ibadah bersama

- Peran ayah, ibu, dan anak dijalankan sesuai Alkitab (Efesus 6:1-4)


3. Aplikasi bagi Keluarga Kristen Masa Kini:

- Doa dan firman sebagai pusat hidup keluarga: Luangkan waktu untuk doa keluarga dan pembacaan Alkitab. Membangun altar keluarga (doa & firman bersama)

- Prioritaskan hubungan, bukan hanya rutinitas: Jangan sibuk dengan aktivitas duniawi dan lupa membangun komunikasi rohani dan emosional.

- Terapkan kasih Kristus di rumah: Belajar mengampuni, bersabar, dan mengasihi tanpa syarat.

 - Didik anak dengan nilai iman: Libatkan anak dalam pelayanan, beri teladan hidup takut akan Tuhan.

- Mengutamakan waktu bersama, bukan hanya pencapaian materi

- Menghadapi tantangan zaman (media sosial, gaya hidup modern) dengan nilai Alkitab

- Pendidikan iman sejak dini kepada anak-anak (Amsal 22:6)


Kesimpulan:  

Keluarga harmonis dan bahagia bukan sekadar soal kenyamanan, tapi hasil dari ketaatan pada rancangan Allah. Dengan membangun keluarga berdasarkan kasih Kristus, firman Tuhan, dan hidup dalam doa, keluarga Kristen masa kini bisa menjadi saksi nyata bagi dunia. YP


Sumber Buku / Referensi Teologis:

- "The Family: A Christian Perspective on the Contemporary Home" oleh Jack & Judith Balswick  

- "Keluarga Kristen dan Iman yang Hidup" oleh R.A. Torrey  

- "Membangun Keluarga Kristen yang Sehat" – Dr. Stephen Tong  

- "Sacred Marriage" – Gary Thomas  

- Alkitab LAI (Lembaga Alkitab Indonesia)


Sunday, July 6, 2025

Pandangan Alkitab dan Kebudayaan Indonesia serta Relevansinya bagi Umat Tuhan Masa Kini



Pandangan Alkitab dan Kebudayaan Indonesia serta Relevansinya bagi Umat Tuhan Masa Kini


1. Pandangan Alkitab tentang Kebudayaan:

Alkitab tidak menolak kebudayaan, tetapi mengajarkan bahwa segala bentuk budaya harus tunduk dan disaring melalui kebenaran firman Tuhan (Roma 12:2; Kolose 2:8). Budaya manusia bisa menjadi sarana mengekspresikan kemuliaan Allah, tetapi juga bisa menjadi saluran penyimpangan bila bertentangan dengan nilai-nilai Kerajaan Allah.


2. Kebudayaan Indonesia:

Kaya dengan nilai gotong royong, hormat pada orang tua, toleransi, dan semangat kekeluargaan. Namun, juga terdapat unsur yang tidak selaras dengan Alkitab, seperti sinkretisme, praktik klenik, atau adat yang menghambat pertobatan sejati.


3. Relevansi bagi Umat Tuhan Masa Kini:

- Penyaringan budaya: Umat Tuhan dipanggil untuk memelihara nilai budaya yang baik (Filipi 4:8), dan meninggalkan yang bertentangan dengan kebenaran firman.

- Menjadi terang dalam budaya: Orang percaya dipanggil untuk mempengaruhi, bukan dipengaruhi budaya (Matius 5:14-16).

- Inkulturasi yang sehat: Injil bisa dinyatakan dalam budaya lokal tanpa mencemarkan kemurnian kebenaran.


Kesimpulan:

Budaya Indonesia harus dilihat dan dipakai sebagai sarana menyatakan Kristus, namun harus disaring dan ditundukkan di bawah otoritas firman Tuhan. Umat Kristen dipanggil menjadi garam dan terang, membawa pengaruh Injil dalam budaya, bukan menyesuaikan diri secara buta. YP

Thursday, July 3, 2025

Pandangan Alkitab tentang Pernikahan Kristen dengan Pengaruh Media Sosial


Pandangan Alkitab tentang Pernikahan Kristen

dengan Pengaruh Media Sosial Alkitab Tentang Pernikahan:

1. Lembaga Ilahi 

📖Kejadian 2:24: "Sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya menjadi satu daging."  "Pernikahan adalah rancangan Allah, sakral, dan untuk seumur hidup."

2. Cinta Kasih dan Kesetiaan 

📖 Efesus 5:25: "Hai suami, kasihilah isterimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat." "Kasih dalam pernikahan harus rela berkorban dan setia."

3. Komitmen dan Tanggung Jawab 

📖 1 Korintus 7:3-4: Masing-masing pasangan harus memenuhi tanggung jawab satu sama lain dalam kasih dan hormat.

📲Pengaruh Media Sosial terhadap Pernikahan Kristen:

✳️Positif:

🟢 Menambah pengetahuan dan inspirasi rohani (renungan, khotbah keluarga).

🟢 Sarana komunikasi yang cepat antara pasangan.

🟢 Alat promosi kesaksian pernikahan Kristen yang sehat.

Negatif:

1. Perbandingan dan Ketidakpuasan

🌀Melihat "pernikahan ideal" di media bisa menimbulkan iri, kecewa, dan ekspektasi tidak realistis.

2. Gangguan Waktu dan Intimasi

🌀Terlalu sibuk di media sosial bisa merusak komunikasi dan keintiman nyata.

3. Godaan dan Ketidaksetiaan

🌀DM, chatting rahasia, dan hubungan online bisa jadi celah perselingkuhan.

Sikap Kristen:

💠 Filipi 4:8: "Pikirkanlah segala sesuatu yang benar, mulia, adil, suci..."

💠Gunakan media sosial dengan bijak, terbuka satu sama lain.

💠Prioritaskan komunikasi langsung, bukan hanya digital.

💠Jadikan Kristus pusat hubungan, bukan validasi dari media.

📝Kesimpulan: 

Media sosial bisa jadi berkat atau ancaman bagi pernikahan. Pernikahan Kristen harus berakar dalam firman Tuhan, bukan "like & followers", dan dijaga dengan iman, kasih, dan integritas. YP

Sumber: ayat Alkitab, Buku AI, blog


Apa itu Perisai dan Relevansi bagi Umat Kristen Masa Kini?

 Apa itu Perisai dan Relevansi bagi Umat Kristen Masa Kini?


Apa itu Perisai dan Relevansi bagi Umat Kristen Masa Kini?

Perisai dalam Alkitab adalah lambang perlindungan, keamanan, dan pertolongan dari Tuhan. Secara harfiah, perisai adalah alat pelindung dalam peperangan. Secara rohani, Tuhan disebut sebagai "perisai" bagi umat-Nya.


Dasar Alkitab:

- Mazmur 3:4 – “Tetapi Engkau, ya TUHAN, adalah perisai yang melindungi aku...”

- Efesus 6:16 – “...perisai iman, yang dengan itu kamu akan dapat memadamkan semua panah api dari si jahat.”


Makna Rohani:

1. Tuhan adalah Perlindungan: Dalam tekanan, kesulitan, atau ancaman, umat percaya dapat berlindung pada Tuhan.

2. Iman sebagai Perisai: Dalam Perjanjian Baru, iman yang teguh menjaga kita dari tipu daya dan serangan Iblis.

3. Simbol Keamanan Jiwa: Perisai menggambarkan jaminan bahwa Allah melindungi umat-Nya secara pribadi dan rohani.


Relevansi bagi Umat Kristen Masa Kini:

- Dalam dunia penuh tekanan, perisai Tuhan adalah kekuatan mental & rohani.

- Ketika menghadapi fitnah, pencobaan, atau ketakutan, iman menjadi perisai untuk tetap berdiri teguh.

- Doa, firman Tuhan, dan keintiman dengan-Nya adalah cara kita memegang "perisai" itu.


Kesimpulan:

Perisai bagi orang Kristen bukan benda fisik, tapi iman dan kepercayaan akan perlindungan Allah yang nyata dalam setiap situasi hidup. Tuhan tak pernah lepas tangan dari umat-Nya. YP

Allah Mendengar Seruan Umat-Nya

 


Allah Mendengar Seruan Umat-Nya (Mazmur 17:6–8)  

"Aku berseru kepada-Mu, karena Engkau menjawab aku, ya Allah; sendengkanlah telinga-Mu kepadaku, dengarkanlah perkataanku! Tunjukkanlah kasih setia-Mu yang ajaib, ya Engkau yang menyelamatkan orang-orang yang berlindung pada tangan kanan-Mu terhadap orang-orang yang melawan. Peliharalah aku seperti biji mata, sembunyikanlah aku dalam naungan sayap-Mu."


1. Seruan yang Penuh Iman (ayat 6)  

Daud yakin bahwa Tuhan mendengar. Ia tidak hanya berharap, tapi percaya Engkau menjawab aku. Dalam pergumulan hidup, iman seperti ini yang harus kita pegang.


2. Permohonan akan Kasih Setia (ayat 7)  

Daud memohon perlindungan dari Tuhan yang setia. Dia sadar bahwa keselamatan sejati hanya datang dari Allah yang membela umat-Nya. Ini mengajarkan kita untuk bersandar pada kasih karunia Tuhan, bukan kekuatan sendiri.


3. Perlindungan yang Intim dan Lembut (ayat 8)  

Permintaan "peliharalah aku seperti biji mata" menunjukkan betapa berharganya umat Tuhan di mata-Nya. Di balik kuasa-Nya yang besar, ada kelembutan kasih yang menaungi seperti sayap induk burung.


Refleksi:  

- Sudahkah kita datang kepada Tuhan dengan keyakinan seperti Daud?

- Apakah kita menyadari bahwa kita begitu berharga di mata-Nya?

- Mari berlindung di dalam kasih setia-Nya, yang sanggup menjaga kita dari segala bahaya. YP

Wednesday, July 2, 2025

Kasih Allah yang Kekal (Yeremia 31:1–3)

 

Kasih Allah yang Kekal (Yeremia 31:1–3)  

"Pada waktu itu, demikianlah firman TUHAN, Aku akan menjadi Allah bagi segala kaum keluarga Israel dan mereka akan menjadi umat-Ku. Beginilah firman TUHAN: Bangsa yang terluput dari pedang telah mendapat kasih karunia di padang gurun; Israel berjalan mencari perhentian bagi dirinya. Dari jauh TUHAN menampakkan diri kepadanya: Aku mengasihi engkau dengan kasih yang kekal, sebab itu Aku melanjutkan kasih setia-Ku kepadamu."


💠Allah Tetap Setia (ayat 1)  

Meskipun Israel gagal dan jatuh, Tuhan tetap menyatakan, "Aku akan menjadi Allah mereka." Ini menunjukkan kesetiaan-Nya yang tidak berubah. Tuhan tidak membuang umat-Nya.


💠Kasih Karunia di Tengah Penderitaan (ayat 2)  

Bangsa yang "terluput dari pedang" tetap mengalami kasih karunia. Dalam kesesakan, Allah tetap menyertai dan menyediakan pemulihan. Bahkan di padang gurun, kasih-Nya nyata.


💠 Kasih yang Kekal dan Tidak Berubah (ayat 3)  

Ayat ini adalah inti dari penghiburan: "Aku mengasihi engkau dengan kasih yang kekal." Bukan kasih yang sementara, tapi kasih yang tidak terbatas waktu. Tuhan berjanji untuk melanjutkan kasih setia-Nya.


Aplikasi Renungan:

- Kasih Tuhan tidak tergantung pada kondisi kita; Ia tetap mengasihi walau kita lemah.

- Ketika kita merasa jauh atau di “padang gurun” kehidupan, Tuhan tetap dekat.

- Mari hidup dengan yakin bahwa kasih setia-Nya terus dilanjutkan atas hidup kita hari ini.CG YP

PEMIMPIN MUDA KRISTEN:


PEMIMPIN MUDA KRISTEN: 

Perspektif Alkitab & Tantangan Pandangan Dunia

1. Perspektif Alkitab tentang Pemimpin Muda:

Alkitab tidak meremehkan usia muda dalam kepemimpinan, justru banyak tokoh besar dipakai Tuhan sejak muda:


💠Yeremia (Yer. 1:6-7): Saat dipanggil, Yeremia merasa terlalu muda, tapi Tuhan berkata, "Jangan katakan: Aku ini masih muda."

💠Timotius (1 Tim. 4:12): Paulus menasihati, "Jangan seorang pun menganggap engkau rendah karena engkau muda." Ia diminta menjadi teladan dalam iman, kasih, dan perkataan.

💠Daud: Diurapi menjadi raja saat masih muda (1 Sam. 16), karena Tuhan melihat hati, bukan usia atau penampilan (1 Sam. 16:7).

💠Daniel & teman-temannya: Dipakai Tuhan dalam posisi kepemimpinan di Babel saat masih muda (Dan. 1–2).


2. Pandangan Dunia yang Meremehkan:

🌀Dunia cenderung mengukur kepemimpinan dari usia, pengalaman panjang, atau status sosial.

🌀 Anak muda dianggap belum matang, emosional, atau belum cukup bijak.

🌀Namun seringkali, dunia lupa bahwa visi, semangat, dan keberanian juga dapat membawa perubahan besar — kualitas yang sering dimiliki oleh pemuda.


3. Tanggapan Kristen:

♻️Karakter lebih penting dari usia. Fokus membangun integritas, kerendahan hati, dan hidup yang dipimpin Roh Kudus.

♻️Jangan minder, tapi tetap belajar. Bersikap teachable dan hormat kepada pemimpin rohani senior.

♻️ Jadi teladan dalam hidup, bukan hanya kata. Seperti Timotius, jadi teladan dalam iman, kasih, dan kekudusan (1 Tim. 4:12).


4. Kesimpulan:

Tuhan tidak menunggu kita “cukup umur” untuk memakai kita. Yang Tuhan cari adalah hati yang mau taat, hidup yang kudus, dan kerendahan untuk dibentuk. Dunia boleh meremehkan, tapi Tuhan memanggil dan memperlengkapi! YP


Sumber: Ayat Alkitab, Buku AI, Blogyespen

Friday, March 7, 2025

Gema Pengampunan di tengah Dendam Membara (Matius 18:12-35)

 Gema Pengampunan di tengah Dendam Membara (Matius 18:12-35)

Pelampiasan dendam semakin sering mewarnai surat kabar, media, dan berita televisi. Nada ketidakpuasan, iri hati, kekecewaan, sakit hati, dan kehilangan, bagai api menyulut bensin, tak seorang pun kuasa memadamkan. Demikianlah keadaan masyarakat kita yang mudah digiring kepada dendam membara, bahkan seringkali tanpa pemahaman yang jernih akan duduk permasalahannya. Masihkah gema pengampunan terdengar di tengah dendam membara? 


Kita yakin bahwa gema pengampunan masih harus terus diperdengarkan, tidak akan luntur ditelan zaman, karena misi-Nya belum tuntas. Masih banyak jiwa yang tersesat yang harus dibawa-Nya pulang. Perumpamaan Yesus tentang seekor domba yang hilang membuktikan bagaimana misi penyelamatan itu tidak pernah pudar, satu jiwa pun sangat berharga di mata-Nya. Ia tidak pernah meremehkan atau mendiskriminasi seorang manusia pun, karena setiap jiwa yang tersesat akan dicari, sehingga meluaplah sukacita-Nya ketika jiwa yang tersesat itu kembali pulang. Setiap orang yang telah ditemukan-Nya juga akan memiliki beban yang dalam melihat jiwa-jiwa yang masih tersesat. Oleh karena itu ketika kita, anak-anak Tuhan, melihat saudara kita berbuat dosa, harus mengupayakan segala cara untuk menyadarkannya dan menyerahkannya kembali kepada Tuhan. Bapa di surga juga akan bekerja di tengah- tengah kita yang sepakat berdoa bagi pertobatannya. 


Gema pengampunan antar sesama, bukan berdasarkan kebaikan, kemurahhatian, kesabaran, dan belas kasih kita kepada orang lain, namun semata-mata karena anugerah pengampunan-Nya telah dinyatakan terlebih dahulu bagi kita. Sesungguhnya tak ada alasan bagi kita untuk tidak memaafkan orang lain karena kesalahannya pada kita tidak dapat dibandingkan dengan dosa kita. Jika Ia telah menganugerahkan pengampunan bagi kita, adakah kita berhak menahan pengampunan bagi orang lain yang bersalah pada kita? Hutang kita telah dilunaskan, masihkah kita menuntut orang yang telah memohon pelunasan hutangnya kepada kita? Adakah kita lebih besar dan lebih berkuasa dari Tuhan?


Renungkan: Masih banyak saudara kita yang membutuhkan pengampunan-Nya, masihkah anugerah pengampunan-Nya bergema dalam hidup kita melalui sikap kita mengampuni orang lain? SH

Jujur di hadapan Allah (Mazmur 42:1-43:1-5)

 Jujur di hadapan Allah (Mazmur 42:1-43:1-5)


Kedua pasal mazmur ini diikat oleh pertanyaan, "Mengapa engkau tertekan, hai jiwaku, dan (mengapa engkau) gelisah di dalam diriku?" (42:6a, 12a; 43:5a). Pengulangan ini menunjukkan keadaan pemazmur yang sungguh-sungguh tertekan.

Ada dua penyebab yang membuat hal ini terjadi. 

✅Pertama, ia merasa bahwa Allah meninggalkannya (42:10; 43:2). Dia tidak lagi menikmati relasi yang hangat dan intim dengan Allah (42:2). Dia hanya bisa mengingat pengalamannya beribadah kepada Tuhan (42:5).

✅Kedua, para lawan mencela dengan pertanyaan ejekan, "Di mana Allahmu?" (42:4, 11). ini masalah bersarnya.

Sekalipun demikian, pemazmur tidak berupaya mencari jawaban untuk menghadapi lawan. Sebaliknya, ia kembali kepada Allah. Tiga kali ia bertanya, tiga kali pula ia berseru, "Berharaplah kepada Allah!" (42:6b, 12b; 43:5b). Ini menunjukkan keteguhan hati sekaligus imannya.

Pemazmur mengenal Allah sebagai Allah yang penuh kasih setia (42:9), menjadi gunung batu (42:10), tempat pengungsian (43:2), serta sukacita dan kegembiraan (43:4). Allah sendiri yang akan menuntun ke tempat kediaman-Nya dan menikmati keintiman dengan-Nya (43:3-4).

Berbagai masalah dapat menimbulkan stres, kepanikan, ketakutan, kekhawatiran, hingga perasaan tak berdaya. Ini bisa terjadi pada siapa saja. Kita bisa merasa kesepian, tetapi yang utama adalah kita datang dan berharap kepada Allah, satu-satunya penolong yang maha pengasih dan mahakuasa. Yang perlu kita lakukan adalah bersikap jujur di hadapan-Nya.

Musa mengakui bahwa beban dalam memimpin bangsa Israel terlalu berat baginya (Bil. 11:14-15). Elia mengungkapkan ketakutannya untuk menghadapi Izebel (1Raj. 19:4). Bahkan Yesus mengakui bahwa hati-Nya sangat sedih seperti mau mati rasanya (Mat. 26:38). Di tengah kejujuran itulah ada pertolongan Allah yang penuh belas kasihan.

📝Janganlah kita takut untuk mengungkapkan kerapuhan diri kita di hadapan Allah dan jangan takut juga untuk terus berharap kepada-Nya. Jujur dan terbukalah kepada Tuhan! Dia Penolong kita. [JMH]

Memberi dengan Sukacita & dengan Sepenuh Hati (2 Korintus 9:1-15)

Memberi dengan Sukacita & dengan Sepenuh Hati (2 Korintus 9:1-15)


Seorang petani yang menabur benih, akan kehilangan benih itu ketika benih itu jatuh dari tangannya. Namun benih itu tidak hilang begitu saja, karena ada harapan bahwa benih itu akan memberikan hasil yang berlipat ganda dikemudian hari. Jika si petani ingin terus menggenggam benih itu maka ia hanya akan memanen sedikit hasil. Sementara petani yang melepaskan lebih banyak benih akan menghasilkan panen lebih banyak pula.

Jemaat Korintus pernah menyatakan kesiapan mereka untuk membantu jemaat miskin di Yerusalem (2b). Kesiapan mereka malah merangsang orang lain untuk melakukan hal yang sama (2c). Sikap jemaat Korintus membuat Paulus membanggakan mereka di hadapan jemaat Makedonia. Namun seiring perjalanan waktu, mereka tidak melaksanakan janji tersebut. Berarti, mereka tidak sepenuh hati ingin membantu jemaat miskin itu. Itu sebabnya Paulus mendesak agar mereka mewujudkan komitmen mereka. Kini Paulus membalik posisi jemaat Korintus, dengan menyebut-nyebut jemaat Makedonia untuk membangkitkan rasa malu mereka (4). Karena itu Paulus meminta Titus dan saudara-saudara yang lain untuk pergi mendahuluinya ke Korintus, dengan harapan agar jemaat Korintus memenuhi janji mereka untuk mengumpulkan bantuan bagi jemaat Yerusalem (5). 

Dengan memberikan persembahan secara benar, jemaat Tuhan belajar prinsip anugerah dan keajaiban pemeliharaan Allah. 

✅Pertama, dengan bersikap murah hati dalam memberi, jemaat akan beroleh kemurahan hati Allah (6). 

✅Kedua, orang Kristen harus memberi dengan sukarela bukan terpaksa (7). 

✅Ketiga, Allah tahu pengorbanan orang yang memberikan persembahan. Ia memelihara mereka (8-11). 

✅Keempat, memberi sebagai wujud perhatian dan kasih kepada jemaat yang perlu, dan sebagai ungkapan syukur kepada Allah (12-14). 

Di Indonesia kini ada cukup banyak gereja yang mengalami kemiskinan rohani karena kesulitan finansial. Kita perlu peduli terhadap kesulitan mereka. Sebagai tubuh Kristus, satu menderita semua turut menderita. Kita perlu memikirkan dan mengusahakan agar sesama saudara seiman kita juga boleh mendapatkan berbagai sarana yang dapat membantu mereka bertumbuh dalam firman dan berkembang dalam aspek-aspek kehidupan lainnya. 

Pemberian yang terbaik bagi pelayanan dan pembangunan jemaat adalah pemberian yang dilandasi keterbukaan dan tanpa paksaan. Tuhan tidak melihat besar kecilnya persembahan, melainkan motivasi dan ketulusan hati kita dalam memberi. Jangan pernah hitung-hitungan dengan Tuhan, apalagi menahan berkat yang seharusnya kita salurkan kepada yang berhak menerima. Ketika kita memberi dengan kasih maka kita akan memperoleh kelimpahan anugerah dari Allah. Kiranya Allah memperkaya kita dengan kerinduan untuk menjadi berkat.

Renungkan: Jika Anda pernah berjanji dan menyatakan kesiapan untuk membantu pendanaan, lakukanlah dengan sepenuh hati. SH

Friday, February 28, 2025

Kaum Rebahan (Amsal 6:1-19)

Kaum Rebahan (Amsal 6:1-19)

Kaum rebahan merupakan istilah masa kini yang menggambarkan aktivitas anak muda yang kerjaannya berbaring sepanjang hari. Istilah kaum rebahan makin populer pada masa kini seiring dengan kemajuan media sosial dan juga banyaknya game online di gawai mereka masing-masing.


Namun, aktivitas rebahan ternyata tidak hanya populer pada masa kini. Sejak zaman Perjanjian Lama, aktivitas rebahan sudah menjadi kebiasaan anak-anak muda. Penulis Amsal mengatakan aktivitas rebahan sebagai bentuk kemalasan. Penulis menggambarkannya dengan beberapa sindiran yang menohok, antara lain menyuruh pemalas untuk belajar kepada semut (6); berbaring terus, setelah bangun kembali mengantuk (9-10).


Selain menyindir kaum rebahan, penulis Amsal juga menuliskan konsekuensi yang akan menimpa kehidupan anak muda jika kemalasan itu terus berlanjut. Pertama, anak muda yang malas akan menjadi miskin (11). Kemiskinan itulah yang menjadi sumber persoalan kehidupan anak muda. Kedua, anak muda bisa saja terjerat hutang dan menjadi seorang budak bagi sesamanya. Belum lagi, kemiskinan yang diakibatkan kemalasan juga akan merembet pada dosa-dosa yang lainnya (12-19). Oleh karena itulah, penulis Amsal menasihati anak muda dengan nada geram, agar anak muda jangan sampai hidup dalam kemalasan.


Kemalasan masih relevan dengan persoalan kita pada masa kini. Berbagai penelitian telah membuktikan bahwa persoalan ekonomi menjadi sumber konflik antar keluarga, teman, dan sesama manusia. Oleh karena itu, kemiskinan harus dicegah sedini mungkin. Pencegahan dapat dimulai dengan membuang kemalasan.


Kemiskinan berkorelasi dengan kemalasan. Penulis Amsal memerintahkan kita untuk belajar dari semut, yang meskipun lemah, tetapi tidak pernah malas bekerja. Nasihat itu mengajak kita untuk mengasah perikemanusiaan. Kemiskinan membuat kita rentan terhadap kekerasan, baik sebagai korban maupun pelaku. Karena itu, ikuti Amsal, buanglah kebiasaan rebahan. [YGM]



Baca Gali Alkitab 6


Amsal 5:1-6


Kita melihat sang ayah dalam teks ini menasihati anaknya untuk menghindari perempuan jalang yang dapat menghancurkan keluarganya. Kembali sang ayah meminta anaknya untuk memerhatikan hikmatnya, yaitu hikmat yang dia dapat dari Allah. Sang ayah menginginkan anaknya berpegang pada kebijaksanaan dan bibirnya memelihara pengetahuan. Maksudnya, supaya sang anak dapat bertindak bijaksana. Walaupun biasanya bibir mengacu pada perkataan dan bukan pada perbuatan, tetapi bibir dapat dipakai juga untuk mencium, dan dengan sengaja dikaitkan dengan bibir perempuan jalang.


Namun, apa yang kelihatan begitu menggiurkan ternyata mematikan. Karena bibir yang meneteskan madu kemudian terasa pahit seperti empedu, dan justru mematikan karena tajam seperti pedang bermata dua. Perlu kita ketahui bahwa relasi dengan perempuan jalang akan membawa kematian, karena ia tidak mengetahui jalan kehidupan.


Apa saja yang Anda baca?

1. Mengapa kita perlu memerhatikan hikmat? (1, 2)

2. Apa sajakah yang tertulis mengenai perempuan jalang? (3-6)


Apa pesan yang Allah sampaikan kepada Anda?

1. Adakah perintah dari Tuhan yang berkaitan dengan kesetiaan terhadap pasangan hidup tetap Anda taati sampai hari ini? Apa saja alasan Anda menaati perintah Tuhan tersebut?

2. Adakah peringatan yang diberikan penulis amsal juga berlaku bagi Anda? Apa sajakah itu?


Apa respons Anda?

1. Adakah Anda mengalami pergumulan dalam hal kesetiaan terhadap pasangan hidup? Jika ya, maukah Anda berdoa dan menjadi bijak dalam mencari solusinya di dalam Tuhan?

2. Bagaimana cara Anda membangun tekad untuk tetap setia terhadap pasangan hidup Anda?


Pokok Doa:

Mendoakan keutuhan keluarga, kebahagiaan, kesejahteraan, keharmonisan, dan kedamaian keluarga.

Didikan & Teguran Amsal 12:1-3

Didikan & Teguran Amsal 12:1-3

Ayat 1: "Siapa mencintai didikan, mencintai pengetahuan; tetapi siapa membenci teguran, adalah dungu."


Dalam kehidupan ini, kita semua membutuhkan didikan dan teguran. Amsal 12:1 mengingatkan kita bahwa orang yang mencintai didikan adalah orang yang terbuka untuk belajar dan berkembang. Menerima teguran bukanlah sesuatu yang mudah, namun teguran adalah cara Tuhan untuk membentuk kita menjadi pribadi yang lebih baik. Jika kita menolak teguran atau tidak mau belajar, kita sebenarnya menutup diri dari pertumbuhan dan menjadi orang yang dungu.


Sebagai orang Kristen, kita diajar untuk terbuka terhadap Firman Tuhan yang dapat menegur kita dan memperbaiki hidup kita. Bila kita tidak menerima teguran atau peringatan, kita akan terjebak dalam kebodohan dan kesalahan yang bisa merugikan diri kita sendiri. Amsal ini mengingatkan kita untuk selalu memiliki hati yang lapang dan siap ditegur untuk kebaikan kita.

Ayat 2: "Orang baik dikenan TUHAN, tetapi si penipu dihukum-Nya."

Ayat ini menunjukkan bahwa hidup yang baik dan benar di hadapan Tuhan akan membawa keridaan-Nya. Orang baik yang hidup dengan integritas dan kasih akan dikenan oleh Tuhan. Sebaliknya, orang yang hidup dengan kebohongan dan penipuan akan menerima hukuman Tuhan. Tuhan selalu melihat motif dan hati kita dalam setiap tindakan kita.


Menjalani hidup yang jujur dan benar tidak selalu mudah, tetapi itu adalah cara untuk memperoleh berkat dan keridaan Tuhan. Sebagai orang percaya, kita dipanggil untuk hidup dalam kebenaran, karena hanya dengan begitu kita dapat mengalami kedamaian dan berkat-Nya dalam hidup kita. Kejujuran dan integritas adalah dasar dari kehidupan yang dikenan oleh Tuhan.


Ayat 3: "Orang tidak akan tetap tegak karena kefasikan, tetapi akar orang benar tidak akan goncang."

Amsal 12:3 mengingatkan kita bahwa hidup yang dibangun di atas kefasikan atau kejahatan tidak akan tahan lama. Kita tidak dapat mengandalkan kehidupan yang penuh dengan kebohongan dan kejahatan. Namun, orang yang hidup benar, yang berakar pada kebenaran Tuhan, akan tetap teguh dan tidak tergoncang, seperti akar pohon yang kokoh.


Orang benar akan mendapatkan kekuatan dan keteguhan dari Tuhan, bahkan dalam masa-masa sulit. Meskipun banyak tantangan dan cobaan dalam hidup ini, orang yang hidup benar akan tetap berdiri teguh karena Tuhan adalah penopang dan pelindungnya.


Aplikasi Hidup:

- Mencintai Didikan: Kita harus selalu terbuka terhadap teguran dan didikan yang membangun. Jangan menolak teguran, karena itu adalah cara Tuhan untuk membawa kita lebih dekat kepada-Nya. Terimalah pembinaan dalam hidup kita agar bisa terus bertumbuh dan berkembang dalam iman.

- Menjalani Hidup dalam Kejujuran dan Integritas: Pilihlah untuk hidup dengan kebenaran, karena hidup yang jujur di mata Tuhan akan mendatangkan berkat dan keridaan-Nya. Hindari segala bentuk penipuan dan kejahatan karena Tuhan akan menghukum mereka yang hidup dalam kefasikan.

- Teguh dalam Kebenaran: Ketika kita hidup dengan akar yang dalam di dalam Tuhan, kita akan tetap teguh dan tidak tergoyahkan. Dalam segala tantangan hidup, kita dapat percaya bahwa Tuhan akan meneguhkan dan melindungi kita jika kita hidup di dalam kebenaran-Nya.


Doa:

Tuhan, terima kasih atas didikan dan teguran-Mu yang selalu membimbing kami menuju kebenaran. Tolong kami untuk selalu terbuka terhadap Firman-Mu dan menerima teguran dengan hati yang penuh kerendahan hati. Berikan kami kekuatan untuk hidup jujur dan menjalani hidup yang dikenan oleh-Mu, agar kami tetap teguh dalam setiap keadaan. Dalam nama Yesus, amin. CGPT

Mari kita akan Hidup (Amos 5:1-6)

Mari kita akan Hidup (Amos 5:1-6)



Pernahkah Anda mendengar seseorang meratap? Ratapan biasanya terdengar di rumah-rumah duka. Itu adalah cara orang mengungkapkan kerinduan sekaligus perkabungannya.


Akibat ketidakadilan sosial dan kekerasan yang merajalela di ibu kota Samaria, Tuhan menjatuhkan hukuman yang keras kepada Israel. Negeri itu ditanduskan. Orang-orangnya dibuang ke pengasingan. Begitu sedikit yang tersisa (3). Hanya orang yang tua, lemah, sakit, dan cacat yang dibiarkan mengembara di reruntuhan kota-kota Israel. Hal itu tergenapi setelah penyerbuan Asyur dan pembuangan ke Babel. Untuk waktu yang sangat panjang, bangsa Israel tidak mempunyai kekuatan untuk bangkit sebagai sebuah kerajaan (2).


Namun, menghukum Israel bukanlah hal yang dinikmati Tuhan. Ia meratapi keadaan mereka (1). Ia gemas terhadap pemberontakan, tetapi Ia juga merindukan mereka kembali. "Carilah Aku, maka kamu akan hidup!" (4). Dapatkah kita membayangkan wajah Tuhan ketika Dia mengatakan hal itu? Seperti seorang ayah yang rindu menyambut anaknya yang hilang, Tuhan membuka tangan-Nya mengundang Israel bertobat.


Jikalau seseorang bertanya, "Di manakah kami harus mencari Tuhan?", Amos telah menyiapkan jawabannya. Jangan mencari Tuhan di Betel, Gilgal, atau tempat-tempat lain mana pun yang dianggap keramat. Tempat-tempat itu akan diluluhlantakkan dan tidak akan ada lagi. Ini mengingatkan kita akan perkataan Yesus kepada perempuan Samaria: "... kamu akan menyembah Bapa bukan di gunung ini dan bukan juga di Yerusalem" (Yoh. 4:21). Penyembah sejati akan menyembah Allah dalam Roh dan kebenaran.


Carilah Tuhan, maka kita akan hidup. Ini adalah janji-Nya. Ini prinsip yang berlaku pasti seperti rumus matematika. Jika kita mencari-Nya, kita akan mendapatkan-Nya. Satu hal yang perlu kita lakukan hanyalah mencari Dia. Jangan biarkan hari ini berlalu sebelum Anda mendapatkan hidup yang kekal itu. Carilah Tuhan selagi Ia berkenan ditemui, carilah seperti mencari mutiara yang berharga. [PHM]

Jangan mendua hati

 Jangan mendua hati (1 Korintus 10:14-11;1)


Bagaimana perasaan kita ketika orang yang sangat kita cintai tiba-tiba berselingkuh? Pasti perasaan sakit hati, cemburu, marah, kecewa, dsb., bercampur aduk dalam hidup kita. Lalu, bagaimana perasaan Tuhan ketika kita menduakan diri-Nya? Dalam teks ini, Paulus menegaskan bahwa Tuhan marah dan cemburu (22). Karena sejak awal Dia tidak ingin ada allah lain dalam hidup kita (bdk. Kel. 20:3).

Di satu sisi, jemaat Korintus percaya kepada Kristus. Di sisi lain lingkungan yang penuh penyembahan berhala menyebabkan situasi yang sulit. Dengan tegas Paulus menasihati jemaat Korintus untuk menjauhi penyembahan berhala (14). Jemaat Korintus sudah disatukan kepada Kristus melalui perjamuan kudus sebagai lambang penebusan Kristus (16-17). Mereka tidak perlu lagi mengikuti perjamuan para penyembah berhala. Mereka dapat belajar dari nenek moyang Israel yang mendua hati dengan menyembah Allah sekaligus berhala, yang mengakibatkan Allah murka dan menghukum mereka (18-22).


Jika demikian, apakah orang yang percaya kepada Kristus boleh menikmati makanan yang sudah dipersembahkan kepada berhala? Jawaban Paulus bersifat dialektis. Jikalau makanan tersebut benar-benar sebagai alat untuk penyembahan berhala, maka Paulus melarang keras untuk menikmatinya karena sama saja dengan mengakui keberadaan roh jahat di balik berhala (19-20; 28-29a)). Akan tetapi, jikalau makanan tersebut tidak berkaitan dengan penyembahan berhala maka dapat dimakan untuk kebutuhan jasmani (25-27). Prinsip ini yang Paulus gunakan dalam menghadapi 'dilema' seperti itu: 

✅Pertama, selalu menguji hati nurani agar tidak menjadi batu sandungan bagi orang lain (29, 32); 

✅Kedua, mengucap syukur kepada Tuhan (30); 

✅Ketiga, semuanya dipergunakan hanya untuk kemuliaan Tuhan (31). Paulus kemudian mengajak mereka melihat dirinya sebagai teladan sebagaimana ia sendiri meneladani Kristus (10:33-11:1). 

Prinsip Paulus tetap sama dengan pasal 8, yaitu ujung dari semua perbuatan kita haruslah demi kemuliaan Tuhan dan demi kebaikan orang lain. SHFB

Latihan Disiplin Rohani (Ibrani 12:1-11)

Latihan Disiplin Rohani (Ibrani 12:1-11)

Film yang berjudul "Sepatu Dahlan" menceritakan masa kecil Dahlan Iskan. Meskipun berkekurangan, orangtua Dahlan mendidik anak-anaknya untuk disiplin. Pernah sepulang sekolah, Dahlan kepergok mencuri sebatang tebu di perkebunan negara. Walau hanya sebatang, Dahlan tetap dihukum dengan sabetan rotan oleh orangtuanya. Ayah Dahlan berkata: "Bapakmu memang miskin, tetapi itu tidak berarti anak Bapak boleh mencuri. Sekarang mencuri sedikit, lama-lama mencuri banyak, merugikan semua orang!" Sejak hari itu, Dahlan berhati-hati dalam bertindak.



Bapa surgawi juga menghendaki anak-anaknya dapat hidup disiplin dan bertanggung jawab dalam bertindak. Meskipun Allah itu kasih, namun Ia tidak pernah memanjakan anak-anak-Nya agar mereka dapat menjadi dewasa serupa Kristus. Sebab Kristus adalah teladan disiplin rohani bagi kita dalam melawan dosa. Kedisiplinan dan ketaatan Kristus kepada Bapa surgawi telah dibuktikan di kayu salib. Sedangkan pergumulan dan kesulitan kita melawan dosa belum sampai level mencucurkan darah (4). Memang harus diakui bahwa yang kita hadapi belum sebanding dengan penderitaan Kristus. Meskipun begitu, kita perlu belajar terus-menerus dari teladan Kristus.

Pengamsal menyerukan jangan sampai kita menolak didikan Tuhan dan jangan bosan atas peringatan-Nya (Ams. 3:11). Semuanya itu dilakukan Bapa untuk membangun kehidupan rohani yang disiplin. Jika Allah tidak mendidik umat-Nya, maka kita tidak dianggap sebagai anak, melainkan anak-anak gampang (8).

Disiplin rohani tidak hanya membimbing kita untuk dewasa, tetapi juga memuliakan Allah dan mengambil bagian dalam kekudusan-Nya (10). Proses pendisiplinan membutuhkan kerja keras, namun hasilnya adalah buah kebenaran dan damai sejahtera (11).

Berbahagialah kita yang dianggap anak oleh Allah. Sukacita dan damai sejahtera Allah akan memayungi hidup kita. Yakinlah bahwa disiplin Allah atas hidup kita akan membuat kita menjadi pribadi yang diperkenan-Nya. [PPH]

Menjadi Sahabat (Yohanes 15:9-17)

Menjadi Sahabat (Yohanes 15:9-17)

William Charles Fry (1837-1882) mengungkapkan keyakinan imannya bahwa Yesus adalah sahabat sejati dalam hidupnya. Keyakinan itu dituliskan melalui lagu terkenal yang diterjemahkan dengan judul "Tuhan Yesus Sahabatku".



Menjadi sahabat bagi manusia adalah pernyataan Yesus sendiri. Yesus menegaskan kepada murid-murid-Nya bahwa mereka bukan lagi hamba, tetapi dianggap dan diangkat-Nya menjadi sahabat (15). Antara hamba dan sahabat terdapat perbedaan relasi yang cukup signifikan. Dalam persahabatan ada relasi yang sejajar. Jalinan persahabatan terjadi karena cinta kasih (12). Cinta kasih ini membuat seorang sahabat bersedia berkorban, bahkan dengan memberikan nyawanya (13).


Tawaran persahabatan dari Yesus memiliki konsekuensi nilai. Pertama, persahabatan ini menghilangkan kerahasiaan seperti yang ada dalam relasi hamba-tuan. Selain pengorbanan, ada juga rahasia-rahasia yang disingkapkan kepada para murid. Kedua, bagi kita, persahabatan berarti melakukan apa yang diperintahkan Yesus. Dan, perintah yang berulang kali Yesus katakan adalah agar mereka saling mengasihi.


Jalinan persahabatan hanya terjadi karena Yesus sendiri yang berinisiatif memilih kita. Ukuran terpilih menjadi sahabat ditentukan oleh Yesus sendiri. Tujuan persahabatan adalah untuk memperlengkapi sehingga sahabat-Nya dapat berbuah sebagaimana yang Bapa inginkan.


Persahabatan Yesus telah ditunjukkan melalui pengorbanan-Nya di kayu salib. Yesus tidak hanya mengatakan bahwa sahabat menyerahkan nyawanya, tetapi Ia sendiri menyerahkan nyawa-Nya bagi kita, para sahabat-Nya.


Jika nyawa saja sudah diberikan, mengapa kita khawatir? Fry mengatakan, jalinan persahabatan Yesus membuat ia merasa aman karena Yesus akan selalu melindungi dan tidak pernah meninggalkannya. Fry menggambarkannya seperti tembok berapi yang mengelilingi kita. Maukah kita menyambut tawaran persahabatan dengan Yesus? Hiduplah dalam kasih! [ASP]

Bersama Alam Memuji Tuhan (Mazmur 148:1-14)

Bersama Alam Memuji Tuhan (Mazmur 148:1-14)

Mazmur 148 berisi ajakan kepada seluruh ciptaan, baik yang di surga maupun di bumi, untuk memuji Tuhan. Pertama, ada ajakan kepada seluruh isi surga. Kedua, ada ajakan kepada segala yang diciptakan di bumi, baik makhluk hidup yang bernapas maupun benda mati yang tidak bernapas. Dasar dari ajakan tersebut adalah semua yang diajak itu merupakan ciptaan Tuhan dan punya panggilan yang sama untuk memuji Tuhan.



Semua ciptaan bergantung penuh pada Tuhan Sang Pencipta, yang sekaligus Sang Pemelihara. Ia yang menciptakan segala sesuatu dengan firman-Nya, Ia pula yang memberikan segala ketetapan agar semesta terus berjalan dengan baik (5-6).


Rasa kebersamaan dengan seluruh alam, baik di surga maupun di bumi, yang pemazmur rasakan adalah sesuatu yang sangat indah, istimewa, dan berharga. Perasaan dan ajakan sang pemazmur ini didasarkan pada penghayatan bahwa pemazmur sebagai manusia ada bersama dengan ciptaan yang lain.


Ada kesadaran bahwa alam pun adalah subjek yang turut menyembah Tuhan, bukan objek untuk dieksploitasi. Kesadaran seperti ini menjadi teguran keras kepada kita yang sering kali hanya memusatkan segala sesuatu oleh, dari, dan untuk manusia. Kita bersikap sangat antroposentris. Akibatnya, kita cenderung mengabaikan keberadaan, keterkaitan, bahkan kebersamaan dengan ciptaan yang lain, termasuk ciptaan yang ada di surga yang tak terlihat.


Di tengah kerusakan alam yang menyebabkan ketidakteraturan, bahkan kekacauan musim, banjir, tanah longsor, dan lain-lain, kidung yang dinaikkan pemazmur mengajak kita untuk peduli terhadap alam. Kita diajak untuk tidak menjadikan alam semesta sebagai alat pemuasan nafsu, tetapi sebagai sesama ciptaan yang menyembah Sang Pencipta yang Agung.


Mari kita selalu ingat, peduli, dan melibatkan alam di dalam pujian kepada Allah. Biarlah kiranya semuanya bersama-sama memuji nama Allah Sang Pencipta dan Pemelihara ciptaan-Nya. [MTH]

Kuasa dan Pribadi Yesus (Matius 9:18-34)

 Kuasa dan Pribadi Yesus (Matius 9:18-34)

Yesus memiliki kuasa mutlak atas segala sesuatu yang ada, yang sudah ada maupun yang akan ada. Tidak satu kondisi pun yang dapat membatasi Yesus untuk melaksanakan kehendak- Nya. 



Ia berkuasa membangkitkan anak kepala rumah ibadat. Ketika Yesus sampai di rumah kepala rumah ibadat, nampaknya sudah terlambat. Upacara penguburan akan segera dimulai karena para peniup seruling dan penduka profesional yang disewa sudah siap menjalankan pekerjaan mereka. Kuasa Yesus mampu membalikkan kenyataan yang sudah terlambat, karena firman-Nya berkuasa menolak kematian (ayat 28). Upacara penguburan berganti menjadi perayaan yang penuh sukacita karena yang mati sudah bangkit. Ia berkuasa mengembalikan kehidupan ke dalam diri anak itu sebab memang Dialah sumber kehidupan itu. 


Yesus juga berkuasa menyembuhkan perempuan yang sudah 12 tahun menderita pendarahan. Tidak ada pengharapan baginya dan tidak ada vitalitas di dalam dirinya. Namun yang tidak berpengharapan akan menemukan pengharapan dan yang tidak bervitalitas akan menemukannya di dalam Yesus. Yesus pun berkuasa memberikan penglihatan kepada 2 orang buta. Penglihatan yang diberikan tidak hanya memampukan mereka melihat dunia namun juga mampu melihat kemuliaan Allah. Demikian pula ikatan setan yang membuat orang menjadi bisu dilepaskan- Nya, sehingga orang itu menjadi manusia normal kembali yang dapat berkomunikasi. 


Semua mukjizat itu bersumber dari Pribadi Yesus yang berkuasa. Perhatikan setiap proses mukjizat yang terjadi. Yesus memegang tangan anak kepala rumah ibadat yang mati, lalu bangkitlah ia. Perempuan yang sakit pendarahan itu sembuh bukan karena jubah Yesus berkuasa namun karena ia beriman kepada Pribadi Yesus. Orang buta disembuhkan karena jamahan kuasa Yesus. Demikian pula orang bisu dapat berbicara karena kuasa setan dipatahkan oleh kuasa-Nya. Kuasa-Nya tidak dapat dipisahkan dari pribadi-Nya, sebab melalui kuasa yang dinyatakan-Nya terungkaplah identitas Yesus (Mat. 11:2-5). 


Renungkan: Kristen seharusnya bukan hanya takjub kepada kuasa-Nya namun juga tunduk kepada Pribadi Yesus yang adalah sumber kuasa itu. Sebab banyak Kristen yang hanya tergiur mengalami Kuasa-Nya tanpa mau datang dan tunduk kepada Sang Sumber Kuasa. SH

Sunday, February 2, 2025

Berkat Tuhan


Berkat Tuhan

Amsal 10:22 menegaskan tentang pentingnya berkat Tuhan dalam kehidupan kita.


Pesan Utama:

Ayat ini mengajarkan bahwa berkat Tuhanlah yang menjadikan kita kaya, bukan karena susah payah atau usaha kita sendiri. Ini berarti bahwa kita harus mengandalkan Tuhan dan percaya pada berkat-Nya, bukan hanya pada kemampuan kita sendiri.


Prinsip-Prinsip:

1. Berkat Tuhan: Ayat ini menekankan pentingnya berkat Tuhan dalam kehidupan kita.

2. Ketergantungan pada Tuhan: Kita harus mengandalkan Tuhan dan percaya pada berkat-Nya, bukan hanya pada kemampuan kita sendiri.

3. Kesadaran akan kemampuan Tuhan: Ayat ini mengingatkan kita bahwa Tuhan memiliki kemampuan yang tidak terbatas untuk memberkati kita.


Aplikasi Praktis:

1. Mengandalkan Tuhan: Kita harus mengandalkan Tuhan dan percaya pada berkat-Nya dalam kehidupan kita sehari-hari.

2. Mengucap syukur: Kita harus mengucap syukur atas berkat-berkat yang telah kita terima dari Tuhan.

3. Menggunakan berkat dengan bijak: Kita harus menggunakan berkat-berkat yang telah kita terima dari Tuhan dengan bijak dan untuk kemuliaan-Nya.


Konteks:

Amsal 10:22 merupakan bagian dari kitab Amsal, yang merupakan kitab yang berisi ajaran-ajaran tentang kebijaksanaan dan kehidupan yang benar. Kitab ini ditulis oleh Raja Salomo, yang merupakan raja yang bijaksana dan kaya. (MAI)

Friday, January 31, 2025

Dimurnikan sesama


Dimurnikan sesama (Amsal 27:15-27)


Kita tak selalu akan berjumpa dengan orang yang menyenangkan, tetapi bisa jadi kita justru sering dipertemukan dengan banyak orang yang menyebalkan.


Sikap dan sifat merupakan cerminan hati seseorang (19). Ada orang yang suka bertengkar (15-16). Ada orang yang tidak pernah merasa puas (20). Ada juga orang bebal yang sulit dikikis kebodohannya (22). Ada saja orang-orang seperti itu yang hadir dalam kehidupan kita. Hati yang kotor harus dimurnikan seperti emas dan perak supaya menghasilkan kehormatan dan pujian melalui perbuatan (18, 21). Kitab Amsal mengingatkan kita bahwa seperti besi menajamkan besi, demikian juga manusia menajamkan sesamanya (17).


Dari Amsal hari ini kita belajar bahwa sesama dapat menjadi orang yang Tuhan berikan untuk mempertajam kepekaan dan kepribadian kita. Setiap orang yang kita temui sehari-hari dapat bermanfaat untuk melatih dan mengembangkan karakter kita.


Bukan kebetulan Tuhan meletakkan kita di tengah keluarga, persekutuan, tempat kerja, atau komunitas lainnya, di mana kita bisa bertemu dengan orang-orang yang memiliki beragam sifat dan perilaku, bahkan yang tidak cocok dengan apa yang kita harapkan. Dalam hal ini, bila kita menanggapi dengan hati bijak, kita dapat melihat bagaimana diri kita bisa makin dipertajam dalam kepekaan, kepedulian, dan kedewasaan emosi.


Dalam kehidupan sehari-hari, ketika kita diperhadapkan dengan seseorang yang memancing kemarahan, juga ketika ada orang yang menyakiti hati kita, itulah kesempatan bagi kita untuk belajar bersabar. Sesama yang terasa menyebalkan itu, ternyata Tuhan berikan untuk melatih kesabaran dan kasih kita. Dengan melakukannya, justru diri kita sendirilah yang akan menjadi makin tajam dan peka, mampu mengendalikan emosi dan mengampuni, serta bertambah dewasa dalam iman dan kepribadian.


Itu artinya, kita dapat mengucap syukur ketika ada orang yang tidak menyenangkan di sekitar kita. Bertekadlah dan bersedialah untuk memurnikan dan makin dimurnikan oleh sesama. [MKD]

Monday, January 27, 2025

Takut akan Tuhan, Membenci Kejahatan



Takut akan Tuhan, Membenci Kejahatan 


Amsal 8:13 menekankan pentingnya takut akan Tuhan dan akibatnya. Takut akan Tuhan bukanlah ketakutan yang menghakimi, melainkan rasa hormat dan ketaatan kepada-Nya. Ayat ini menjelaskan bahwa takut akan Tuhan berarti:


Nilai-Nilai

1. Membenci kejahatan dan kesalahan.

2. Menghindari kesombongan dan kecongkakan.

3. Menolak tingkah laku jahat.

4. Menghindari ucapan palsu dan tipu muslihat.


Manfaat

1. Kehidupan yang saleh dan benar.

2. Perlindungan dari kejahatan (Amsal 2:11-12).

3. Kebijaksanaan dan pemahaman (Amsal 1:7).

4. Hubungan yang erat dengan Tuhan.


Prinsip Hidup

1. Mengakui kekuasaan dan otoritas Tuhan.

2. Menghindari dosa dan kejahatan.

3. Membangun karakter yang baik.

4. Mencari kebenaran dan keadilan.


Konteks

Amsal 8:1-36 menjelaskan kebijaksanaan sebagai seorang wanita yang memanggil orang untuk mengikuti jalan yang benar. Ayat 13 menekankan pentingnya takut akan Tuhan sebagai dasar kebijaksanaan.


Sumber

- Alkitab (TB, FAYH, atau terjemahan lain)

- Tafsiran Alkitab (Matthew Henry, John MacArthur)

- Buku-buku spiritualitas Kristen. (MAI)

Pentingnya Berdoa & Mempercayai Allah


Pentingnya Berdoa & Mempercayai Allah 


Matius 7:8 merupakan bagian dari kotbah Yesus di atas gunung, di mana Dia mengajarkan tentang pentingnya berdoa dan mempercayai Allah. Ayat ini menekankan bahwa:


Prinsip-prinsip

1. Percaya dan Berharap: Allah menjawab doa orang yang percaya dan berharap.

2. Mencari dan Menemukan: Allah memberi apa yang dicari dengan tulus.

3. Mengetok dan Dibukakan: Allah membuka pintu bagi orang yang dengan setia mengetok.


Aplikasi Praktis

1. Berdoa dengan percaya dan tulus.

2. Mencari kebenaran dan hikmat.

3. Menyerahkan keinginan kepada Allah.

4. Mempercayai jawaban Allah, bahkan jika tidak sesuai harapan.


Konteks

Matius 7:7-11 menjelaskan tentang doa yang efektif dan pentingnya mempercayai Allah. Yesus mengajarkan untuk:

1. Meminta dengan percaya (ayat 7).

2. Mencari dengan tulus (ayat 7-8).

3. Mengetok dengan kesabaran (ayat 8).

4. Mempercayai Allah sebagai Bapa yang baik (ayat 9-11).


Sumber

- Alkitab (TB, FAYH, atau terjemahan lain)

- Tafsiran Alkitab (Matthew Henry, John MacArthur)

- Buku-buku spiritualitas Kristen. (MAI)

Mata TUHAN Tertuju kepada Orang Benar


Mata TUHAN Tertuju kepada Orang Benar 

1 Petrus 3:12 menekankan hubungan erat antara Allah dan umat-Nya. Berikut beberapa prinsip yang dapat diambil:


Prinsip-Prinsip

1. Allah memperhatikan orang benar (Mazmur 34:15-16).

2. Allah mendengar doa umat-Nya (Mazmur 65:1-2).

3. Allah menentang kejahatan (Mazmur 7:11-12).


Aplikasi Praktis

1. Hidup dengan integritas dan kebenaran.

2. Berdoa dengan percaya dan tulus.

3. Menghindari perilaku jahat dan tidak adil.

4. Membangun hubungan yang erat dengan Allah.


Konteks

1 Petrus 3:8-12 menjelaskan tentang:

1. Hidup harmonis dan damai (ayat 8-9).

2. Menghindari kejahatan (ayat 10-11).

3. Allah memperhatikan orang benar (ayat 12).


Sumber

1. Alkitab (TB, FAYH, atau terjemahan lain).

2. Tafsiran Alkitab (Matthew Henry, John MacArthur).

3. Buku-buku spiritualitas Kristen.


Semoga ayat ini menjadi inspirasi dan motivasi untuk hidup lebih dekat dengan Allah! (MAI)

𝗙𝗜𝗥𝗠𝗔𝗡 𝗧𝗨𝗛𝗔𝗡 (𝗔𝗠𝗦𝗔𝗟 𝟭𝟯:𝟭𝟯)

𝗙𝗜𝗥𝗠𝗔𝗡 𝗧𝗨𝗛𝗔𝗡 ( 𝗔𝗠𝗦𝗔𝗟 𝟭𝟯 : 𝟭𝟯 ) "Siapa meremehkan firman, ia akan menanggung akibatnya, tetapi siapa takut akan...