Friday, August 19, 2022

PENJALA, TERJALA (LUKAS 5:1-11)


PENJALA, TERJALA (LUKAS 5:1-11)

Pernahkah Anda melihat seorang pemancing sedang memancing ikan? Pemancing ikan adalah orang yang tekun, rela menanti berjam-jam demi tertangkapnya seekor ikan.

Simon Petrus dan rekan-rekannya adalah nelayan sejati. Mereka bekerja keras sepanjang malam untuk menangkap ikan. Sayang mereka tidak menghasilkan apa-apa (5). Sebab itu perintah Yesus agar mereka kembali menjala sebenarnya mendapat tanggapan yang tidak terlalu positif dari Petrus. Malam adalah waktu terbaik untuk menangkap ikan, lalu kenapa harus menjala di siang hari bila pada malam hari saja mereka tidak mendapat ikan? Sementara yang mengusulkan adalah anak seorang tukang kayu! Mana mungkin Ia lebih tahu tentang penangkapan ikan dibandingkan seorang nelayan yang sudah berpengalaman di bidangnya? Namun ketika Petrus akhirnya menuruti juga perkataan Yesus, dia melihat keajaiban. Ikan menjejali jala hingga hampir robek! Bahkan butuh bantuan perahu lain untuk menampung ikan-ikan tersebut (7).

Petrus pun langsung bersujud di kaki Yesus (8). Bila sebelumnya Petrus menyebut Yesus sebagai Guru, saat itu dia menyebut Yesus sebagai Tuhan. Petrus juga menyadari kerendahannya di hadapan Yesus. Ini merupakan lompatan besar dalam pengenalannya akan kebesaran kuasa Yesus. Semula ia mengira dirinya adalah nelayan handal, tetapi kemudian ia melihat kuasa Yesus alam, atas danau dan ikan. Kesadaran ini menjadi titik balik yang menghasilkan keputusan besar dalam hidup Petrus. Ia mengikut Yesus dan arah hidupnya pun berubah.

Kesimpulan:

Kesadaran akan kemahakuasaan Tuhan dan ketidakmampuan diri akan membuat orang datang kepada Tuhan. Maka bila kegagalan sedang menerpa Anda secara beruntun, sehingga Anda seolah merasa tidak mampu berdiri lagi, mungkin itulah saat Anda harus datang pada Allah. Jangan keraskan hati dan menganggap bahwa Anda cukup mampu menyelesaikan masalah Anda. Rendahkan hati dan persilakan Dia untuk menyatakan kuasa dan karya-Nya dalam hidup Anda. Niscaya kasih karunia-Nya akan turun atas Anda.

Sumber:Renugan, Sabtu, 10 Januari 2015

Wednesday, July 27, 2022

Ketika Hikmat Memanggil

 Ketika Hikmat Memanggil 

Amsal 1:20-33 

Dalam dunia ini banyak hal dapat menjadi pengejaran dalam hidup manusia. Kesuksesan, kekuasaan, ketenaran, dan kenyamanan hidup seolah memanggil-manggil kita sehingga perhatian kita teralih dan terfokus padanya. Bahkan, tidak jarang kita meninggalkan hal-hal yang sangat berharga dalam hidup kita seperti iman, keluarga, dan kesehatan untuk mengikuti panggilan-panggilan dunia tersebut.

Dalam bacaan hari ini, hikmat digambarkan penulis amsal seperti seseorang yang berteriak memanggil siapa saja yang ditemuinya (20-21). Terlebih ketika hikmat bertemu dengan mereka yang tidak mau menjadi lebih bijak dalam hidupnya. Hikmat itu seolah-olah mengingatkan mereka serta terus memanggil mereka untuk bertobat dan berubah supaya setiap orang dapat hidup lebih baik dan lebih benar. Sebab sesungguhnya, Tuhan Sang Sumber hikmat itu ingin mengajar dan menyatakan kebenaran-Nya (22-23). Namun sayangnya, banyak orang yang menolak dan mengeraskan hati.

Banyak orang merasa dirinya cukup berpengetahuan juga cukup mampu untuk mengatur dan menjalankan hidup yang sempurna sehingga menolak untuk diatur oleh Tuhan. Banyak orang tidak menyadari bahwa sesungguhnya mereka adalah orang yang berdosa dengan banyak cacat cela sehingga sering membuat kesalahan dan bertindak bodoh dalam hidupnya. Mereka itulah orang-orang yang Amsal sebut sebagai orang bebal dan yang hidupnya akan menuju kepada kebinasaan (32).

KESIMPULAN:

Oleh sebab itu, hari ini kita diingatkan untuk senantiasa menjadi orang yang rendah hati serta bersedia mendengar dan menerima nasihat. Ada pun nasihat yang Tuhan nyatakan kepada kita adalah panggilan hikmat yang mengingatkan kita ketika kita merenungkan firman-Nya. Tuhan juga menegur kita melalui pasangan atau sahabat kita, rekan-rekan sepelayanan, bahkan juga orang-orang yang kurang kita sukai. Tuhan dapat memakai siapa saja dan situasi apa saja untuk menuntun kita kepada jalan yang benar.

Oleh karena itu, ikutilah panggilan hikmat yang sedang berseru-seru memanggil kita. [ABL]

Tuesday, July 19, 2022

Perendahan dan Penyangkalan Diri; Kelembutan dan Kemurahan Hati (Roma 15:1-4)

Perendahan dan Penyangkalan Diri; Kelembutan dan Kemurahan Hati (Roma 15:1-4)

Dalam pasal ini, Rasul Paulus melanjutkan pembicaraan pasal sebelumnya tentang kewajiban orang-orang percaya untuk saling menanggung dalam berbagai hal, dan dengan ini ia akan segera sampai pada penutup surat. Karena di antara orang-orang Kristen terdapat perbedaan-perbedaan pemahaman yang begitu rupa, dan oleh sebab itu kasih di antara mereka juga bertambah jauh, maka diperlukan perintah demi perintah dan ajaran demi ajaran, untuk mendinginkan panas hati, dan melahirkan perilaku yang lebih baik. Rasul Paulus, karena ingin mematok paku hingga tertancap kokoh pada tempatnya, terus mengikuti ketukan palunya, tidak mau meninggalkan topik pembicaraan ini sampai ada harapan baginya untuk menang. Untuk itulah ia menyusun perkara di hadapan mereka dan memenuhi mulutnya dengan alasan-alasan yang teramat meyakinkan. Kita dapat mengamati, dalam pasal ini,

I. Perintah-perintahnya kepada mereka.

II. Doa-doanya untuk mereka.

III. Pembelaannya dalam menulis kepada mereka.

IV. Penjelasannya tentang dirinya sendiri dan perkara-perkaranya.

V. Pernyataannya tentang tujuannya untuk datang menemui mereka.

VI. Keinginannya untuk didoakan oleh mereka.

Perendahan dan Penyangkalan Diri; Kelembutan dan Kemurahan Hati (Roma 15:1-4)

Dalam perikop ini Rasul Paulus memaparkan dua aturan, beserta alasan-alasan untuk menguatkannya, yang menunjukkan kewajiban orang Kristen yang kuat untuk peduli dan merendah bagi mereka yang paling lemah.

I. Kita harus menanggung kelemahan orang yang tidak kuat (ay. 1). Kita semua mempunyai kelemahan. Tetapi orang yang lemah lebih dikuasai oleh kelemahan itu daripada orang lain. Mereka itu orang yang lemah dalam hal pengetahuan atau karunia, buluh yang patah terkulai dan sumbu yang pudar nyalanya. Kita harus peduli dengan orang-orang ini. Jangan menginjak-injak mereka, tetapi doronglah mereka, dan bersabarlah menghadapi kelemahan mereka. Jika karena kelemahan, mereka menghakimi dan mencela kita, dan mengatakan yang jahat tentang kita, kita harus bersabar menghadapi mereka, mengasihani mereka, dan tidak menjauhkan kasih sayang kita terhadap mereka. Malang nian mereka! Itu kelemahan mereka, mereka tidak bisa menghindarinya. Demikian pula halnya Kristus menanggung murid-murid-Nya yang lemah, dan memaafkan mereka. Tetapi lebih dari itu, kita juga harus menanggung kelemahan mereka dengan berbela rasa dengan mereka, memberi perhatian terhadap mereka, dan membantu menguatkan mereka, sebagaimana ada kesempatan. Inilah yang dinamakan saling menanggung beban.

II. Kita tidak boleh mencari kesenangan kita sendiri, tetapi harus mencari kesenangan sesama kita (ay. 1-2). Kita tidak boleh memanjakan diri sendiri, dengan menimbang kelemahan dan kerapuhan saudara-saudara kita.

1. Orang-orang Kristen tidak boleh mencari kesenangan sendiri. Kepedulian kita tidak boleh hanya memuaskan segala keinginan yang sepele dari hati kita sendiri. Baiklah jika sekali-kali kita menahan diri, supaya kita bisa lebih baik menghadapi orang lain yang menghalangi jalan kita. Kita akan manja (seperti Adonia) jika keinginan kita selalu dituruti. Pelajaran pertama yang harus kita pelajari adalah menyangkal diri (Mat. 16:24).


2. Orang Kristen harus mencari kesenangan sesamanya. Kekristenan dimaksudkan untuk menghaluskan dan melembutkan roh, untuk mengajarkan kepada kita hati yang mau berbuat baik dan menyenangkan orang lain. Tidak untuk menjadi hamba hawa nafsu apa saja, tetapi menjadi hamba bagi kebutuhan dan kelemahan sesama kita. Untuk bersedia melakukan sebaik mungkin dengan kesadaran hati nurani apa saya yang kita patut lakukan. Orang Kristen harus berusaha untuk menyenangkan hati. Sebagaimana kita tidak boleh mencari kesenangan kita sendiri dalam menggunakan kebebasan kita sebagai orang Kristen, demikian pula kita harus mencari kesenangan sesama kita. Kebebasan Kristen kita itu diperbolehkan bagi kita bukan demi kesenangan kita sendiri, melainkan demi kemuliaan Allah dan demi kebaikan bagi orang lain serta untuk membangunnya. Betapa jemaat Kristus akan menjadi kumpulan yang menyenangkan dan menghibur jika orang-orang Kristen berusaha mencari kesenangan satu sama lain, bukan seperti yang biasa kita lihat sekarang, giat berselisih, saling menghalang-halangi, dan saling menentang! Mencari kesenangan sesama, bukan dalam segala hal, sebab ini bukan aturan tanpa batas, melankan demi kebaikannya, terutama demi kebaikan jiwanya. Bukan untuk menyenangkan hatinya dengan melayani kehendak-kehendaknya yang fasik, dan menghibur dia dengan cara yang berdosa, atau memenuhi godaan-godaannya, atau berbuat dosa karena dia. Ini cara yang rendah untuk mencari kesenangan sesama kita yang membawanya kepada kebinasaan jiwanya. Jika mencari kesenangan orang dengan cara seperti itu, kita bukanlah hamba-hamba Kristus. Tetapi carilah kesenangannya demi kebaikan dia. Bukan demi kebaikan duniawi kita sendiri, atau untuk menjadikan dia mangsa, melainkan demi kebaikan rohaninya. Untuk membangunnya, maksudnya, bukan hanya demi kebaikannya, melainkan juga demi kebaikan orang lain, untuk membangun tubuh Kristus, dengan berusaha saling berbuat baik. Semakin rapat batu-batu dipasang, dan semakin pas satu sama lain, semakin kokohlah bangunannya. Sekarang perhatikanlah alasan mengapa orang-orang Kristen harus mencari kesenangan satu sama lain: Karena Kristus juga tidak mencari kesenangan-Nya sendiri. Penyangkalan diri Yesus Tuhan kita adalah alasan terbaik melawan sikap orang-orang Kristen yang mementingkan diri. Perhatikanlah,

(1) Bahwa Kristus tidak mencari kesenangan-Nya sendiri. Ia tidak mencari pujian, kenyamanan, keamanan, ataupun kesenangan duniawi-Nya sendiri. Ia tidak mempunyai tempat untuk membaringkan kepala-Nya. Ia hidup dari amal, tidak mau dijadikan raja. Tidak ada saran lain yang paling dibenci-Nya selain, Guru, sayangilah diri-Mu. Ia tidak menuruti kehendak-Nya sendiri (Yoh. 5:30). Ia membasuh kaki murid-murid-Nya, tekun menanggung bantahan terhadap diri-Nya dari pihak orang-orang berdosa. Ia menyusahkan diri (Yoh. 11:33, KJV), tidak mencari kehormatan-Nya sendiri, dan singkatnya, mengosongkan diri-Nya, menjadikan diri-Nya tidak berharga. Dan semua ini demi kita, untuk membawakan kebenaran bagi kita, dan untuk memberi kita suatu teladan. Seluruh hidup-Nya hanyalah untuk menyangkal diri, dan tidak mencari kesenangan diri. Ia menanggung kelemahan-kelemahan orang yang tidak kuat (Ibr. 4:15).

(2) Bahwa dalam hal ini Kitab Suci digenapi: Seperti ada tertulis: Kata-kata cercaan mereka, yang mencerca Engkau, telah mengenai aku. Ini dikutip dari Mazmur 69:10, yang bagian awalnya diterapkan kepada Kristus (Yoh. 2:17), cinta untuk rumah-Mu menghanguskan Aku, dan bagian akhirnya diterapkan di sini. Sebab Daud adalah perlambang Kristus, dan penderitaan-penderitaannya adalah perlambang dari penderitaan-penderitaan Kristus. Mazmur ini dikutip untuk menunjukkan bahwa Kristus sama sekali tidak mencari kesenangan-Nya sendiri, malah Ia justru dalam tingkat tertinggi betul-betul mencari ketidaksenangan-Nya sendiri. Bukan berarti seolah-olah pekerjaan-Nya, secara keseluruhan, terasa sebagai beban dan kesedihan bagi-Nya, sebab Ia menjalankannya dengan sangat rela dan gembira. Tetapi dalam perendahan-Nya, Ia menyingkirkan dan menolak segala hal yang membawa kepuasan pada kecenderungan sifat alamiah. Ia lebih mengutamakan kebaikan kita daripada kenyamanan dan kesenangan-Nya sendiri.Rasul Paulus memilih mengungkapkan masalah ini dalam bahasa Kitab Suci. Sebab dengan cara apa lagi perkara-perkara yang menyangkut Roh Allah dibicarakan dengan lebih baik selain dengan kata-kata dari Roh itu sendiri? Dan nas Kitab Suci ini ditegaskannya, kata-kata cercaan mereka, yang mencerca Engkau, telah mengenai aku.

[1] Aib dari celaan-celaan yang ditanggung Kristus. Penghinaan apa saja yang diperbuat terhadap Allah membuat sedih Tuhan Yesus. Ia berduka oleh kerasnya hati orang banyak, dan memandang tempat yang penuh dosa dengan kesedihan dan air mata. Ketika orang-orang kudus dianiaya, Kristus sama sekali tidak mencari kesenangan-Nya sendiri, sampai-sampai Ia turut merasakan apa yang diperbuat terhadap mereka sebagai dilakukan terhadap diri-Nya sendiri: Saulus, Saulus, mengapakah engkau menganiaya Aku? Kristus sendiri telah menanggung segala penghinaan hebat. Ada banyak cela dalam penderitaan-penderitaan-Nya.

[2] Dosa dari celaan-celaan itu, yang ditanggung Kristus untuk memuaskan tuntutan hukum. Begitulah banyak orang memahaminya. Setiap dosa adalah semacam celaan bagi Allah, terutama dosa-dosa yang diperbuat dengan berani. Nah, kesalahan dari semuanya ini ditimpakan kepada Kristus, ketika Ia dijadikan dosa, yaitu, dijadikan persembahan, korban penghapus dosa bagi kita. Ketika Tuhan menimpakan kepada-Nya kesalahan kita semua, dan Ia menanggung dosa-dosa kita dalam tubuh-Nya sendiri di atas kayu salib, kesalahan-kesalahan kita ditimpakan kepada-Nya sebagai ganti jaminan bagi kebebasan kita. Akulah yang menanggung kutuk itu. Ini contoh terbesar bagaimana orang mau menggantikan orang lain dengan dirinya sendiri untuk menanggung kesalahan orang lain. Kalau kita merenungkan kemurnian dan kekudusan-Nya yang tak terhingga dan tak bercacat cela, kasih Bapa kepada-Nya yang tak terbatas, dan kepedulian-Nya yang kekal akan kemuliaan Bapa-Nya, maka tidak ada hal lain yang lebih bertentangan dengan Dia, atau lebih melawan Dia, daripada bahwa Dia dijadikan dosa dan kutuk bagi kita, dan ditimpa murka Allah. Terutama lagi kalau kita melihat untuk siapa saja Ia mencari ketidaksenangan diri seperti itu, yaitu untuk orang-orang asing, musuh-musuh, dan para pengkhianat. Yang benar untuk orang-orang yang tidak benar (1Ptr. 3:18). Ini tampak patut dijadikan alasan mengapa kita harus menanggung kelemahan orang yang tidak kuat. Kita tidak boleh mencari kesenangan kita sendiri, sebab Kristus tidak mencari kesenangan-Nya sendiri. Kita harus menanggung kelemahan orang yang tidak kuat, sebab Kristus menanggung celaan orang-orang yang mencela Allah. Ia menanggung kesalahan dosa dan kutuk dosa. Kita hanya dipanggil untuk sedikit menanggung masalah dosa. Ia menanggung dosa-dosa yang diperbuat dengan berani oleh orang fasik. Kita hanya dipanggil untuk menanggung kelemahan orang yang tidak kuat. Karena Kristus juga, kai gar ho Christos – bahkan Kristus sekalipun. Bahkan Dia sekalipun yang secara tak terhingga bahagia dalam menikmati diri-Nya, yang tidak memerlukan pelayanan kita. Bahkan Dia sekalipun yang tidak menganggap kesetaraan dengan Allah sebagai milik yang harus dipertahankan, yang mempunyai alasan yang baik untuk mencari kesenangan-Nya sendiri, dan tidak mempunyai alasan untuk peduli terhadap kita, apalagi disalibkan untuk kita. Bahkan Dia sekalipun tidak mencari kesenangan-Nya sendiri, bahkan Dia sekalipun menanggung dosa-dosa kita. Jadi, bukankah seharusnya kita bersikap rendah hati, menyangkal diri, dan bersedia peduli satu sama lain, sebagai sesama anggota jemaat?

(3) Bahwa oleh karena itu kita harus bangkit dan berbuat hal serupa: Sebab segala sesuatu yang ditulis dahulu, telah ditulis untuk menjadi pelajaran bagi kita.

[1] Bahwa apa yang ditulis tentang Kristus, mengenai penyangkalan diri dan penderitaan-penderitaan-Nya, ditulis untuk menjadi pelajaran bagi kita. Ia telah meninggalkan bagi kita suatu teladan. Jika Kristus menyangkal diri, kita juga pasti harus menyangkal diri, atas dasar ketulusan dan rasa syukur, dan terutama seturut de ngan gambar-Nya. Teladan Kristus, dalam apa yang dilakukan dan dikatakan-Nya, dicatat untuk kita tiru.

[2] Apa yang dicatat dalam Kitab Suci Perjanjian Lama secara umum ditulis untuk menjadi pelajaran bagi kita. Apa yang sudah dikatakan Daud untuk dirinya, diterapkan Paulus tadi pada Kristus. Nah, supaya ini tidak terlihat seperti memaksakan pengertian Kitab Suci, Paulus memberi kita pedoman umum yang baik ini, bahwa semua nas kitab Perjanjian Lama (terlebih jauh lagi nas Perjanjian Baru) ditulis untuk menjadi pelajaran bagi kita, dan tidak bisa dipandang sebagai tafsiran pribadinya sendiri. Apa yang terjadi pada orang-orang kudus dalam Perjanjian Lama terjadi pada mereka untuk dijadikan contoh. Dan banyak nas Perjanjian Lama sudah digenapi. 

KESIMPULAN: 

Kitab Suci ditinggalkan sebagai pedoman yang abadi bagi kita. Kitab Suci ditulis, supaya tetap kita gunakan dan demi kebaikan kita. Pertama, untuk menjadi pelajaran bagi kita. Ada banyak hal yang bisa dipelajari dari Kitab Suci, dan pelajaran itu pelajaran terbaik yang bisa ditimba dari sumber air ini. Orang yang paling berpengetahuan adalah orang yang paling mengenal Kitab Suci. Oleh sebab itu, kita tidak saja harus berusaha memahami arti sebenarnya dari Kitab Suci, tetapi juga mempelajari darinya apa yang bermanfaat bagi kita. Oleh sebab itu, kita memerlukan bantuan tidak saja untuk menggulingkan batu, tetapi juga untuk menimba air, sebab sumurnya dalam di banyak tempat. Mengamalkan Kitab Suci dalam kehidupan sehari-hari itu lebih penting daripada mengupasnya secara mendalam. 

Kedua, supaya kita teguh berpegang pada pengharapan oleh ketekunan dan penghiburan dari Kitab Suci. Pengharapan yang menjadikan hidup kekal sebagai tujuan itu disodorkan di sini sebagai tujuan belajar Kitab Suci. Kitab Suci ditulis supaya kita tahu apa yang bisa diharapkan dari Allah, atas dasar apa, dan dengan cara apa. Ini haruslah membuat Kitab Suci tampak baik di mata kita, sebab Kitab Suci adalah teman istimewa bagi pengharapan orang Kristen. Nah, cara untuk mencapai harapan ini adalah oleh ketekunan dan penghiburan dari Kitab Suci.

Ketekunan dan penghiburan mengandaikan adanya kesulitan dan kesedihan. Seperti itulah nasib orang-orang kudus di dunia ini. Lagi pula, seandainya tidak demikian, kita tidak akan mendapat kesempatan untuk bersabar dan terhibur. Tetapi ketekunan dan penghiburan adalah teman bagi pengharapan, yang merupakan hidup dari jiwa kita. Ketekunan menimbulkan tahan uji, tahan uji menimbulkan pengharapan, dan pengharapan tidak mengecewakan (5:3-5). Semakin besar ketekunan yang kita tunjukkan di bawah kesulitan, semakin besar harapan kita untuk mengatasi kesulitan kita. Tidak ada yang lebih merusak pengharapan selain ketidaksabaran. 

Dan penghiburan dari Kitab Suci,penghiburan yang timbul dari firman Allah (itulah penghiburan yang paling pasti dan paling manis) juga merupakan penopang yang teguh bagi pengharapan, sebab penghiburan adalah jaminan yang ada di tangan akan kebaikan yang diharapkan. Roh, sebagai Penghibur, adalah jaminan dari warisan kita.

SUMBER: MHC ROMA 15:1-4

Wednesday, June 29, 2022

Jangan Main-main dengan Dosa

Jangan Main-main dengan Dosa 

Roma 6:1-14 

Setelah menjadi orang percaya, hidup tidak boleh dijalani dengan sembarangan. Ada aturan yang harus ditaati. Allah Yang Mahakudus menuntut kita untuk hidup sepadan dengan kehendak-Nya.

Hidup dalam kekudusan merupakan kewajiban yang harus dijalani oleh orang percaya. Ini tidak berarti kasih karunia Allah yang berlimpah-limpah menjadi kesempatan bagi kita untuk bertekun di dalam dosa (1). Ketika kita telah mati bagi dosa dan hidup bagi kebenaran, seharusnya dosa tidak berkuasa lagi dalam hidup kita. Kehidupan di dalam dosa telah mati dan dikuburkan, sedangkan sukacita kehidupan yang baru telah kita terima di dalam Kristus (2-4).

Manusia lama kita telah disalibkan bersama dengan Kristus, dan kita tidak menghambakan diri lagi kepada dosa (6-7). Ketika kita dibenarkan oleh Kristus, kita tidak secara otomatis memiliki kehidupan yang sesuai dengan standar Allah. Kadang-kadang kita masih bisa jatuh ke dalam dosa, namun perbedaannya adalah kita tidak lagi menghidupi kehidupan di dalam dosa. Kita tidak menghambakan diri lagi kepada natur berdosa kita. Sekarang kita diperhadapkan dengan pilihan untuk mengasihi Allah di dalam kehidupan yang kita jalani (Gal 2:20).

Karena kematian Kristus dan kebangkitan-Nya, kita tidak perlu takut kepada kematian. Jaminan telah diberikan-Nya bagi kita untuk menikmati relasi dengan Dia dan melakukan kehendak-Nya dengan penuh sukacita.

Kita tidak lagi hidup dengan mengejar hasrat dan hawa nafsu yang sia-sia, melainkan rindu untuk memuliakan Dia (11). Di tengah dunia ini, Roh Kuduslah yang akan menolong kita untuk hidup sesuai dengan apa yang menjadi kehendak Kristus bagi kita.

Kesimpulan:

Maka dari itu, mengasihi Allah dengan hak istimewa yang telah diberikan kepada kita untuk hidup dalam kebenaran, melalui keterbukaan dalam relasi yang penuh sukacita bersama Dia, harus menjadi hasrat terdalam dari jiwa kita. Tinggalkanlah dosa, jangan bermain-main dengan kasih karunia Allah. Kiranya Roh Kudus memampukan kita untuk hidup bagi Allah! [PMS]

Santapan Harian

Rabu, 29/06/22

https://www.sabda.org/publikasi/e-sh/print/?edisi=20220629


Tuesday, June 21, 2022

GAMBAR ALLAH

GAMBAR ALLAH (KEJADIAN 1:26-30)

Menjadi gambar Allah adalah menjadi wakil Allah di dunia ini. Ini bukan semata-mata privilese melainkan juga tanggung jawab. Semakin besar hak diberikan, semakin berat pula kewajibannya. Menjadi gambar Allah bukan hanya memiliki sejumlah potensi Ilahi, tetapi bagaimana mewujudkan potensi itu bagi kemuliaan Allah. 

Apa maksud Allah menciptakan manusia menurut gambar-Nya? Supaya manusia bisa mengelola dunia dan segala isinya ini untuk kemuliaan Allah. Kata-kata yang digunakan untuk menyatakan tugas manusia itu, "berkuasa", "taklukkanlah" adalah kata-kata yang lazim digunakan dalam konteks kekuasaan seorang raja. Beberapa penafsir keberatan karena menurut mereka penafsiran seperti inilah yang menyebabkan manusia merajalela mengeksploitasi alam ini dengan segala kerakusannya dengan dalih atas nama Tuhan. Berapa banyak kerusakan alam dan lingkungan yang menyebabkan menurunnya kualitas hidup disebabkan ulah manusia? 

Namun, kita melihat bahwa pengaturan Allah atas manusia di sini sama sekali tidak membuka peluang untuk eksploitasi atas alam ini. Pertama, manusia diaturkan bukan untuk menjadi raja dunia melainkan mewakili Raja, Sang Pemilik dunia. Tindakan manusia merusak alam milik Allah adalah tidak berkenan bahkan berdosa di hadapan-Nya. Kedua, kerusakan alam berarti pula berkurangnya kenyamanan hidup manusia. Artinya konsekuensi penyalahgunaan kekuasaan Ilahi akan dirasakan paling berat oleh manusia sendiri. 

KESIMPULAN:

Dosa yang menyebabkan gambar Allah dalam diri manusia tidak berfungsi dengan benar. Manusia hidup bukan untuk kemuliaan Allah melainkan untuk kepentingan diri sendiri yang bersifat merusak dan menghancurkan. Hanya satu jalan untuk memperbaiki semua ini, yaitu dengan mengizinkan Allah memperbarui gambar-Nya di dalam diri kita oleh karya penyelamatan Yesus.

SUMBER: Renungan 1April2008

Sunday, June 19, 2022

Kekhususan Panggilan Tuhan

Kekhususan Panggilan Tuhan (Bilangan 12:1-16)

Tuhan berdaulat memilih siapa saja sebagai hamba-hamba-Nya, dengan kekhususan yang berbeda-beda dari setiap orang. Sikap iri hati terhadap hal khusus yang dimiliki seorang hamba Tuhan oleh sesama hamba Tuhan merupakan sikap yang tidak mengerti kedaulatan Tuhan dan tidak menghormati-Nya.

Musa dipilih bukan karena ia lebih baik dari Harun dan Miryam, melainkan karena Tuhan memiliki rencana atas dirinya untuk masa depan umat-Nya. Sebenarnya Miryam dan Harun pun memiliki kekhususan mereka masing-masing. Bukankah Harun dengan kefasihan berbicaranya menjadi juru bicara Musa menghadapi Firaun untuk membebaskan bangsa Israel (Kel. 4:14-16)? Bukankah Miryam dengan musikalitasnya memimpin para wanita menari sementara umat Israel bersama Musa menyanyikan kidung pujian kepada Tuhan yang telah menyelamatkan umat-Nya dari pengejaran Firaun (Kel. 15:1-18; 20-21)?

Musa memilih diam dan tidak membela diri (3), namun Tuhan membela hamba-Nya ini. Tuhan telah memilih dan menetapkan Musa, melampaui jabatan nabi karena kepadanya, Tuhan berbicara muka dengan muka (6-8). Oleh karena itu, apa pun alasannya, perbuatan Miriam dan Harun seolah menolak pilihan Allah atas Musa (2)! Kasus perempuan Kusy bisa jadi hanyalah alasan yang dibuat-buat untuk menggugat Musa (1).

Mengapa hanya Miryam yang mendapatkan hukuman kusta? Mungkin Harun keburu mengakui kesalahan dan memohon ampun. Lebih mungkin Harun dihindarkan dari hukuman tersebut karena ia seorang imam besar, yang kalau terkena sesuatu yang najis akan lebih lama proses pentahirannya, padahal ritual kemah suci tidak bisa diabaikan.

Kesimpulan:

Mari kita belajar dari kasus ini. Pertama, Tuhan berdaulat memilih para hamba-Nya, masing-masing dengan kekhususannya. Kita harus menghormati keputusan Allah ini dan justru memberikan dukungan kepada setiap hamba-Nya. Kedua, bersyukurlah untuk pilihan Tuhan atasmu secara khusus, serta tunaikan tugas panggilanmu secara bertanggung jawab.

  • Sumber:
  • Alkitab LAI
  • Renungan: Senin, 20 April 2015

Monday, June 6, 2022

Apakah Gereja saat ini boleh berdoa meminta Roh Kudus dicurahkan?

 



Apakah Gereja saat ini boleh berdoa meminta Roh Kudus dicurahkan?

Melihat perkembangang gereja masa kini, atas pengajaran yang bermunculan maka, umat Tuhan harus meneliti dan memahami apakah sesuai dengan Kitab Suci Alkitab atau tidak?

Kata semula ialah "Roh Kudus" atau "Roh Suci"; oknum Allah yang ketiga dan yang tidak kelihatan. Roh Allah bekerja melalui pikiran, perasaan dan pribadi manusia.

·         Oleh Roh dan Firman-Nya Allah menciptakan langit dan bumi dan memberi nafas kepada manusia (Kej 1:2; 2:7;
·         Mazm 33:6; 104:23). Roh Allah juga menggerakkan orang-orang tertentu: hakim-hakim, raja-raja, nabi-nabi.
·         Dalam Perjanjian Baru seringkali disebut: Roh Kudus atau Roh Allah atau Roh Yesus (Kis 16:7) atau
·         Roh Anak Allah (Gal 4:6) ialah pelaksana kehendak Allah di bumi.
·         Ia sebagai Penghibur (Penolong) melanjutkan dan menterapkan karya Keselamatan Yesus (a.l. Yoh 14:16). 
·         Dialah dinamik pekabaran Injil (Kis 1:8).
·         Ia memberikan kesaksian Allah dalam hati orang-orang percaya bahwa mereka anak-anak Allah (Rom 8:15-16).

Supaya orang-orang Kristen mengerti dengan benar bahwa Roh Kudus itu adalah Allah berdasarkan Firman-Nya Dalam Alkitab. Sampai disini kita harus makin waspada agar jangan sampai terjebak dalam pemikiran, siapakah yang lebih besar atau siapakah yang lebih berkuasa, di antara Allah Bapa, Allah Anak (Yesus Kristus), Allah Roh Kudus. Harus kita ketahui bahwa ketiga Pribadi dalam Tritunggal itu adalah sama, dan setara. Dikatakan bahwa tidak ada yang lebih dahulu dan yang terlebih kemudian. Tritunggal ada bersama-sama sejak kekal. Roh Kudus adalah Pribadi sendiri. Dia bukan sekedar kuasa Allah. Dia merupakan Pribadi tersendiri dari Allah.

A. Bukti Roh Kudus adalah Allah

Roh Kudus memiliki nama-nama Ilahi.

a. Ia disebut Roh Allah (Kor 6:11).

b. Ia disebut Roh Kristus (Roma 8:9).

c. Ia disebut Roh yang Kekal (Ibr 9:14).

d. Ia disebut Roh Kebenaran (Yoh 16:13).

e. Ia disebut Roh Kemuliaan (I Petrus 4:14).

f. Ia disebut Roh Kekudusan (Roma 1:4).

B. Nama-nama ini menunjukan bahwa Ia melakukan apa yang hanya dapat diperbuat oleh Allah saja. (Roma 8:15).

Roh Kudus disertakan dengan Allah Bapa, maupun Yesus Kristus (Mat 28:19; 2 Kor 13:13).

1. Roh Kudus memiliki sifat-sifat Ilahi.

a. Roh Kudus Mahatahu (1Kor 2:10-11).

b. Roh Kudus Mahahadir (Mzm 139:7).

c. Roh Kudus Mahakuasa (Kish 1:2).

d. Roh Kudus Memberi Hidup (Rm 8:2).

e. Roh Kudus Sumber Hikmat (Yes 40:13).

f. Roh Kudus Kekal (Ibr 9:14). Sifat ini hanya dimiliki oleh Allah saja.

2. Roh Kudus mengerjakan pekerjaan yang hanya dapat dilakukan oleh Allah.

a. Roh Kudus bekerja dalam penciptaan alam semesta (Kej 1:12).

b. Roh Kudus menilhamkan Firman Allah (2 Pet 1:21). c. Roh Kudus mengandungkan Kristus melalui perawan Maria (Luk 1:35).

d. Roh Kudus meyakinkan Orang-orang percaya (Yoh 16:8).

e. Roh Kudus Melahirkan Kembali seseorang secara rohani hingga menjadi Kudus (Yoh 3:5-6).

f. Roh Kudus memberi Penghiburan (Yoh 14:26).

g. Roh Kudus menyucikan /menguduskan (2 Tes 2;13).

 

Kesimpulan:

Roh Kudus adalah Allah sebagaimana dibuktikan nama-nama-Nya, sifat-sifat-Nya.dan Karya-karya-Nya. Umat Tuhan saat ini berkumpul berdoa seperti dalam Kisah Para Rasul 2 itu boleh dan baik karena ditengah-tengah persekutuan ada kuasa Tuhan bekerja, tetapi bukan meminta Roh Kudus dicurahkan, karena Roh Kudus sudah ada didalam hati setiap orang percaya, ketika ia mengaku dan percaya kepada Tuhan Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat secara pribadi (Efesus 3:11-14).

11  Aku katakan "di dalam Kristus," karena di dalam Dialah kami mendapat bagian yang dijanjikan  —  kami yang dari semula ditentukan untuk menerima bagian itu sesuai dengan maksud Allah, yang di dalam segala sesuatu bekerja menurut keputusan kehendak-Nya  — 

12  supaya kami, yang sebelumnya telah menaruh harapan pada Kristus, boleh menjadi puji-pujian bagi kemuliaan-Nya.

13  Di dalam Dia kamu juga  —  karena kamu telah mendengar firman kebenaran, yaitu Injil keselamatanmu  —  di dalam Dia kamu juga, ketika kamu percaya, dimeteraikan dengan Roh Kudus, yang dijanjikan-Nya itu.

14  Dan Roh Kudus itu adalah jaminan bagian kita sampai kita memperoleh seluruhnya, yaitu penebusan yang menjadikan kita milik Allah, untuk memuji kemuliaan-Nya.

Roh Kudus juga dapat menggerakan hati orang percaya untuk memberitakan injil/bersaksi (KIsah Para Rasul 2:8).

8  Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi."

Jadi yang menjadi tugas/tanggung jawab orang percaya adalah, hidup bersekutu, Berdoa bersama, Menjadi pelaku firman Tuhan (bersaksi membawa kabar baik).

 

Sumber:

 Alkitab LAI

 D. F. Walker, Konkordansi Alkitab, (Jakarta: BPK Gunung Mulia)), 2003.

 See ID_ENSIKLOPEDI_ALKITAB ROH KUDUS

KEPUTUSAN SINODE GEREJA DAN KEPUTUSAN PELAYANAN GEREJA MODERN

  KEPUTUSAN SINODE GEREJA DAN KEPUTUSAN PELAYANAN GEREJA MODERN “Ketika Pendidikan Teologi dan Kekuasaan Pelayanan Tidak Selalu Berjalan Sei...