Thursday, May 28, 2026

KEPUTUSAN SINODE GEREJA DAN KEPUTUSAN PELAYANAN GEREJA MODERN

 

KEPUTUSAN SINODE GEREJA DAN KEPUTUSAN PELAYANAN GEREJA MODERN

“Ketika Pendidikan Teologi dan Kekuasaan Pelayanan Tidak Selalu Berjalan Seimbang”

Pendahuluan

Dalam banyak gereja di Indonesia, keputusan pelayanan sering kali berada di tangan Majelis Jemaat atau Penatua. Mereka dipilih dari jemaat berdasarkan kesetiaan, usia rohani, pengaruh sosial, atau kepercayaan jemaat. Di sisi lain, seorang pendeta menempuh pendidikan teologi selama kurang lebih empat tahun, mempelajari Alkitab, doktrin, hermeneutika, sejarah gereja, konseling, kepemimpinan, misi, hingga ilmu umum.

Namun muncul pertanyaan penting:

Mengapa keputusan pelayanan justru lebih dominan ditentukan oleh majelis atau penatua yang sebagian besar tidak memiliki pendidikan teologi formal? Apakah ada yang salah dengan gereja modern hari-hari ini?

Pertanyaan ini bukan untuk merendahkan majelis atau meninggikan pendeta, melainkan sebagai refleksi agar gereja kembali kepada prinsip Alkitab dan keseimbangan pelayanan.


1. Sistem Gereja dan Keputusan Pelayanan

Secara umum di Indonesia, gereja-gereja memiliki struktur organisasi seperti:

  • Sinode
  • Badan pekerja
  • Pendeta
  • Majelis/Penatua
  • Diaken
  • Jemaat

Dalam banyak denominasi, keputusan besar pelayanan:

  • pembangunan,
  • mutasi pendeta,
  • program gereja,
  • disiplin jemaat,
  • bahkan arah pelayanan,

sering diputuskan melalui rapat majelis.

Secara organisasi, sistem ini baik karena:

  • menghindari kekuasaan tunggal,
  • menjaga transparansi,
  • melibatkan jemaat,
  • dan mencegah penyalahgunaan jabatan.

Namun persoalan muncul ketika:

  • keputusan rohani lebih dipengaruhi politik gereja,
  • kepentingan pribadi,
  • budaya senioritas,
  • atau pertimbangan ekonomi,
    dibandingkan pertimbangan teologis dan kehendak Tuhan.

2. Pendeta Belajar Teologi, Tetapi Tidak Selalu Menentukan Arah Pelayanan

Seorang pendeta dipersiapkan melalui pendidikan teologi yang panjang. Ia belajar:

  • bahasa asli Alkitab,
  • tafsiran Alkitab,
  • teologi sistematika,
  • etika Kristen,
  • penggembalaan,
  • homiletika,
  • dan kepemimpinan gereja.

Tujuan pendidikan ini adalah agar pendeta mampu:

  • menjaga kemurnian ajaran,
  • menggembalakan jemaat,
  • dan menuntun gereja sesuai firman Tuhan.

Namun dalam praktiknya, ada pendeta yang justru tidak memiliki ruang menentukan arah pelayanan karena semua harus melalui persetujuan majelis.

Akibatnya:

  • pendeta menjadi hanya “pelaksana”,
  • suara teologi kalah dengan suara mayoritas,
  • keputusan rohani berubah menjadi keputusan administratif.

3. Apakah Majelis Salah?

Jawabannya: tidak selalu.

Dalam Alkitab, penatua memang memiliki peran penting dalam gereja.

Rasul Paulus mengangkat penatua di setiap jemaat (Kisah Para Rasul 14:23). Bahkan dalam gereja mula-mula, keputusan pelayanan dilakukan bersama.

Tetapi masalah muncul ketika:

  • majelis tidak mau belajar firman Tuhan,
  • tidak memahami dasar teologi,
  • atau merasa lebih berkuasa daripada fungsi penggembalaan.

Majelis seharusnya:

  • menjadi rekan pelayanan pendeta,
  • bukan penguasa gereja,
  • bukan pengendali mimbar,
  • dan bukan pusat keputusan mutlak.

Gereja bukan perusahaan biasa. Gereja adalah tubuh Kristus.


4. Bahaya Gereja Modern Hari Ini

a. Demokrasi Mengalahkan Kebenaran

Banyak gereja lebih takut kehilangan anggota daripada kehilangan kebenaran firman Tuhan.

Keputusan diambil berdasarkan:

  • siapa yang paling berpengaruh,
  • siapa penyumbang terbesar,
  • siapa paling senior,
    bukan berdasarkan kehendak Tuhan.

Padahal kebenaran Alkitab tidak selalu ditentukan oleh suara terbanyak.


b. Pendeta Dianggap Pegawai Gereja

Di beberapa tempat, pendeta diperlakukan seperti pekerja kontrak:

  • harus mengikuti semua kemauan majelis,
  • takut dipindahkan,
  • takut tunjangan dihentikan,
  • bahkan takut berkhotbah keras tentang dosa.

Akibatnya mimbar kehilangan kuasa profetis.


c. Jabatan Menjadi Lebih Penting daripada Panggilan

Ada majelis yang merasa memiliki gereja karena:

  • lebih lama melayani,
  • memiliki ekonomi kuat,
  • atau berpengaruh dalam jemaat.

Padahal pelayanan bukan soal kuasa, melainkan pengorbanan.

Yesus berkata:

“Barangsiapa ingin menjadi yang terbesar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu.”
(Matius 20:26)


5. Penerapan bagi Gereja Masa Kini

a. Majelis Harus Terus Belajar Teologi

Tidak semua majelis harus sekolah teologi formal, tetapi mereka harus:

  • belajar Alkitab,
  • mengikuti pembinaan,
  • memahami dasar doktrin,
  • dan bertumbuh secara rohani.

Majelis tanpa dasar firman dapat membuat keputusan yang salah arah.


b. Pendeta dan Majelis Harus Bermitra

Pendeta tidak boleh otoriter.

Majelis juga tidak boleh mendominasi.

Keduanya harus:

  • saling menghormati,
  • saling mendengar,
  • dan sama-sama mencari kehendak Tuhan.

c. Keputusan Gereja Harus Bersifat Rohani, Bukan Politik

Setiap rapat gereja seharusnya:

  • dimulai dengan doa,
  • dipenuhi kasih,
  • dan berpusat pada misi Kristus.

Tujuan utama gereja bukan mempertahankan jabatan, melainkan memenangkan jiwa.


d. Jemaat Harus Dewasa

Jemaat jangan hanya memilih majelis karena:

  • kaya,
  • terkenal,
  • keluarga besar,
  • atau dekat dengan pimpinan.

Tetapi pilihlah orang yang:

  • takut akan Tuhan,
  • hidup benar,
  • rendah hati,
  • dan memiliki hati melayani.

6. Kesimpulan

Gereja modern tidak sepenuhnya salah, tetapi banyak gereja mulai kehilangan keseimbangan antara:

  • otoritas rohani,
  • pendidikan teologi,
  • dan sistem organisasi.

Pendeta memang belajar teologi secara mendalam, tetapi pelayanan gereja tidak boleh dijalankan sendirian.

Sebaliknya, majelis memang dipilih dari jemaat, tetapi mereka juga harus bertumbuh dalam pengenalan akan Tuhan agar keputusan yang diambil bukan sekadar keputusan manusia.

Gereja yang sehat adalah gereja yang:

  • dipimpin oleh Roh Kudus,
  • dibangun di atas firman Tuhan,
  • dan dijalankan dengan kerendahan hati.

Karena pada akhirnya, semua pelayan Tuhan baik pendeta maupun majelis akan mempertanggungjawabkan pelayanannya di hadapan Kristus.


Sumber Buku

  1. John Stott The Living Church
  2. Edmund P. Clowney The Church
  3. Alexander Strauch  Biblical Eldership
  4. Dietrich Bonhoeffer Life Together
  5. J. Oswald Sanders  Spiritual Leadership
  6. John MacArthur The Master's Plan for the Church
  7. Stephen Tong  Gereja dan Pelayanan
  8. Warren Wiersbe On Being a Servant of God
  9. Millard J. Erickson  Christian Theology
  10. Alkitab Terjemahan Baru

No comments:

Post a Comment

KEPUTUSAN SINODE GEREJA DAN KEPUTUSAN PELAYANAN GEREJA MODERN

  KEPUTUSAN SINODE GEREJA DAN KEPUTUSAN PELAYANAN GEREJA MODERN “Ketika Pendidikan Teologi dan Kekuasaan Pelayanan Tidak Selalu Berjalan Sei...