Monday, April 13, 2020

ALASAN UNTUK MEMPERCAYAI ALLAH YANG MENGIJINKAN PENDERITAAN

  
ALASAN UNTUK MEMPERCAYAI ALLAH YANG MENGIJINKAN PENDERITAAN

    1. Kebebasan Memilih dapat Mengakibatkan Penderitaan
    2. Penderitaan dapat Memperingatkan Kita akan Adanya Bahaya
    3. Penderitaan Menyingkapkan Isi Hati Kita
    4. Penderitaan Membawa Kita ke Gerbang Kekekalan
    5. Penderitaan Melepaskan Ikatan Kita Atas Dunia Ini
    6. Penderitaan Memberi Kesempatan untuk Mempercayai Allah
    7. Allah Menderita Bersama Kita di Dalam Penderitaan Kita
    8. Penguatan dari Allah Lebih Besar Dibanding Penderitaan Kita
    9. Dalam Waktu Krisis Kita Saling Mendekatkan Diri Satu Sama Lain
    10. Allah Dapat Mengubah Penderitaan untuk Kebaikan Kita

 1. KEBEBASAN MEMILIH DAPAT MENGAKIBATKAN PENDERITAAN

 Orangtua yang mengasihi cenderung melindungi anak-anaknya dari penderitaan yang
 tidak perlu. Tetapi orangtua yang bijaksana mengetahui bahwa perlindungan yang
 berlebihan juga berbahaya. Mereka mengetahui bahwa kebebasan untuk memilih
 adalah hal hakiki dalam keberadaan manusia, dan bahwa suatu dunia tanpa pilihan
 akan lebih buruk daripada dunia tanpa penderitaan. Lebih buruk lagi suatu dunia
 yang dihuni oleh orang yang dapat membuat pilihan salah tanpa merasakan derita
 sedikitpun. Tak ada yang lebih berbahaya dibanding penipu, pencuri, atau
 pembunuh yang tidak merasakan kerugian yang dilakukannya terhadap dirinya
 sendiri dan orang lain. (Kej 2:15-17)

 2. PENDERITAAN DAPAT MEMPERINGATKAN KITA AKAN ADANYA BAHAYA

 Kita tidak menyukai penderitaan, khususnya derita yang menimpa orang yang kita
 cintai. Namun bila tidak ada rasa sakit, orang sakit tidak akan pergi ke dokter,
 tubuh yang lelah tidak akan diberi istirahat, dan anak-anak akan menertawakan
 nasihat. Tanpa perasaan resah dalam hati nurani, tanpa perasaan tidak puas
 karena kebosanan hidup sehari-hari, atau tanpa perasaan hampa karena tidak
 berarti, manusia akan kurang merindukan kepuasan yang seharusnya ditemukannya di
 dalam Bapa yang kekal. Contoh Salomo, yang tergoda oleh kenikmatan dan mendapat
 pelajaran melalui penderitaannya, memperlihatkan kepada kita bahwa orang yang
 paling bijaksana sekalipun cenderung untuk menjauhkan diri dari hal yang baik
 dan dari Allah sampai akhirnya disadarkan oleh penderitaan yang diakibatkan oleh
 pilihan-pilihannya yang berwawasan sempit (Pen 1-12; Maz 78:34-35;
 Rom 3:10-18).

 3. PENDERITAAN MENYINGKAPKAN ISI HATI KITA

 Penderitaan sering disebabkan oleh orang lain. Namun penderitaan dapat
 menyingkapkan apa yang ada di dalam hati kita. Kemampuan untuk mengasihi,
 mengampuni, marah, iri hati, dan kesombongan yang terpendam akan muncul ke
 permukaan didorong oleh penderitaan. Kekuatan dan kelemahan hati tidak ditemukan
 ketika segalanya berjalan lancar tetapi ketika api penderitaan dan pencobaan
 menguji karakter kita. Sebagaimana emas dan perak dimurnikan oleh api, dan
 sebagaimana batu bara butuh waktu dan tekanan untuk menjadi berlian, demikianlah
 hati manusia tersingkap dan berkembang dalam tempaan waktu dan situasi-kondisi.
 Kekuatan karakter tampak bukan ketika segala sesuatu berjalan dengan baik tetapi
 ketika sakit dan penderitaan datang menimpa (Ayu 42:1-17; Rom 5:3-5;Yak 1:2-5; 1Pe 1:6-8).

 4. PENDERITAAN MEMBAWA KITA KE GERBANG KEKEKALAN

 Seandainya kematian adalah akhir segalanya, maka suatu kehidupan yang dipenuhi
 penderitaan adalah tidak adil. Namun jika akhir kehidupan ini membawa kita ke
 gerbang kekekalan, maka orang yang paling beruntung di dunia ini adalah mereka
 yang menemukan, melalui penderitaan, bahwa hidup di dunia ini bukanlah
 segalanya. Orang yang menemukan diri sendiri dan Allahnya yang kekal melalui
 penderitaan adalah orang yang tidak menyia-nyiakan penderitaannya. Mereka telah
 mengizinkan kemiskinan, kedukaan, dan kelaparannya untuk membawanya kepada Tuhan
 kekekalan. Mereka adalah orang-orang yang akan menemukan sukacita tak
 berkesudahan seperti yang dikatakan Yesus, "Berbahagialah orang yang miskin di
 hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Surga" (Mat 5:1-12;
 Rom 8:18-9).

 5. PENDERITAAN MELEPASKAN IKATAN KITA ATAS DUNIA INI

 Dengan berlalunya waktu, pekerjaan dan pemikiran kita akan semakin berkurang.
 Tubuh kita semakin memburuk. Berangsur-angsur tubuh menjadi usang. Sendi-sendi
 menjadi kaku dan nyeri. Mata semakin kabur. Pencernaan lambat. Tidur menjadi
 sulit. Masalah semakin membesar sementara pilihan semakin sedikit. Namun, jika
 kematian bukanlah akhir tetapi awal dari hari yang baru, maka masa tua juga
 suatu berkat. Setiap penderitaan yang baru akan membuat dunia ini kurang menarik
 dan membuat kehidupan yang akan datang lebih menarik. Dengan caranya sendiri,
 penderitaan membuka jalan untuk kita meninggalkan dunia dengan tenang
 (Pen 12:1-14).

 6. PENDERITAAN MEMBERI KESEMPATAN UNTUK MEMPERCAYAI ALLAH

 Penderita yang paling terkenal sepanjang masa adalah seorang laki-laki bernama
 Ayub. Menurut Alkitab, Ayub kehilangan keluarganya karena "angin ribut,"
 kekayaannya terbang dan hangus, dan tubuhnya menderita bisul-bisul yang
 menyakitkan. Dalam kesemuanya itu, Allah tidak pernah memberitahu Ayub mengapa
 hal itu terjadi. Ketika Ayub menanggung tudingan teman-temannya, Surga tetap
 membisu. Ketika akhirnya Allah berbicara, Ia tidak memberitahukan Ayub bahwa
 musuh utama-Nya, si Iblis, telah menguji motif Ayub dalam melayani Allah. Tuhan
 juga tidak meminta maaf kepadanya karena Ia telah mengizinkan Iblis untuk
 menguji kesetiaan Ayub terhadap-Nya. Malahan, Allah berbicara tentang kambing-kambing
 gunung yang melahirkan, singa-singa muda yang memburu mangsanya, dan burung-burung
 gagak di sarangnya. Dia juga berbicara tentang perilaku burung unta, kekuatan
 lembu hutan, dan langkah kaki kuda. Allah berbicara tentang keajaiban langit,
 lautan, dan siklus musim-musim. Ayub diharap dapat menyimpulkan sendiri bahwa
 jika Allah mempunyai kuasa dan kebijaksanaan untuk menciptakan alam semesta,
 maka ada alasan untuk mempercayai Allah yang ini dalam masa-masa penderitaan
 (Ayu 1:1-42:17).

 7. ALLAH MENDERITA BERSAMA KITA DI DALAM PENDERITAAN KITA

 Tak seorang pun yang pernah menderita lebih daripada Bapa kita di Surga. Tak
 seorangpun yang pernah membayar harga dosa dunia lebih mahal daripada Dia. Tak
 seorangpun yang terus menerus sangat berduka ketika umat manusia semakin jahat.
 Tak seorangpun pernah menderita seperti Dia yang membayar dosa-dosa kita di
 dalam tubuh Putera-Nya sendiri, tubuh yang disalibkan. Tak seorang pun pernah
 menderita lebih daripada Dia yang, ketika membentangkan tangan-Nya dan mati,
 memperlihatkan betapa besar kasih-Nya kepada kita. Inilah Allah yang, dengan
 menarik kita kepada Diri-Nya, meminta kita untuk mempercayai-Nya ketika kita
 sedang menderita dan ketika orang-orang yang kita kasihi berkeluh-kesah di
 hadapan kita (1Pe 2:21; 3:18; 4:1).

 8. PENGUATAN DARI ALLAH LEBIH BESAR DIBANDING PENDERITAAN KITA

 Rasul Paulus memohon kepada Tuhan untuk menyingkirkan sumber penderitaannya yang
 tidak jelas. Tetapi Tuhan malah berkata, "Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu,
 sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna." "Sebab itu," kata
 Paulus, "terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun
 menaungi aku. Karena itu aku senang dan rela di dalam kelemahan, di dalam
 siksaan, di dalam kesukaran, di dalam penganiayaan dan kesesakan oleh karena
 Kristus. Sebab jika aku lemah, maka aku kuat." (2Ko 12:9-10) Paulus
 belajar bahwa dia lebih suka bersama Kristus dalam penderitaan daripada tanpa
 Kristus dalam kesehatan yang baik dan keadaan yang menyenangkan.

 9. DALAM WAKTU KRISIS KITA SALING MENDEKATKAN DIRI SATU SAMA LAIN

 Tak seorang pun memilih sakit dan penderitaan. Namun ketika tidak ada pilihan
 lain, kita tetap masih memiliki penghiburan. Bencana alam dan waktu krisis
 membuka kesempatan untuk mempersatukan kita. Angin ribut, kebakaran, gempa bumi,
 kerusuhan, penyakit, dan kecelakaan, semuanya mempunyai jalan untuk menyadarkan
 kita. Tiba-tiba kita menyadari kefanaan kita dan bahwa manusia lebih penting
 daripada benda. Kita menyadari bahwa kita saling membutuhkan dan di atas
 segalanya kita membutuhkan Allah. Setiap kali kita mendapatkan penghiburan Allah
 di dalam penderitaan kita, kemampuan kita untuk menolong orang lain bertambah.
 Inilah yang ada dalam pikiran Rasul Paulus ketika dia menulis, "Terpujilah
 Allah, Bapa Tuhan kita Yesus Kristus, Bapa yang penuh belas kasihan dan Allah
 sumber segala penghiburan, yang menghibur kami dalam segala penderitaan kami,
 sehingga kami sanggup menghibur mereka, yang berada dalam bermacam-macam
 penderitaan dengan penghiburan yang kami terima sendiri dari Allah."
 (2Ko 1:3-4)

 10. ALLAH DAPAT MENGUBAH PENDERITAAN UNTUK KEBAIKAN KITA

 Alkitab memberikan banyak contoh mengenai kebenaran ini. Dalam penderitaan Ayub,
 kita melihat bahwa bukan hanya pemahamannya mengenai Allah menjadi lebih
 mendalam, tetapi ia juga menjadi sumber penguatan bagi orang lain dalam setiap
 generasi selanjutnya. Dalam penolakan, pengkhianatan, perbudakan, dan dimasukkan
 ke dalam penjara tanpa bersalah, yang terjadi atas Yusuf, kita menyaksikan
 seseorang yang akhirnya mampu berkata kepada mereka yang telah mencelakakannya,
 "Memang kamu telah mereka-rekakan yang jahat terhadap aku, tetapi Allah telah
 mereka-rekakannya untuk kebaikan." (Kej 50:20) Ketika segala
 sesuatu di dalam diri kita berteriak ke surga karena Allah mengizinkan kita
 menderita, kita memiliki alasan untuk berharap bahwa kita akan mendapatkan hasil
 abadi dan sukacita Yesus, yang di dalam penderitaan-Nya di kayu salib berteriak,
 "Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?" (Mat 27:46)

 Anda Tidak Sendirian jika ketidakadilan dan penderitaan hidup membuat Anda tidak
 yakin bahwa Allah di Surga peduli kepada Anda. Tetapi renungkanlah kembali
 penderitaan Seseorang yang disebut oleh nabi Yesaya sebagai "Seorang yang penuh
 kesengsaraan dan yang biasa menderita kesakitan." (Yes 53:3)
 Renungkanlah punggung-Nya yang dicambuk, dahi-Nya yang berdarah, tangan dan
 kaki-Nya yang berlubang paku, lambung-Nya yang ditikam, pergumulan-Nya yang
 sangat berat di Taman Getsemani, dan tangis kepedihan-Nya karena ditinggalkan.
 Renungkanlah pernyataan Kristus bahwa Dia menderita bukan untuk dosa-dosa-Nya
 melainkan untuk dosa-dosa kita. Untuk memberikan kepada kita kebebasan memilih,
 Dia membiarkan kita menderita. Namun Dia sendiri yang menanggung penderitaan dan
 hukuman terakhir bagi semua dosa-dosa kita (2Ko 5:21, 1Pe 2:24).



Biblografi:  © 2000-2004 RBC Ministries Asia, Ltd.

ORANG KRISTEN DAPAT TAMPAK SEPERTI BUKAN KRISTEN


  
10 ALASAN PERCAYA ORANG KRISTEN DAPAT TAMPAK SEPERTI BUKAN KRISTEN


1. Kekecewaan terhadap Allah
2. Kebingungan
3. Hubungan yang Berbahaya
4. Kebiasaan-Kebiasaan Lama yang tidak Berubah
5. Mengandalkan Diri
6. Tidak Berdoa
7. Kecerobohan
8. Hati yang tidak Teruji
9. Musuh yang tidak Tampak
10. Kurangnya Rasa Tanggung Jawab

1. KEKECEWAAN TERHADAP ALLAH

Banyak orang Kristen mengatakan melalui tindakan mereka apa yang tidak berani diucapkan oleh mulut mereka. Bahkan ekspresi wajah mereka saja sudah menunjukkan kesuraman dan kebosanan. Perilaku demikian membuat orang sulit percaya bahwa iman mereka betul-betul memberi mereka kepuasan. Bagaimana mungkin orang lain diharapkan percaya kepada Allah yang bahkan tidak memenuhi harapan para pengikut-Nya? Alkitab mengatakan ada pengikut-pengikut Kristus yang tidak otentik. Sekilas mereka terlihat sungguh-sungguh, tetapi kenyataannya tidak. (Mat 7:21-23; 13:24-30; 1Yo 2:18-19) Namun adanya penyusup-penyusup yang berpura-pura ini bukanlah realitas satu-satunya. Alkitab tidak menyembunyikan kenyataan bahwa orang yang sungguh-sungguh beriman juga pernah kecewa terhadap Allah. Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru memberikan contoh orang-orang yang putus asa atau bahkan marah kepada Allah karena Dia membiarkan mereka menderita pada saat-saat mereka mengharapkan perlindungan dari Dia. (Bil 14:1-4; Maz 73)

2. KEBINGUNGAN

Pada saat tertekan, bahkan juga pada waktu makmur, orang Kristen sejati dapat dibingungkan sehingga beralih dari keyakinan bahwa kesejahteraan utama mereka sesungguhnya tidak terletak di tangan orang lain atau keadaan. Karena gangguan dan kebingungan yang terus-menerus muncul, Alkitab menasihati umat Allah untuk senantiasa memperbarui pikiran mereka dengan cara mengingat apa yang telah Allah lakukan untuk mereka. (Rom 12:1-2) Kitab Suci mendorong orang-orang percaya untuk memelihara pengharapan dan iman mereka dengan mengasah ingatan mereka tentang apa yang telah mereka ketahui. (lihat 2Pe 1:1-15) Alasannya jelas. Terkikisnya ingatan seringkali merusak karakter dan perilaku Kristiani. (Ula 6:10-12)

3. HUBUNGAN YANG BERBAHAYA

Yesus dikenal dari orang-orang yang berkumpul dengan-Nya. Dia makan dan minum dengan orang-orang yang dijauhi oleh para pemimpin agama. Tetapi Yesus makan dan minum dengan orang-orang demikian bukanlah karena Dia tertarik mengikuti cara hidup mereka. Dia melakukan hal itu untuk menjadi teman terbaik yang dapat dimiliki oleh seorang pendosa. Bila dilandasi oleh motivasi yang salah, hubungan seperti yang dilakukan oleh Yesus dapat menjadi sangat berbahaya. Tanpa tujuan-tujuan-Nya yang kuat dan penuh kasih, tuduhan bahwa Dia adalah "sahabat orang berdosa" akan mempunyai efek yang jauh lebih merusak. Rasul-Nya sendiri, yakni Paulus, menulis mengenai hal tersebut: "Janganlah kamu sesat: Pergaulan yang buruk merusakkan kebiasaan yang baik. Sadarlah kembali sebaik-baiknya dan jangan berbuat dosa lagi." (1Ko 15:33-34) Bahkan Raja Salomo yang bijaksana membayar mahal untuk hubungan yang terlarang itu. (TB 1Ra 11:1-13) Kekalutan yang dia alami membuat dia bertindak seperti seorang yang tidak pernah mengenal Allah (Pen 1-12).

4. KEBIASAAN-KEBIASAAN LAMA YANG TIDAK BERUBAH

Seorang Kristen sejati bisa saja telah mengambil keputusan-keputusan iman yang mengubah cara mereka berpikir tentang Allah dan tentang diri mereka, tetapi mereka belum dapat mengatasi pergumulan dengan egoisme mereka. Secara moral mereka juga tidak lebih baik dari orang non-Kristen. Kecenderungan mereka untuk cinta-diri tak berubah sedikitpun. (Rom 7:14-25) Nafsu-nafsu yang menarik mereka kepada perbuatan duniawi hampir sepasti gaya gravitasi. Bila orang Kristen sejati tidak lagi hidup di bawah pimpinan Roh Kudus dan Firman Allah, (Gal 5:16-26) maka segera mereka akan kembali hidup mementingkan diri sendiri, seperti halnya layang-layang yang jatuh ke bumi karena terhentinya tiupan angin.

5. MENGANDALKAN DIRI

Allah meminta umat-Nya untuk mempercayai-Nya sesuai dengan cara-cara yang Dia tetapkan, bukan sesuai kemauan mereka. Dia menasihati mereka untuk tidak bergantung pada pengertian mereka sendiri, tetapi menggunakan pertimbangan dan pemikiran terbaik mereka untuk bersandar kepada Dia. Dia mengundang anak-anak-Nya untuk membiarkan Dia hidup di dalam mereka. Mereka yang melupakan prinsip hidup bersandar pada Allah seringkali masih menganggap diri mereka adalah orang Kristen sejati. Bahkan murid-murid Kristus pun belajar dengan cara menyakitkan tentang bahaya bersandar pada diri sendiri. Pada malam ketika Yesus ditangkap, Petrus, seorang murid yang paling dekat dengan-Nya dan seorang nelayan yang paling keras kepala, mengumumkan bahwa dia siap mengikuti Guru-Nya menuju penjara atau pun kematian. (Luk 22:33) Tetapi hanya dalam beberapa jam kemudian dia berkali-kali menyangkal bahwa dia pernah mengenal Yesus orang Galilea itu. Keyakinan dirinya yang keliru itu dicatat sebagai peringatan bagi kita.

6. TIDAK BERDOA

Orang Kristen yang berpura-pura biasanya terkenal munafik di dalam doa-doa mereka. (Mat 6:5-8) Orang Kristen sejati menggunakan doa bukan untuk membuat orang lain terkesan tapi sebagai cara yang tulus untuk berterima kasih, mengakui dosa, dan meminta tuntunan dan pertolongan. Mereka tahu bahwa berdoa adalah syarat mutlak bagi siapapun yang ingin bertumbuh dalam hubungan pribadi dengan Allah. Bila para pengikut Kristus tidak memperlihatkan ketergantungan di dalam doa, maka mereka akan bertindak persis seperti orang-orang lainnya. (Yak 4:1-6) Yesus memperingatkan murid-murid-Nya mengenai kemungkinan terjadinya hal ini pada malam ketika Dia ditangkap. Di sela-sela pergumulan doa-Nya, Dia berkata kepada mereka, "Berjaga-jagalah dan berdoalah, supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan: roh memang penurut, tetapi daging lemah,." (Mat 26:41)

7. KECEROBOHAN

Raja Daud adalah seorang yang mempunyai iman sejati. Karena dia mencintai hukum-hukum Allah, maka dia berketetapan hati untuk menghindari kegagalan moral dan rohani. (Maz 119:11) Alkitab sendiri mengakui bahwa dia adalah seorang yang berkenan di hati Allah (#/TB Kis 13:22). Tetapi catatan kerohaniannya yang gemilang tersebut tidaklah dapat mencegah Daud menjadi seorang penzinah dan pembunuh. Suatu malam, ketika orang-orang pergi berperang untuknya, dan ketika dia berdiri di atas sotoh rumahnya yang aman, dia menggunakan kekuasaan jabatannya untuk mengambil istri orang lain. Dalam kejatuhan tersebut, Daud belajar makna pernyataan ini: "Sebab itu siapa yang menyangka, bahwa ia teguh berdiri, hati-hatilah supaya ia jangan jatuh,." (1Ko 10:12)

8. HATI YANG TIDAK TERUJI

Sebagai pengajar hati manusia, Yesus mengingatkan kita bahwa motivasi yang tidak diuji dapat menimbulkan aneka bentuk penipuan diri sendiri. Nabi Yeremia juga mengakui bahaya dari "kegelapan batiniah" ketika dia menulis: "Betapa liciknya hati, lebih licik dari segala sesuatu, hatinya sudah membatu: siapakah yang dapat mengetahuinya?" (Yer 17:9) Psikologi modern memperlihatkan kecenderungan kita untuk menghindari rasa sakit emosional dengan pelbagai cara pengalihan dan penyangkalan. Psikologi juga mencatat kebiasaan-kebiasaan hati kita yang mencoba menumpulkan rasa sakit yang ditimbulkan oleh perasaan bersalah yang nyata maupun yang palsu. Bagaimanapun, ilmu jiwa tidak dapat mengubah hati kita. Kita semua punya alasan untuk bergabung dengan Raja Daud dalam doanya, "Selidikilah aku, ya Allah, dan kenallah hatiku, ujilah aku dan kenallah pikiran-pikiranku; lihatlah, apakah jalanku serong, dan tuntunlah aku di jalan yang kekal,." (Maz 139:23-24)

9. MUSUH YANG TIDAK TAMPAK

Murid-murid Kristus mempunyai musuh rohani yang berusaha membingungkan mereka dan mengaburkan pengaruh mereka. Musuh itu sedang berperang untuk melumpuhkan mereka. Banyak orang yang telah menjadi korban. Tak terhitung jumlah orang-orang Kristen sejati yang dibuat tidak efektif oleh musuh tersebut yang jauh lebih halus dan pintar dari yang mereka kira. Memang dia tidak dapat membuat orang-orang Kristen melakukan dosa, tetapi dia dan antek-anteknya terus-menerus mencari kelemahan-kelemahan yang dapat dia jadikan sebagai jalan masuk ke dalam kehidupan orang-orang Kristen sejati. (Efe 4:27; 6:10-20) Seperti binatang pemangsa, dia berkeliling mencari korban-korban yang mudah diserang. (1Pe 5:8)

10. KURANGNYA RASA TANGGUNG JAWAB

Seseorang tidak mungkin bertumbuh menjadi dewasa rohani dengan hanya melakukan apa yang alamiah. Mereka pun tidak akan menjadi semakin serupa dengan Kristus bila mereka dibiarkan berupaya sendiri. Bahkan orang Kristen terkuat sekalipun tidak mungkin dapat menjalankan hidup kekristenannya sendirian. Yesus memberi perintah kepada murid-murid-Nya bukan saja untuk menobatkan orang-orang, tetapi juga untuk mendidik mereka agar hidup sesuai dengan kehendak-Nya. (Mat 28:19-20) Rasul Paulus menyamakan para pengikut Kristus dengan tubuh manusia yang anggota-anggotanya saling tergantung satu sama lain (1Ko 12). Memang saat ini banyak orang senang mengembangkan semangat kemandirian, tetapi sikap demikian tidaklah mencerminkan maksud Kristus yang sesungguhnya bagi gereja-Nya. Kristus memanggil orang bukan hanya untuk datang kepada-Nya, tetapi juga kepada satu sama lain.

ANDA TIDAK SENDIRIAN jika Anda meragukan kemurnian orang-orang gereja yang tidak bertindak seperti pengikut-pengikut Kristus. Namun adalah keliru bila kita menganggap bahwa mereka yang mengaku diri Kristen adalah Kristen palsu hanya karena tingkah-laku mereka saat ini tidak sesuai dengan kepercayaan mereka.

Berita baiknya adalah bahwa Allah menyelamatkan manusia berdasarkan kasih karunia (kebaikan yang tidak layak kita terima) melalui kepercayaan kepada Anak-Nya. (Efe 2:8-10) Memang tidak ada alasan apa pun yang dapat membenarkan orang Kristen sejati untuk hidup di dalam dosa, tetapi fakta bahwa Allah menyelamatkan manusia yang berdosa melawan Dia, sebelum dan sesudah mereka percaya kepada Anak-Nya, adalah suatu kabar baik bagi kita semua. Jika Allah dapat menyelamatkan orang-orang demikian, Dia dapat menyelamatkan kita pula. Dia menawarkan pengampunan dosa dan kehidupan kekal kepada semua orang yang mau mengakui betapa salahnya mereka telah hidup terpisah dari Dia. Dia menawarkan surga bagi semua orang yang mau percaya bahwa Kristus telah mati bagi dosa-dosa mereka, dan bahwa Dia telah bangkit dari kematian untuk hidup di dalam siapa pun yang percaya kepadaNya. (Rom 4:5)

Bibliografi:© 2000-2004 RBC Ministries Asia, Ltd.

10 ALASAN UNTUK MEMPERCAYAI KRISTUS LEBIH DARI PADA AGAMA



   
10 ALASAN UNTUK MEMPERCAYAI KRISTUS LEBIH DARI PADA AGAMA

    1. Kristus adalah Seseorang untuk Dikenal dan Dipercayai    2. Agama adalah sesuatu untuk Dipercayai dan Dilakukan    3. Agama tidak Mengubah Hati    4. Agama Merumitkan yang Sederhana    5. Agama Lebih Mementingkan Persetujuan Manusia daripada Perkenanan Allah    6. Agama Menjadikan Kita Orang-Orang Munafik    7. Agama Menjadikan Hidup Lebih Sulit Lagi    8. Agama Menjadikan Kita Mudah Menipu Diri Kita Sendiri    9. Agama Menyembunyikan Kunci Pengetahuan    10. Agama Menyesatkan Para Pengikutnya

 1. KRISTUS ADALAH SESEORANG UNTUK DIKENAL DAN DIPERCAYAI     
 Kristus lebih dari sekedar suatu sistem, tradisi, atau kepercayaan. Dia adalah
 satu Pribadi yang mengetahui kebutuhan-kebutuhan kita, merasakan penderitaan
 kita, dan bersimpati dengan kelemahan kita. Bila kita percaya kepadaNya, Dia
 mengampuni dosa kita, menjadi perantara bagi kita, dan membawa kita kepada
 BapaNya. Dia menangis untuk kita, mati untuk kita, dan bangkit dari kematian
 untuk membuktikan bahwa Dia adalah sesuai dengan apa yang Dia klaim tentang
 DiriNya. Dengan menaklukkan kematian, Dia menunjukkan bahwa Ia mampu
 menyelamatkan kita dari dosa-dosa, hidup melalui diri kita dalam dunia ini, dan
 kemudian dengan aman membawa kita ke surga. Ia memberi diriNya sebagai suatu
 anugerah bagi siapa saja yang mau percaya kepadaNya. (Yoh 20:24-31)

 2. AGAMA ADALAH SESUATU UNTUK DIPERCAYAI DAN DILAKUKAN
 Agama adalah mempercayai Allah, menghadiri kebaktian-kebaktian, mengikuti
 katekisasi, dibaptis, dan menerima Perjamuan Kudus. Agama adalah tradisi,
 ritual, upacara, dan mempelajari perbedaan antara benar dan salah. Agama adalah
 membaca dan menghafal Kitab Suci, memanjatkan doa-doa, memberi kepada orang
 miskin, dan merayakan hari-hari besar agamawi. Agama adalah menyanyi dalam
 paduan suara, menolong orang miskin, dan memperbaiki kesalahan-kesalahan masa
 lalu. Agama adalah sesuatu yang dipraktekkan oleh orang-orang Farisi, para
 pemimpin rohani yang cinta Kitab Suci, konservatif, separatis, dan yang cukup
 membenci Kristus sehingga mereka menuntut kematianNya. Mereka membenci-Nya bukan
 hanya karena Ia melanggar tradisi mereka demi menolong orang banyak,
 (Mat 15:1-9) tetapi karena melalui agama mereka Ia melihat ke dalam
 hati mereka.

 3. AGAMA TIDAK MENGUBAH HATI
 Yesus mengibaratkan orang-orang Farisi yang religius seperti sekelompok pencuci
 piring yang membersihkan bagian luar sebuah cawan namun membiarkan bagian dalam
 tetap kotor. Ia berkata, "Kamu orang-orang Farisi, kamu membersihkan bagian luar
 dari cawan dan pinggan, tetapi bagian dalammu penuh rampasan dan kejahatan. Hai
 orang-orang bodoh, bukankah Dia yang menjadikan bagian luar, Dia juga yang
 menjadikan bagian dalam?". (Luk 11:39-40) Yesus tahu bahwa
 seseorang dapat mengubah penampilannya tanpa mengubah tingkah lakunya.
 (Mat 23:1-3) Ia tahu bahwa prestasi dan upacara religius tidak
 dapat mengubah hati. Ia memberi tahu salah seorang yang paling religius pada
 zaman-Nya bahwa kecuali seseorang ‘dilahirkan kembali’ oleh Roh Kudus, ia tidak
 dapat melihat kerajaan Allah. ( Yoh 3:3) Namun sampai saat ini,
 banyak orang yang paling religius pun terus melupakan bahwa agama memang dapat
 merapikan penampilan luar, tetapi hanya Kristus yang dapat mengubah hati.

 4. AGAMA MERUMITKAN YANG SEDERHANA
 Yesus berbicara kepada ahli-ahli agama yang sangat mengutamakan hal-hal sepele,
 "Tetapi celakalah kamu, hai orang-orang Farisi, sebab kamu membayar persepuluhan
 dari selasih, inggu dan segala jenis sayuran, tetapi kamu mengabaikan keadilan
 dan kasih Allah. Yang satu harus dilakukan dan yang lain jangan diabaikan."
 (Luk 11:42) Yesus melihat kecenderungan kita untuk membuat aturan-aturan
 dan berfokus pada tingkah laku yang "benar secara moral," tetapi tidak
 memperhatikan hal yang lebih besar tentang mengapa kita berusaha menjadi benar.
 Sementara orang-orang Farisi memiliki banyak pengetahuan berikut kesimpulan-kesimpulan
 logisnya, mereka lupa bahwa Allah tidak peduli seberapa banyak yang kita ketahui
 sampai Ia tahu seberapa banyak hati kita peduli orang lain. Pertanyaan "mengapa"
 yang lebih penting inilah yang dipikirkan rasul Paulus ketika ia menulis,
 "Sekalipun aku dapat berkata-kata dengan semua bahasa manusia dan bahasa
 malaikat, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama dengan gong yang
 berkumandang dan canang yang gemerincing …  dan sekalipun aku membagi-bagikan
 segala sesuatu yang ada padaku, bahkan menyerahkan tubuhku untuk dibakar, tetapi
 jika aku tidak mempunyai kasih, sedikitpun tidak ada faedahnya bagiku,".
 (1Ko 13:1, 3)

 5. AGAMA LEBIH MEMENTINGKAN PERSETUJUAN MANUSIA DARI PADA PERKENANAN ALLAH
 Yesus menyimpan kritik-Nya yang paling tajam bagi orang-orang religius yang
 menggunakan reputasi rohani mereka untuk mendapatkan perhatian dan kehormatan.
 Terhadap mereka ini Yesus berkata, "Celakalah kamu, hai orang-orang Farisi,
 sebab kamu suka duduk di tempat terdepan di rumah ibadat dan suka menerima
 penghormatan di pasar,". (Luk 11:43) Kemudian, kepada murid-murid-Nya,
 Ia berbicara tentang orang-orang Farisi, "Semua pekerjaan yang mereka lakukan
 hanya dimaksud supaya dilihat orang,". (Mat 23:5) Yesus melihat
 dengan jelas ke dalam praktek agama yang menganggap pendapat dan perhatian dari
 manusia lebih penting dan lebih disukai dari pada perkenanan Allah.

 6. AGAMA MENJADIKAN KITA ORANG-ORANG MUNAFIK    
 Yesus berkata, "Celakalah kamu, ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi! Sebab
 kamu sama seperti kubur yang tidak memakai tanda; orang-orang yang berjalan di
 atasnya, tidak mengetahuinya." (Luk 11:44) Apakah yang kelihatan
 lebih baik dari pada berpakaian rapi, menghadiri kebaktian-kebaktian, dan
 melakukan hal-hal yang menandakan bahwa kita adalah orang-orang yang saleh dan
 takut akan Allah? Tetapi berapa banyak ahli agama, pendeta, dan penganut agama
 yang setia yang sedikit pun tidak menunjukkan penghormatan dan dorongan untuk
 istri-istri mereka, perhatian bagi anak-anak mereka, dan kasih kepada orang-orang
 yang berbeda kepercayaan? Yesus mengetahui apa yang seringkali kita lupakan: Apa
 yang kelihatan baik mungkin memiliki akar yang jahat.

 7. AGAMA MENJADIKAN HIDUP LEBIH SULIT LAGI
 Karena tidak dapat mengubah hati, agama berusaha mengontrol orang dengan
 hukum-hukum dan tuntutan-tuntutan yang bahkan tidak dijalankan oleh para ahli
 agama yang menafsirkan dan menjabarkan aturan-aturan tersebut. Dengan memikirkan
 "faktor beban" inilah, Yesus berkata, "Celakalah kamu juga, hai ahli-ahli
 Taurat, sebab kamu meletakkan beban-beban yang tak terpikul pada orang, tetapi
 kamu sendiri tidak menyentuh beban itu dengan satu jaripun,". (Luk 11:46)
 Agama sangat baik di dalam menjabarkan standar-standar tingkah laku dan
 hubungan-hubungan yang benar, tetapi sangat tidak berdaya dalam memberikan
 pertolongan yang dibutuhkan dan penuh belas-kasihan bagi mereka yang menyadari
 bahwa mereka belum hidup sesuai dengan tuntutan-tuntutan tersebut.
 8. AGAMA MENJADIKAN KITA MUDAH MENIPU DIRI KITA SENDIRI
 Secara bergurau sering dikatakan, "Saya mencintai umat manusia. Orang-oranglah
 yang membuat saya tidak tahan." Orang-orang Farisi bertindak berdasarkan
 pemikiran yang serupa, tetapi hal itu sungguh tidak lucu. Menurut Yesus, orang-orang
 Farisi menyombongkan diri mereka di dalam menghormati dan membangun monumen-monumen
 para nabi. Ironisnya, ketika mereka bertemu dengan seorang nabi yang
 sesungguhnya, mereka justru mau membunuhnya. Barclay mengatakan, "Satu-satunya
 nabi yang mereka kagumi adalah nabi yang sudah mati; ketika mereka bertemu
 seorang nabi yang hidup, mereka berusaha membunuh-Nya. Mereka menghormati para
 nabi yang sudah mati dengan membangun kuburan dan monumen, tetapi mereka
 menghina yang masih hidup dengan penganiayaan dan kematian." Inilah yang
 dimaksud Yesus dalam Luk 11:47-51 dan Mat 23:29-32.
 Orang-orang Farisi telah menipu diri mereka sendiri. Mereka tidak menganggap
 diri mereka sebagai pembunuh para nabi. Ahli-ahli agama tidak melihat diri
 mereka sebagai orang yang menolak Allah.

 9. AGAMA MENYEMBUNYIKAN KUNCI PENGETAHUAN
 Salah satu bahaya terbesar dari agama adalah menjadikan kita berbahaya bukan
 hanya bagi diri kita sendiri melainkan juga bagi orang lain. Kepada para ahli
 Alkitab yang sangat religius pada zaman-Nya Yesus berkata, "Celakalah kamu, hai
 ahli-ahli Taurat, sebab kamu telah mengambil kunci pengetahuan; kamu sendiri
 tidak masuk ke dalam dan orang yang berusaha untuk masuk ke dalam kamu halang-halangi,".
 (Luk 11:52) Ahli-ahli agama mengambil "kunci pengetahuan" dengan
 mengalihkan perhatian orang dari Firman Allah dan dari ketulusan hati dengan
 tambahan tradisi-tradisi dan tuntutan-tuntutan yang sepele tetapi yang dianut
 secara fanatik. Bukannya memimpin orang kepada Allah, mereka malah mengubah
 fokus umatnya kepada diri mereka dan aturan-aturan mereka sendiri. Ahli-ahli
 agama demikian adalah orang-orang yang yakin bahwa kepercayaan dan karya agama
 mereka dapat menggantikan apa yang sesungguhnya hanya dapat dilakukan oleh
 Kristus.
 10. AGAMA MENYESATKAN PARA PENGIKUTNYA

 Dalam Mat 23:15 Yesus berkata, "Celakalah kamu, hai ahli-ahli
 Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab kamu
 mengarungi lautan dan menjelajah daratan, untuk mentobatkan satu orang saja
 menjadi penganut agamamu dan sesudah ia bertobat, kamu menjadikan dia orang
 neraka, yang dua kali lebih jahat daripada kamu sendiri." Orang-orang yang
 bertobat kepada suatu agama berada dalam bahaya ganda. Mereka memiliki
 antusiasme ganda untuk menjalani cara hidup mereka yang baru, dan dengan
 semangat besar mereka secara membabi buta membela guru-guru mereka yang juga
 buta. Mereka mempercayakan diri kepada orang-orang yang telah mengganti
 kehidupan, pengampunan, dan hubungan dengan Juruselamat yang tak terbatas,
 dengan suatu sistim aturan dan tradisi. Dalam arti tertentu, agama itu penting,
 (Yak 1:26-27) yaitu jika ia mengarahkan kita kepada Kristus yang
 mati bagi dosa-dosa kita dan yang sekarang memberi diri-Nya untuk hidup melalui
 mereka yang percaya kepada-Nya. (Gal 2:20; Tit 3:5)

 ANDA TIDAK SENDIRIAN Bila Anda belum meyakini Kristus sebagaimana Dia
 menyatakan diriNya. Namun ingatlah bahwa Ia menjanjikan pertolongan Allah bagi
 mereka yang bertanya dengan tulus. Ia berkata, "Barangsiapa mau melakukan
 kehendak-Nya, ia akan tahu entah ajaran-Ku ini berasal dari Allah, entah Aku
 berkata-kata dari diriKu sendiri,". ( Yoh 7:17) Di sini Yesus
 mengingatkan bahwa kita melihat banyak hal bukan hanya sesuai dengan apa adanya
 mereka, tetapi sesuai dengan subyektifitas kita.

 Jika Anda memang menyadari perlunya beriman kepada Kristus, ingatlah bahwa
 Alkitab berkata kepada keluarga Allah, "Sebab karena kasih karunia kamu
 diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu
 bukan hasil pekerjaanmu, jangan ada orang yang memegahkan diri,". (Efe 2:8, 9)
 Keselamatan yang ditawarkan Kristus bukanlah upah untuk usaha religius kita,
 tetapi suatu anugerah bagi mereka yang percaya kepada-Nya.

Bibliografi: © 2000-2004 RBC Ministries Asia, Ltd.


Sunday, April 12, 2020

ALFA DAN OMEGA



ALFA DAN OMEGA
       Istilah teologis yg berarti ‘awal dan akhir’ dan juga ‘yg menyebabkan’ (bnd Rom 11:36; Ef 1:10). Dengan cara demikian istilah ini dipakai dalam Wahy 1:8; 21:6; 22:13 (tak nampak dlm naskah terbaik  Wahy 1:11[1]). 

Dalam ay pertama dari ay-ay ini kalimat itu menunjuk kepada Bapak, dalam ay lain kepada Anak. Istilah itu berasal dari huruf-huruf pertama dan terakhir abjad Yunani, sesuai dengan Ibrani ‘alef dan taw (bnd komentar dlm Yalkut yg mengatakan bahwa Adam telah melanggar seluruh peraturan dari ‘alef sampai Taw). 

Orang Ibrani, Yunani dan Romawi semuanya memakai huruf-huruf abjadnya sebagai angka, yg menerangkan tentang kemudahan, dengan mana alfa dan omega juga digambarkan sebagai ‘awal dan akhir’. 

Secara alkitabiah, istilah itu menghunjuk pada aktivitas Allah dan Kristus dalam menjadikan dan menyelamatkan.
Rm 11:36  Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya!

Ef 1:10  sebagai persiapan kegenapan waktu untuk mempersatukan di dalam Kristus sebagai Kepala segala sesuatu, baik yang di sorga maupun yang di bumi.

Why 1:8  "Aku adalah Alfa dan Omega, firman Tuhan Allah, yang ada dan yang sudah ada dan yang akan datang, Yang Mahakuasa."

Why 21:6  Firman-Nya lagi kepadaku: "Semuanya telah terjadi. Aku adalah Alfa dan Omega, Yang Awal dan Yang Akhir. Orang yang haus akan Kuberi minum dengan cuma-cuma dari mata air kehidupan.

Why 22:13  Aku adalah Alfa dan Omega, Yang Pertama dan Yang Terkemudian, Yang Awal dan Yang Akhir."

Wahyu 1: 17  Ketika aku melihat Dia, tersungkurlah aku di depan kaki-Nya sama seperti orang yang mati; tetapi Ia meletakkan tangan kanan-Nya di atasku, lalu berkata: "Jangan takut! Aku adalah Yang Awal dan Yang Akhir, (18)  dan Yang Hidup. Aku telah mati, namun lihatlah, Aku hidup, sampai selama-lamanya dan Aku memegang segala kunci maut dan kerajaan maut. (19)  Karena itu tuliskanlah apa yang telah kaulihat, baik yang terjadi sekarang maupun yang akan terjadi sesudah ini.




[Indeks 00000] [Keterangan 16990]
 ALFA
 ========================================
 Indonesia:
          A (FAYH)
          alawal (KL1870)
          Alfa (TB, WBTC, ENDE, BABA)
          Alif (TL, KL1863, SB, LDKR)
          alip (KL1870)
          Awal (TB, FAYH, WBTC, ENDE)
          awal (TL)
          permoelaan (KL1863)
          pertama (BIS, LDKR)
          PERTAMA (ENDE)
          Pertama (FAYH)
          Yang ada (TL)
 Inggris:
          Alpha (AV, TEV)
 ========================================
 Kamus Indonesia:

 [Kamus Gering] huruf pertama dalam abjad (alpabet) gerika. Wah 22:13; Wah 1:8.

 [Kamus Browning]
 Huruf pertama abjad Yunani; dalam Wahy 1:8, Allah disebut ‘Alfa dan *Omega’ (huruf terakhir abjad Yunani). Gabungan ini juga digunakan untuk Yesus dalam Wahy 22:13, yang berarti bahwa Yesus hadir sejak awal *penciptaan dan akan memerintah pada akhir zaman. Bnd. Yes 44:6.
 ========================================
 Yunani:

 [Strongs-Greek]
  1  a  al’-fah

  of Hebrew origin; the first letter of the alphabet; figuratively, only
  (from its use as a numeral) the first: Alpha. Often used (usually
  an, before a vowel) also in composition (as a contraction from 427) in
  the sense of privation; so, in many words, beginning with this letter;
  occasionally in the sense of union (as a contraction of 260).
  see GREEK for 427
  see GREEK for 260

 [Barclay]
 (huruf pertama dari abjad Yunani); yang pertama (dalam judul-judul kitab PB, misalnya; ΠΡΟΕ ΚΟΡΙΝΘΙΟΥΕ Α 1Kor

 [OLB Lexicon-Greek]
 No. Strong: See Greek 1
 Kata       : α a
 Dalam AV  !!: Alpha 4
 Jumlah    : 4
 Definisi  !!:
  1) first letter of Greek alphabet
  2) Christ is the Alpha to indicate that he is the beginning and the end

 [Keynote]
 a title of Jesus Christ



DAFTAR PUSATAKA:
See ID_ENSIKLOPEDI_ALKITAB <ALFA DAN OMEGA> 00101
 GoTo Explorer "http://alkitab.sabda.org/dictionary.php?word=alfa&version=tb"




[1] Why 1:11  katanya: "Apa yang engkau lihat, tuliskanlah di dalam sebuah kitab dan kirimkanlah kepada ketujuh jemaat ini: ke Efesus, ke Smirna, ke Pergamus, ke Tiatira, ke Sardis, ke Filadelfia dan ke Laodikia."

KEPUTUSAN SINODE GEREJA DAN KEPUTUSAN PELAYANAN GEREJA MODERN

  KEPUTUSAN SINODE GEREJA DAN KEPUTUSAN PELAYANAN GEREJA MODERN “Ketika Pendidikan Teologi dan Kekuasaan Pelayanan Tidak Selalu Berjalan Sei...