Thursday, April 28, 2022

PENGINGAT DIRI 2 (PEMIMPIN)








Pemimpin yang tidak berkenan kepada TUHAN

✍️Pemimpin Pembrontak

✍️Pemimpin Bersekongkol dengan Pencuri

✍️Pemimpin suka menerima suap (Kebijakan/Materi) 

✍️Pemimpin tidak membela hak anak Yatim/Janda-janda (Orang lemah & kekurangan) 

Yesaya 1:23 (TB) Para pemimpinmu adalah pemberontak dan bersekongkol dengan pencuri. Semuanya suka menerima suap dan mengejar sogok. Mereka tidak membela hak anak-anak yatim, dan perkara janda-janda tidak sampai kepada mereka. 

Akibatnya:

✍️ Kubebaskan dengan Penghakiman yang Adil. 

✍️ Orang berdosa akan kubebaskan dengan tindakan yang benar. 

✍️ Orang-orang yang membrontak dihancurkan

✍️ Orang-orang  yang berdosa dihancurkan. 

✍️ Orang-orang yang meninggalkan Tuhan akan dihabiskan (Binasa). 

Yesaya 1:25-28:

Aku akan bertindak terhadap engkau: Aku akan memurnikan perakmu dengan garam soda, dan akan menyingkirkan segala timah dari padanya. 

Aku akan mengembalikan para hakimmu seperti dahulu, dan para penasihatmu seperti semula. Sesudah itu engkau akan disebutkan kota keadilan, kota yang setia." 

Sion akan Kubebaskan dengan penghakiman yang adil dan orang-orangnya yang bertobat akan Kubebaskan dengan tindakan yang benar. 

Tetapi orang-orang yang memberontak dan orang-orang berdosa akan dihancurkan bersama, dan orang-orang yang meninggalkan TUHAN akan habis lenyap. 

✍️Jadi, pemimpin yang berkenan kepada Tuhan selalu disertaiNya, walapun kesulitan dan persoalan yang datang silih berganti (terkadang tidak disukai karena menegakan kebenaran firman TUHAN). Tetapi pemimpin yang melakukan kejahatan akan mengalami kesulitan, kejatuhan & kebinasaan yang sangat fatal bukan kepada dirinya sendiri tetapi kepada keluarga dan komunitasnya. (YP) 


Tuesday, April 26, 2022

PENGINGAT DIRI 1: (PEMIMPIN) )



Pengingat Diri: (Pemimpin) 

✍️Mencari popularitas (Mencari perhatian tapi bukan niat tulus didalam melayani) 

✍️Mencari Pujian/Penghormatan (Maunya selalu dihargai tetapi tidak menghargai) 

✍️Menyenangkan orang lain (untuk kepentingan diri & kepuasan kroni-kroninya, bahkan akan menimbulkan pembrontak baru diwaktu mendatang jika ada kebijakan yang tdk menguntungkan dirinya (keluarganya) dari pemimpin baru. 

✍️Mencari keuntungan "Finansial" untuk waktu sesaat selama masa memimpin (Tidak memikirkan generasi berikutnya). 

✍️Melakukan Pelayanan dengan berbalut kata "Rohani" tetapi prilakunya tidak rohani, (selalu ada perbedaan didalam melayani antara orang miskin dan kaya, Jauh dan dekat dll). 

2 Timotius 3:1-9, Yakobus 3:14, Yakobus 3:16, Yudas 1:12

✍️Hal-hal seperti ini dapat membuat pelayanan, organisasi, kelompok dapat berjalan baik, menyenangkan orang dan mendapat pujian tetapi tidak menyenangkan hati Tuhan, tidak sesuai Alkitab (Kitab Suci) bahkan membawa umat kepada kebinasaan. 

2 Timotius 3:1-9
(Keadaan Manusia pada akhir zaman)
Ketahuilah bahwa pada hari-hari terakhir akan datang masa yang sukar. Manusia akan mencintai dirinya sendiri dan menjadi hamba uang. Mereka akan membual dan menyombongkan diri, mereka akan menjadi pemfitnah, mereka akan berontak terhadap orang tua dan tidak tahu berterima kasih, tidak mempedulikan agama, tidak tahu mengasihi, tidak mau berdamai, suka menjelekkan orang, tidak dapat mengekang diri, garang, tidak suka yang baik, suka mengkhianat, tidak berpikir panjang, berlagak tahu, lebih menuruti hawa nafsu dari pada menuruti Allah. Secara lahiriah mereka menjalankan ibadah mereka, tetapi pada hakekatnya mereka memungkiri kekuatannya. Jauhilah mereka itu! Sebab di antara mereka terdapat orang-orang yang menyelundup ke rumah orang lain dan menjerat perempuan-perempuan lemah yang sarat dengan dosa dan dikuasai oleh berbagai-bagai nafsu, yang walaupun selalu ingin diajar, namun tidak pernah dapat mengenal kebenaran. Sama seperti Yanes dan Yambres menentang Musa, demikian juga mereka menentang kebenaran. Akal mereka bobrok dan iman mereka tidak tahan uji. Tetapi sudah pasti mereka tidak akan lebih maju, karena seperti dalam hal Yanes dan Yambres, kebodohan mereka pun akan nyata bagi semua orang.


Yakobus 3:14
Jika kamu menaruh perasaan iri hati dan kamu mementingkan diri sendiri, janganlah kamu memegahkan diri dan janganlah berdusta melawan kebenaran!


Yakobus 3:16
Sebab di mana ada iri hati dan mementingkan diri sendiri di situ ada kekacauan dan segala macam perbuatan jahat.


Yudas 1:12
Mereka inilah noda dalam perjamuan kasihmu, di mana mereka tidak malu-malu melahap dan hanya mementingkan dirinya sendiri; mereka bagaikan awan yang tak berair, yang berlalu ditiup angin; mereka bagaikan pohon-pohon yang dalam musim gugur tidak menghasilkan buah, pohon-pohon yang terbantun dengan akar-akarnya dan yang mati sama sekali. (YP) 
Bersambung...



Monday, March 21, 2022

Doa Orang Benar sangat Besar KuasaNya


Doa Orang Benar sangat Besar KuasaNya Yakobus 5:15-16⛪

Yakobus 5:15

Dan doa yang lahir dari iman akan menyelamatkan orang sakit itu dan Tuhan akan membangunkan dia; dan jika ia telah berbuat dosa, maka dosanya itu akan diampuni.

Yakobus 5:16

Karena itu hendaklah kamu saling mengaku dosamu dan saling mendoakan, supaya kamu sembuh. Doa orang yang benar, bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya.

Setiap orang percaya pasti ingin supaya doanya dikabulkan oleh Tuhan, Namun orang yang meminta pertolonga kepadaNya, apakah sudah benar-benar meyakini Kristus sebagai Juruselamat Peribadi yang sanggup memulihkan hidupnya?

Bagaimana cara berdoa yang benar dan dikehendaki Allah?

1. Doa yang lahir dari Iman (ayat 15)

2. Mengaku Dosa (ayat 16a)

3. Saling Mendoakan (ayat 16b)

4. Yakin dengan Doa yang kita Naikan (16c) Hanya Kepada Yesus sebagai Tuhan Juruselamat dan Penyembuh kita #sangat besar KuasaNya#

Mangapa kita harus berdoa?

1. Karena Doa Menyelamatkan orang sakit (ayat 15).

2. Karena Doa membangunkan orang sakit (ayat 15b).

3. Karena Doa Menghapus/mengampuni dosa (ayat 15c).

4. Karena Doa Orang Benar dengan Yakin didoakan sangat besar kuasaNya (ayat 16).

Kesimpulannya

Orang yang sudah menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat secara pribadi otomatis di sudah tinggal didalam Kasih Allah yang besar itu. Maka apa pun yang dilakukan pasti ada perlindungan dari Allah Melalui Kristus Yesus yang kita percayai. Dengan demikian apapun permasalah dosa, sakit penyakit, pergumulan, persoalan/problem yang kita hadapi tidak melebihi kekuatan kita karena ada Yesus yang sanggup membebaskan dan memulihkan kita. Amin

*Yesaya Penlobang* 

Saturday, March 19, 2022

Keyakinan Iman



Keyakinan Iman

Apakah Iman kita tidak bertumbuh? 

Mungkinkah Iman kita  statis, tidak mundur, juga tidak maju? Apa yang terjadi? Hal itu dikarenakan kita gagal mengenali hambatan-hambatan yang menghalangi pertumbuhan Iman kita. Iman tidak berhenti ketika kita mengambil keputusan percaya dan bertobat kepada Yesus Kristus. Iman harus di jalani, iman harus bertumbuh, berbuah, sampai mencapai tingkat kedewasaan penuh. Pertumbuhan iman adalah keharusan untuk kehidupan rohani yang berhasil dan produktif.

Alkitab dalam 2 Petrus 3:18 dan Efesus 4:13-15 memerintahkan kita agar bertumbuh dalam kasih karunia dan dalam pengenalan akan Tuhan Yesus Kristus, dan mencapai kedewasaan penuh.

Ada 6 alasan mengapa kita harus bertumbuh dan menghasilkan buah:

1. Bertumbuh dan berbuah menunjukan bahwa kehidupan rohani kita hidup

2. Bertumbuh dan berbuah menghindarkan kita dari kehidupan rohani yang tidak efektif.

3. Bertumbuh dan berbuah menghindarkan kita dari bahaya disesatkan (Efesus 4:13-14).

4. Bertumbuh dan berbuah menghindarkan kita dari kemurtadan (Ibr. 6).

5. Bertumbuh dan berbuah membuktikan bahwa kita adalah orang Kristen sejati (Yohanes 15:8)

6. Bertumbuh dan berbuah adalah cara kita memuliakan Tuhan (Yohanes 15:8).

Dr. Warren Wiersbe mengatakan, “persoalan terbesar dalam gereja bukan soal keuangan, tetapi soal ketidakdewasaan iman.” Artinya, jika orang Kristen bersikap masa bodoh terhadap kondisi imannya, sikapnya itu akan memunculkan banyak masalah dalam gereja dan kehidupan pribadinya.

Dalam perjalanan iman menuju kedewasaaan penuh, iblis dengan tipuan muslihatnya menyebarkan ranjau, jebakan, guna menghambat pertumbuhan iman kita. Iblis tidak akan pernah berhenti mengganggu kita sampai kita terkapar jatuh. Amin

Wednesday, November 10, 2021

SEJARAH GKII DI BALI



SEJARAH GKII DI BALI

(11 November 1931 – 11 November 2021)


Tulisan ini mencoba menyajikan sebuah catatan sejarah bagaimana Tuhan membuka dan memelihara gereja-Nya, dan memakai Gereja Kemah Injil Indonesia memenangkan Bali bagi Tuhan. 


MELETAKAN DASAR

Dr. R. A. Jaffray

Tahun1929 Dr. R. A. Jaffray sekembalinya dari Bali, Tuhan menyatakn visi membawa Bali menjadi bagian dari Kerajaan Sorga. Tetapi penginjilan di Bali tidak semudah yang diharapkan karena pemerintah Hindia Belada tidak mengijinkan. Berbagai usaha telah dilakukan namun izin untuk penginjilan tetap tidak diperoleh. 

Tuhan memberi hikmat Dr. Jeffray untuk menyampaikan berita Injil kepada warga Tionghoa. Sementara izin belum diperolehnya, ia menantang mahasiswa teologia Alliance Bible Seminary di Tiongkok untuk mengambil bagian dalam penginjilan di Bali. Tantangan itu diresponi oleh Tsang To Hang. 

MASA PERSIAPAN

Tsang To Hang

Tsang To Hang yang terlahir dengan nama Tsang Kam Foek, dari sebuah keluarga miskin dari daratan China. Ia merupakan salah seorang perintis C.F.M.U. (The Chinese Foreign Missionarry Union / Misi Penginjilan Tionghoa Untuk Seberang Lautan)  yaitu sebuah badan misi penginjilan yang pertama di Tiongkok. Badan ini terbentuk dari gagasan beberapa hamba Tuhan yang berkebangsaan Tionghoa pada tahun 1928 yang diketuai oleh Dr. Leland Wang. Dalam pelaksanaannya, C.F.M.U berada di bawah pimpinan Dr. R. A. Jaffray, yang juga pada waktu itu sebagai ketua dari C.M.A. (Christian and Missionary Alliance) yaitu badan misi yang menaungi Gereja Kemah Injil. 

Pada tahun 1929 Tsang To Hang dan keluarga meninggalkan negaranya dengan berlayar menuju Indonesia. Pada bulan Februari 1930 mereka tiba di Makassar. Konfrensi C.F.M.U. dan C.M.A. memutuskan untuk mengirim Tsang To Hang ke Lombok sambil menunggu izin dari pemerintah Hindia Belanda. Dari apa yang diputuskan tersebut Tsang To Hang dan keluarga berlayar ke pulau Lombok. Di pulau ini ia tinggal sambil belajar bahasa Melayu (red. Indonesia). 

Januari 1931 merupakan titik awal dari pekerjaan Tuhan di Bali melalui pelayanan C.F.M.U. dan C.M.A. karena telah diperoleh izin penginjilan di Bali dari Pemerintah Hindia Belanda. Kesempatan ini langsung disambut dengan semangat yang tinggi oleh Tsang To Hang. Satu bulan semenjak izin di terima Dr. R. A. Jaffray, Tsang To Hang dan keluarganya pindah dari Lombok ke Bali dan menetap di Wangaya, Denpasar. 

MASA MENABUR

Sekitar tiga bulan setelah Tsang To Hang tiba di Bali, ia memulai pekerjaan penginjilannya. Bulan Mei 1931 pekerjaannya membuahkan hasil, empat orang Tionghoa dibaptis. Baptisan pertama ini dilakukan oleh Dr. R. A. Jaffray. Tiga dari empat orang yang dibaptis ini adalah orang Tionghoa-Bali. Salah satu dari ketiga orang ini bernama Ang Wei Chik. 

Pintu berita keselamatan bagi Bali mulai menyala. Ang Wei Chik berhasil membawa I Gusti Made Rinda percaya dan menerima Tuhan Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamatnya. Dari I Gusti Made Rinda berita Injil mulai bergema kepada sahabat-sahabatnya yang ada di Untal Untal seperti I Made Risin, dan juga kepada desa-desa yang ada di sekitarnya. 

Tukad Yeh Poh merupakan saksi alam yang menyaksikan terbukanya pintu keselamatan bagi orang Bali karena di sungai ini pada tanggal 11 November 1931 Dr. R. A. Jaffray membaptis Pan Loting, I Gusti Putu Sanur, Pekak Timotius, Pan Bungkalan, Pan Lipeng, Made Gelendung dan Pan Made Paul. Kesaksian Pan Loting yang disampaikan kepada murid-muridnya menunjukkan adanya semangat hidup baru, “Sekarang kita telah menjadi orang baru, yaitu orang-orang masehi”. Kata-kata yang sederhana tersebut membangun semangat dan kerinduan bagi murid-muridnya sehingga mereka menyambut dengan gembira berita yang disampaikan oleh Pan Loting. 

Kesaksian yang penuh dengan keberanian tidak hanya dilakukan kepada sesama orang Bali. Setelah Pemerintah Belanda mengetahui bahwa kekristenan sudah berkembang di antara orang Bali, mereka melakukan penyelidikan ke desa-desa di mana kekristenan mulai bertumbuh. Ketika penyelidikan dilakukan di desa Abian Base, mereka memerintahkan kepada kepala desa untuk mengumpulkan penduduk yang sudah beragama Kristen. Setelah mereka berkumpul, pemerintah Belanda mulai bertanya kepada mereka, “Apakah kalian sudah tahu dan memeluk agama Kristen?”. Seorang dari antara penduduk berdiri dan menjawab, “Apa yang Tuan maksudkan kami tidak mengerti, tetapi yang kami ketahui bahwa bila kami percaya kepada Yesus, dosa kami diampuni dan kami memperoleh keselamatan dan ada harapan untuk memperoleh hidup yang kekal“. Pemerintah Belanda kembali bertanya, ”Yesus yang kalian percaya itu siapa?”. Dengan serentak mereka menjawab, ”Yesus adalah Kristus, Anak Allah yang kekal”. Jawaban tersebut membuat pemerintah Belanda kagum dan tidak menduga jauh dari apa yang telah menjadi kenyataan. Peristiwa di desa Abian Base akhirnya meluluhkan hati pemerintah Belanda, dengan turut ambil bagian pelayanan penginjilan di Bali meskipun harus menerima kecaman yang keras dari tokoh-tokoh agama Hindu.

MASA KESESAKAN 

Tantangan dari masyarakat  

Keyakinan akan kuasa Kristus yang menang atas kuasa-kuasa lain, mendorong suatu demonstrasi untuk meruntuhkan Pura-Pura keluarga orang-orang yang sudah menerima Kristus. Keputusan tersebut berdampak kepada kemarahan masyarakat di sekitar mereka. Akibatnya orang Kristen mengalami tekanan-tekanan dari para tokoh masyarakat Hindu.

Bentuk-bentuk tekanan yang mereka hadapi bermacam-macam. Mereka yang mengaku percaya kepada Kristus tidak diberi air untuk mengairi sawah-sawah mereka, dengan alasan air tersebut merupakan pemberian Dewa mereka. Orang Kristen tidak pernah mengadakan upacara sebagai tanda bersyukur kepada Dewa mereka, hal itu dilihat sebagai bentuk kedurhakaan orang-orang Kristen. 

Tekanan lain, adalah apabila ada di antara orang Kristen yang meninggal dunia tidak diizinkan dikuburkan di pemakaman (setra), dengan alasan adalah tempat tinggal Betara Durga. Mereka juga tidak diizinkan untuk menguburkan jenasah di tempat lain, seperti tanah pribadi dengan alasan mencemarkan desa. Satu-satunya jalan adalah dengan membawa jenasah ke luar dari desa menuju Denpasar untuk dikuburkan di pemakaman milik orang asing. Dalam perjalanan ke pemakaman tersebut hinaan dan cercaan terus menerpa. Rombongan kematian dihina dengan perkataan-perkataan yang kotor. Mereka dikatakan kelompok orang yang hendak memakamkan bangkai anjing yang sudah membusuk. Kadang-kadang rombongan jenasah tersebut dilepari batu. 

Hal yang tak kalah beratnya dihadapi oleh orang yang baru percaya adalah mereka kehilangan hak atas kekayaan keluarga karena mereka tidak lagi mau ambil bagian dalam upacara-upacara di Pura-Pura desa. Mereka diusir dan harus meninggalkan kampung tanpa membawa apa yang menjadi milik mereka.

Hambatan dari Pemerintah Belanda

Dalam kurun waktu sekitar dua tahun, tercatat ada 266 orang telah percaya Kristus melalui pelayanan Tsang To Hang. Perkembangan yang demikian pesat ini memunculkan kesulitan-kesulitan dalam pelayanan penginjilan. Tantangan dan hambatan mulai menekan orang-orang yang telah menerima Tuhan Yesus. Kecaman yang disampaikan oleh tokoh-tokoh masyarakat Hindu kepada pemerintah Hindia Belanda yang disertai dengan aksi-aksi yang tidak manusiawi membuat pemerintah Belanda mengambil sikap. Mereka menyadari bahwa apa yang telah terjadi adalah akibat ulah dari Tsang To Hang. Tahun 1934 pemerintah Hindia Belanda mencabut izin penginjilan di Bali dan mengusir Tsang To Hang dari Bali.

Dengan hati sedih, Tsang To Hang meninggalkan Bali. Kata perpisahan yang diucapkannya, “Sekarang saya akan pergi meninggalkan saudara dan meninggalkan pulau Bali, tetapi ingatlah bahwa Ia masih bersama-sama dengan saudara-saudara. Ia begitu mencintai saudara-saudara. Dia berkata Aku tidak akan meninggalkan kamu yatim piatu, Aku akan datang kembali kepadamu ( Yoh 14:18 )“.

Dengan dicabutnya izin pelayanan Tsang To Hang oleh Pemerintah Hindia Belanda, Dr. R. A. Jaffray dan C.M.A. memanggil pulang beberapa siswanya ke Makassar. Pelayanan di Bali oleh Pemerintah Hindia Belanda diserahkan kepada Gereja Presbytarian Belanda dan Misi Katolik, yang kemudian mempercayakan pelayanan mereka kepada Zending dari Gereja Kristen Jawi Wetan (GKJW). Sekalipun demikian beberapa orang percaya di Bali masih menjalin hubungan dengan C.M.A. di Makassar. Pada tahun 1934 jumlah orang yang percaya di Bali sekitar 600 orang. Puncak kesulitan yang dihadapi oleh C.M.A. adalah pada tahun 1936, di mana Gereja Presbytarian Belanda bekerjasama dengan GKJW memanggil beberapa siswa dari Bali yang sedang belajar Alkitab di Makassar.

Jalan maut yang mengubahkan

Melihat masalah-masalah yang terjadi setelah Injil diberitakan di Bali maka pihak pemerintahan waktu itu berinisiatif untuk melenyapkan orang Kristen secara tidak langsung. Alternatif yang terbaik adalah memindahkan orang Kristen tersebut ke sebuah daerah di bagian barat pulau Bali. Sebuah daerah hutan yang diyakini sebagai pusat kekuatan roh kegelapan. Daerah tersebut juga merupakan sarang dari nyamuk malaria yang mematikan. 

Inisiatif dari pemerintah untuk menyingkirkan orang Kristen dari Bali baru terwujud pada tahun 1939. Mereka diberi lahan di sebuah hutan di sekitar desa Melaya. Daerah tersebut akhirnya dikenal dengan nama desa Blimbingsari. Perjalanan dari Denpasar ke daerah tersebut membutuhkan waktu hampir sehari semalam dengan berjalan kaki. Perjalanan pertama diawali hanya oleh para suami, sedangkan istri dan anak ditinggalkan di Denpasar. Setelah daerah tujuan siap untuk dihuni dan dikerjakan barulah para istri dan anak-anak dijemput untuk berjuang dan tumbuh bersama-sama. 

Tempat baru di mana mereka tinggal adalah daerah yang menakutkan dan terisolir dari desa sekitar membuat mereka kesulitan menjual hasil pertanian. Kadang-kadang mereka melihat seekor ‘anjing’ hampir sebesar sapi dewasa. Tetapi dengan semangat iman yang masih membara mereka mengusir segala bentuk intimidasi Iblis dan meyakini bahwa mereka sekarang sedang merebut tanah Kanaan yang dijanjikan Allah. 

Kebaktian rumah tangga diadakan secara rutin setiap petang yang ditandai dengan bunyi kentongan yang dipukul oleh pengurus gereja. Sesuai dengan iman mereka, akhirnya daerah tersebut menjadi sebuah desa yang subur dan termasyur bagi  daerah-daerah yang ada disekitarnya. Apa yang diyakini dan diharapkan oleh pemerintah tidak terjadi sama sekali. Kuasa Allah telah mematahkan segala macam penyakit dan intimidasi Iblis.

Dipecah untuk semakin berbuah

Penyerahan pelayanan dan pembinaan  orang Kristen di Bali kepada Gereja Presbyterian Belanda yang bekerja sama dengan GKJW dirasakan kurang memuaskan. Penginjilan bukan lagi sebagai prioritas pelayanan, yang menjadi prioritas adalah pelayanan menuju kedewasaan. Hal lain yang juga menjadi pertanyaan adalah mengapa baptisan selam sesuai dengan yang diajarkan Alkitab digantikan dengan baptisan percik dan dilakukan ketika masih kanak-kanak?

Pertentangan ini akhirnya mencapai puncaknya pada tahun 1949 yang ditandai dengan pengunduran diri Pdt. I Wayan Pendak sebagai sekretaris Pesamuan Kristen. Pada tanggal 17 Juli 1949  Pdt. I Wayan Pendak, meletakkan jabatan sebagai Guru Injil dan menyatakan kembali meneruskan  pelayanan Gereja Sinar Injil (red. GKII). Langkah yang sama juga diambil oleh Pdt. I Ketut Geredeg. Mereka memiliki keputusan untuk kembali kepada pengajaran yang telah disampaikan oleh misi C.M.A. 

Sikap yang diambil oleh kedua tokoh tersebut diikuti oleh beberapa keluarga Kristen di Ambyarsari, Pakuseba, dan Untal Untal. Pengunduran diri tidak hanya dilakukan secara lisan, melainkan juga melalui surat penyataan yang ditulis oleh Pdt. I Wayan Pendak. Surat tersebut berbunyi sebagai berikut, ”Kami kepala rumah tangga yang bertanda tangan di bawah ini  (bertarti turut seisi rumah tangga), anggota GKPB dari kampung Untal Untal dan dari Ambyarsari menyatakan diri 1 Juli 1949 untuk Untal Untal dan 10 Maret 1952 untuk Ambyarsari, membebaskan diri dari Peraturan GKPB terhitung mulai 17 Februari  1952 kami menggabungkan diri dengan Kemah Injil”. Keputusan beberapa keluarga Kristen untuk kembali kepada pengajaran yang diajarkan C.M.A. menyatakan bahwa mereka tidak akan ambil bagian dalam segala bentuk kegiatan di GKPB. 

Apa yang menjadi komitmen dan pernyataan tersebut membawa dampak yang sangat besar yaitu kemarahan dari antara orang-orang GKPB di Ambyarsari. Mereka tetap menuntut agar yang memisahkan diri tetap ambil bagian dalam kegiatan di GKPB. Pertentangan terus memuncak sampai akhirnya terjadi aksi perampasan alat-alat dapur yang diprakarsai oleh Pan Cebur, sebagai reaksi atas mereka yang keluar dari GKPB. 

MASA PENUAIAN

Tanggal 10 maret 1952 merupakan hari bersejarah dimulainya kembali pelayanan Gereja Sinar Injil di Bali. Keluarga Pan Yunias, keluarga Pan Rastiti, keluarga Pan Seriah, keluarga Pan Majus, keluarga Pan Radeg, memutuskan untuk mengadakan kebaktian pertama dengan pola dari satu rumah ke rumah yang lain. Sampai akhirnya mereka mampu membangun sebuah gedung gereja. Lokasi yang dipergunakan adalah di atas tanah milik Pan Yunias sedangkan pastori dibangun di atas tanah milik Pan Radeg

Pelayanan kerohanian juga dilakukan secara swadaya, artinya apabila Pdt. I Wayan Pendak tidak hadir, maka dari antara mereka dipilih sebagai pengkhotbah. Kesadaran akan kuasa doa membuat jemaat dengan penuh semangat datang berdoa pagi dan belajar Firman Tuhan pada malam harinya. Demonstrasi kuasa darah Kristus terjadi dari tengah-tengah jemaat, di mana banyak saudara yang mengalami kelemahan menerima kekuatan dan tidak sedikit yang mengalami kesembuhan. Namun, perkembangan jemaat dan berbagai perbuatan ajaib yang Tuhan lakukan di tengah-tengah jemaat tidak jarang mendapat hinaan dari saudara di GKPB. Ada yang menyampaikan hinaan tersebut ketika mengusir burung di sawah dengan mengatakan, “Dalam Nama Yesus hai kamu setan emprit, saya usir kamu keluar dari tempat ini”. 

Kekuatan jemaat di Ambyarsari telah nyata dengan diutusnya hamba-hamba Tuhan ke berbagai pelosok Indonesia. Di samping itu beberapa gereja Kemah Injil yang ada di Kabupaten Jembrana adalah hasil pelayanan jemaat ini seperti, Jemaat Mendoyo dan Warnasari. Pos-pos Peginjilan juga dibuka seperti Tukad Daya, Banyu Biru. Wujud nyata dari pelayanan sebagai gereja yang missioner adalah dengan diputuskannya untuk memilih lokasi gereja keluar dari desa Blimbingsari ke desa Melaya. 

Demikianlah juga  lahir dan berdiri jemaat-jemaat dewasa di luar Ambyarsari, seperti: Untal Untal (1949), Pakuseba (1950), Singaraja (1954), Klungkung (1957), Tuban (1960), Denpasar (1962), Mendoyo (1963), Gianyar (1968).

Beberapa misionaris C.M.A. yang telah berjasa dan ikut terjun dalam melayani di lingkup GKII di Bali, seperti: John Wesley Brill, sejak tahun 1933 melayani di Bali secara partikelir; Mauriche dan Biola Bliss (1952); Rev. Rodger Lewis (1953-1992).

Kepemimpinan GKII di Bali masuk dalam lingkup pelayanan Badan Pengurus Wilayah Indonesia Timur II. Dari tahun 1960-1991 pelayanan di Bali di gabung dalam Badan Pengurus Daerah Bali dan NTB, dengan Ketua BPD, Pdt. J. P. Kantohe (1960-1963), Pdt. I Made Gelebug (1963-1966), Pdt. I Wayan Radeg (1966-1978), Pdt. DR. Luther Tubulau (1978-1982), Pdt. Dewa Gede Rena (3 periode, 1982-1991), Pdt. I Nyoman Enos, M.A. (1991-1996). (MA) 


Pada tahun 1996 GKII di Bali dipisah dari NTB menjadi daerah tersendiri, dengan Ketua BPD pertama Pdt. I Gusti Nyoman David Aryana, M.Th. (1996-2006), dilanjutkan oleh Pdt. Alfretz Tololiu, S.Th. (2006 sd 2016), sekarang Pdt. Margo Adi, S.Th. (2016 sd 2026).  


**ditulis dari berbagai sumber.

Wednesday, November 4, 2020

CHRISTIAN MISSIONARY ALLIANCE Gereja Kemah Injil Indonesia di Bali (11 November 1931 - 11 November 2020) Ditulis dari berbagai sumber dan diedit oleh (Pdt. Margo Adi)

 


89 TAHUN

CHRISTIAN MISSIONARY ALLIANCE
Gereja Kemah Injil Indonesia di Bali
(11 November 1931 - 11 November 2020)
Motto: Hanya Yesus
Doktrin: Injil Empat Berganda
(SALIB: Hanya Yesus Juruselamat Kita, BEJANA PEMBASUHAN: Hanya Yesus Pengudus Kita, BULI-BULI MINYAK: Hanya Yesus Penyembuh Kita, MAHKOTA: Hanya Yesus Raja Yang Akan Datang)
Pendiri: Albert Benjamin Simpson
Indonesia: Robert Alexander Jaffray
Bali: Tsang To Hang
Misi: Injil harus diberitakan sampai ke ujung bumi baru tiba kesudahannya (Matius 24:14)
Sejarah:
Tulisan ini mencoba menyajikan sebuah catatan sejarah Gereja Kemah Injil Indonesia di Bali.
Meletakan Dasar
Dr. R. A. Jeffray
Tahun1929 Dr. R. A. Jaffray sekembalinya dari Bali, Tuhan menyatakan visi membawa Bali menjadi bagian dari Kerajaan Sorga. Tetapi penginjilan di Bali tidak semudah yang diharapkan karena pemerintah Hindia Belada tidak mengijinkan. Berbagai usaha telah dilakukan namun izin untuk penginjilan tetap tidak diperoleh.
Tuhan memberi hikmat Dr. Jaffray untuk menyampaikan berita Injil kepada warga Tionghoa. Sementara izin belum diperolehnya, ia menantang mahasiswa teologia Alliance Bible Seminary di Tiongkok untuk mengambil bagian dalam penginjilan di Bali. Tantangan itu diresponi oleh Tsang To Hang.
Masa Persiapan
Tsang To Hang
Tsang To Hang yang terlahir dengan nama Tsang Kam Foek, dari sebuah keluarga miskin dari daratan China. Ia merupakan salah seorang perintis CFMU (The Chinese Foreign Missionarry Union / Misi Penginjilan Tionghoa Untuk Seberang Lautan) yaitu sebuah badan misi penginjilan yang pertama di Tiongkok. Badan ini terbentuk dari gagasan beberapa hamba Tuhan yang berkebangsaan Tionghoa pada tahun 1928 yang diketuai oleh Dr. Leland Wang. Dalam pelaksanaannya, CFMU berada di bawah pimpinan Dr. R. A. Jaffray, yang juga pada waktu itu sebagai ketua dari CMA (Christian and Missionary Alliance) yaitu badan misi yang menaungi Gereja Kemah Injil.
Pada tahun 1929 Tsang To Hang dan keluarga meninggalkan negaranya dengan berlayar menuju Indonesia. Pada bulan Februari 1930 mereka tiba di Makassar. Konfrensi CFMU dan CMA memutuskan untuk mengirim Tsang To Hang ke Lombok sambil menunggu izin dari pemerintah Hindia Belanda. Dari apa yang diputuskan tersebut Tsang To Hang dan keluarga berlayar ke pulau Lombok. Di pulau ini ia tinggal sambil belajar bahasa Melayu (red. Indonesia).
Januari 1931 merupakan titik awal dari pekerjaan Tuhan di Bali melalui pelayanan CFMU dan CMA karena telah diperoleh izin penginjilan di Bali dari Pemerintah Hindia Belanda. Kesempatan ini langsung disambut dengan semangat yang tinggi oleh Tsang To Hang. Satu bulan semenjak izin di terima Dr. R. A. Jaffray, Tsang To Hang dan keluarganya pindah dari Lombok ke Bali dan menetap di Wangaya, Denpasar.
Masa Menabur
Sekitar tiga bulan setelah Tsang To Hang tiba di Bali, ia memulai pekerjaan penginjilannya. Bulan Mei 1931 pekerjaannya membuahkan hasil, empat orang Tionghoa dibaptis. Baptisan pertama ini dilakukan oleh Dr. R. A. Jaffray. Tiga dari empat orang yang dibaptis ini adalah orang Tionghoa-Bali. Salah satu dari ketiga orang ini bernama Ang Wei Chik.
Pintu berita keselamatan bagi Bali mulai menyala. Ang Wei Chik berhasil membawa I Gusti Made Rinda percaya dan menerima Tuhan Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamatnya. Dari I Gusti Made Rinda berita Injil mulai bergema kepada sahabat-sahabatnya yang ada di Untal Untal seperti I Made Risin, dan juga kepada desa-desa yang ada di sekitarnya.
Tukad Yeh Poh merupakan saksi alam yang menyaksikan terbukanya pintu keselamatan bagi orang Bali karena di sungai ini pada tanggal 11 November 1931 Dr. R. A. Jaffray membaptis Pan Loting, I Gusti Putu Sanur, Pekak Timotius, Pan Bungkalan, Pan Lipeng, Made Gelendung dan Pan Made Paul. Kesaksian Pan Loting yang disampaikan kepada murid-muridnya menunjukkan adanya semangat hidup baru, “Sekarang kita telah menjadi orang baru, yaitu orang-orang masehi”. Kata-kata yang sederhana tersebut membangun semangat dan kerinduan bagi murid-muridnya sehingga mereka menyambut dengan gembira berita yang disampaikan oleh Pan Loting.
Kesaksian yang penuh dengan keberanian tidak hanya dilakukan kepada sesama orang Bali. Setelah Pemerintah Belanda mengetahui bahwa kekristenan sudah berkembang di antara orang Bali, mereka melakukan penyelidikan ke desa-desa di mana kekristenan mulai bertumbuh. Ketika penyelidikan dilakukan di desa Abianbase, mereka memerintahkan kepada kepala desa untuk mengumpulkan penduduk yang sudah beragama Kristen. Setelah mereka berkumpul, pemerintah Belanda mulai bertanya kepada mereka, “Apakah kalian sudah tahu dan memeluk agama Kristen?” Seorang dari antara penduduk berdiri dan menjawab, “Apa yang Tuan maksudkan kami tidak mengerti, tetapi yang kami ketahui bahwa bila kami percaya kepada Yesus, dosa kami diampuni dan kami memperoleh keselamatan dan ada harapan untuk memperoleh hidup yang kekal.“ Pemerintah Belanda kembali bertanya, ”Yesus yang kalian percaya itu siapa?” Dengan serentak mereka menjawab, ”Yesus adalah Kristus, Anak Allah yang kekal.” Jawaban tersebut membuat pemerintah Belanda kagum dan tidak menduga jauh dari apa yang telah menjadi kenyataan. Peristiwa di desa Abianbase akhirnya meluluhkan hati pemerintah Belanda, dengan turut ambil bagian pelayanan penginjilan di Bali meskipun harus menerima kecaman yang keras dari tokoh-tokoh agama Hindu.
Masa Kesesakan
1. Tantangan dari masyarakat pribumi.
Keyakinan akan kuasa Kristus yang menang atas kuasa-kuasa lain, mendorong suatu demonstrasi untuk meruntuhkan tampat sembahyang keluarga orang-orang yang sudah menerima Kristus. Keputusan tersebut berdampak kepada kemarahan masyarakat di sekitar mereka. Akibatnya orang Kristen mengalami tekanan-tekanan dari para tokoh masyarakat Hindu.
Bentuk-bentuk tekanan yang mereka hadapi bermacam-macam. Mereka yang mengaku percaya kepada Kristus tidak diberi air untuk mengairi sawah-sawah mereka, dengan alasan air tersebut merupakan pemberian Dewa mereka. Orang Kristen tidak pernah mengadakan upacara sebagai tanda bersyukur kepada Dewa mereka, hal itu dilihat sebagai bentuk kedurhakaan orang-orang Kristen.
Tekanan lain, adalah apabila ada di antara orang Kristen yang meninggal dunia tidak diizinkan dikuburkan di pemakaman (setra), dengan alasan adalah tempat tinggal Betara Durga. Mereka juga tidak diizinkan untuk menguburkan jenasah di tempat lain, seperti tanah pribadi dengan alasan mencemarkan desa. Satu-satunya jalan adalah dengan membawa jenasah ke luar dari desa menuju Denpasar untuk dikuburkan di pemakaman milik orang asing. Dalam perjalanan ke pemakaman tersebut hinaan dan cercaan terus menerpa. Rombongan kematian dihina dengan perkataan-perkataan yang kotor. Mereka dikatakan kelompok orang yang hendak memakamkan bangkai anjing yang sudah membusuk. Kadang-kadang rombongan jenazah tersebut dilepari batu.
Hal yang tak kalah beratnya dihadapi oleh orang yang baru percaya adalah mereka kehilangan hak atas kekayaan keluarga karena mereka tidak lagi mau ambil bagian dalam upacara-upacara di Pura desa. Mereka diusir dan harus meninggalkan kampung tanpa membawa apa yang menjadi milik mereka.
2. Hambatan dari Pemerintah Belanda.
Dalam kurun waktu sekitar dua tahun, tercatat ada 266 orang telah percaya Kristus melalui pelayanan Tsang To Hang. Perkembangan yang demikian pesat ini memunculkan kesulitan-kesulitan dalam pelayanan penginjilan. Tantangan dan hambatan mulai menekan orang-orang yang telah menerima Tuhan Yesus. Kecaman yang disampaikan oleh tokoh-tokoh masyarakat Hindu kepada pemerintah Hindia Belanda yang disertai dengan aksi-aksi yang tidak manusiawi membuat pemerintah Belanda mengambil sikap. Mereka menyadari bahwa apa yang telah terjadi adalah akibat ulah dari Tsang To Hang. Tahun 1934 pemerintah Hindia Belanda mencabut izin penginjilan di Bali dan mengusir Tsang To Hang dari Bali.
Dengan hati sedih, Tsang To Hang meninggalkan Bali. Kata perpisahan yang diucapkannya, “Sekarang saya akan pergi meninggalkan saudara dan meninggalkan pulau Bali, tetapi ingatlah bahwa Ia masih bersama-sama dengan saudara-saudara. Ia begitu mencintai saudara-saudara. Dia berkata Aku tidak akan meninggalkan kamu yatim piatu, Aku akan datang kembali kepadamu ( Yoh 14:18 )“.
Dengan dicabutnya izin pelayanan Tsang To Hang oleh Pemerintah Hindia Belanda, Dr. R. A. Jaffray dan CMA memanggil pulang beberapa siswanya ke Makassar. Pelayanan di Bali oleh Pemerintah Hindia Belanda diserahkan kepada Gereja Presbytarian Belanda dan Misi Katolik, yang kemudian mempercayakan pelayanan mereka kepada Zending dari Gereja Kristen Jawi Wetan (GKJW). Sekalipun demikian beberapa orang percaya di Bali masih menjalin hubungan dengan CMA di Makassar. Pada tahun 1934 jumlah orang yang percaya di Bali sekitar 600 orang. Puncak kesulitan yang dihadapi oleh CMA adalah pada tahun 1936, di mana Gereja Presbytarian Belanda bekerjasama dengan GKJW memanggil beberapa siswa dari Bali yang sedang belajar Alkitab di Makassar.
3. Jalan maut yang mengubahkan.
Melihat masalah-masalah yang terjadi setelah Injil diberitakan di Bali maka pihak pemerintahan waktu itu berinisiatif untuk melenyapkan orang Kristen secara tidak langsung. Alternatif yang terbaik adalah memindahkan orang Kristen tersebut ke sebuah daerah di bagian barat pulau Bali. Sebuah daerah hutan yang diyakini sebagai pusat kekuatan roh kegelapan. Daerah tersebut juga merupakan sarang dari nyamuk malaria yang mematikan.
Inisiatif dari pemerintah untuk menyingkirkan orang Kristen dari Bali baru terwujud pada tahun 1939. Mereka diberi lahan di sebuah hutan di sekitar desa Melaya. Daerah tersebut akhirnya dikenal dengan nama desa Blimbingsari. Perjalanan dari Denpasar ke daerah tersebut membutuhkan waktu hampir sehari semalam dengan berjalan kaki. Perjalanan pertama diawali hanya oleh para suami, sedangkan istri dan anak ditinggalkan di Denpasar. Setelah daerah tujuan siap untuk dihuni dan dikerjakan barulah para istri dan anak-anak dijemput untuk berjuang dan tumbuh bersama-sama.
Tempat baru di mana mereka tinggal adalah daerah yang menakutkan dan terisolir dari desa sekitar membuat mereka kesulitan menjual hasil pertanian. Kadang-kadang mereka melihat seekor ‘anjing’ hampir sebesar sapi dewasa. Tetapi dengan semangat iman yang masih membara mereka mengusir segala bentuk intimidasi Iblis dan meyakini bahwa mereka sekarang sedang merebut tanah Kanaan yang dijanjikan Allah.
Kebaktian rumah tangga diadakan secara rutin setiap petang yang ditandai dengan bunyi kentongan yang dipukul oleh pengurus gereja. Sesuai dengan iman mereka, akhirnya daerah tersebut menjadi sebuah desa yang subur dan termasyur bagi daerah-daerah yang ada disekitarnya. Apa yang diyakini dan diharapkan oleh pemerintah tidak terjadi sama sekali. Kuasa Allah telah mematahkan segala macam penyakit dan intimidasi Iblis.
4. Dipecah untuk semakin berbuah.
Penyerahan pelayanan dan pembinaan orang Kristen di Bali kepada Gereja Presbyterian Belanda yang bekerja sama dengan GKJW dirasakan kurang memuaskan. Penginjilan bukan lagi sebagai prioritas pelayanan, yang menjadi prioritas adalah pelayanan menuju kedewasaan. Hal lain yang juga menjadi pertanyaan adalah mengapa baptisan selam sesuai dengan yang diajarkan Alkitab digantikan dengan baptisan percik dan dilakukan ketika masih kanak-kanak?
Pertentangan ini akhirnya mencapai puncaknya pada tahun 1949 yang ditandai dengan pengunduran diri Pdt. I Wayan Pendak sebagai sekretaris Pesamuan Kristen. Pada tanggal 17 Juli 1949 Pdt. I Wayan Pendak, meletakkan jabatan sebagai Guru Injil dan menyatakan kembali meneruskan pelayanan Gereja Sinar Injil (red. GKII). Langkah yang sama juga diambil oleh Pdt. I Ketut Geredeg. Mereka memiliki keputusan untuk kembali kepada pengajaran yang telah disampaikan oleh misi CMA.
Sikap yang diambil oleh kedua tokoh tersebut diikuti oleh beberapa keluarga Kristen di Ambyarsari, Pakuseba, dan Untal Untal. Pengunduran diri tidak hanya dilakukan secara lisan, melainkan juga melalui surat penyataan yang ditulis oleh Pdt. I Wayan Pendak. Surat tersebut berbunyi sebagai berikut, ”Kami kepala rumah tangga yang bertanda tangan di bawah ini (bertarti turut seisi rumah tangga), anggota GKPB dari kampung Untal Untal dan dari Ambyarsari menyatakan diri 1 Juli 1949 untuk Untal Untal dan 10 Maret 1952 untuk Ambyarsari, membebaskan diri dari Peraturan GKPB terhitung mulai 17 Februari 1952 kami menggabungkan diri dengan Kemah Injil.” Keputusan beberapa keluarga Kristen untuk kembali kepada pengajaran yang diajarkan CMA menyatakan bahwa mereka tidak akan ambil bagian dalam segala bentuk kegiatan di GKPB.
Apa yang menjadi komitmen dan pernyataan tersebut membawa dampak yang sangat besar yaitu kemarahan dari antara orang-orang GKPB di Ambyarsari. Mereka tetap menuntut agar yang memisahkan diri tetap ambil bagian dalam kegiatan di GKPB. Pertentangan terus memuncak sampai akhirnya terjadi aksi perampasan alat-alat dapur yang diprakarsai oleh Pan Cebur, sebagai reaksi atas mereka yang keluar dari GKPB.
Masa Penuaian
Tanggal 10 maret 1952 merupakan hari bersejarah dimulainya kembali pelayanan Gereja Sinar Injil di Bali. Keluarga Pan Yunias, keluarga Pan Rastiti, keluarga Pan Seriah, keluarga Pan Majus, keluarga Pan Radeg, memutuskan untuk mengadakan kebaktian pertama dengan pola dari satu rumah ke rumah yang lain. Sampai akhirnya mereka mampu membangun sebuah gedung gereja. Lokasi yang dipergunakan adalah di atas tanah milik Pan Yunias sedangkan pastori dibangun di atas tanah milik Pan Radeg
Pelayanan kerohanian juga dilakukan secara swadaya, artinya apabila Pdt. I Wayan Pendak tidak hadir, maka dari antara mereka dipilih sebagai pengkhotbah. Kesadaran akan kuasa doa membuat jemaat dengan penuh semangat datang berdoa pagi dan belajar Firman Tuhan pada malam harinya. Demonstrasi kuasa darah Kristus terjadi dari tengah-tengah jemaat, di mana banyak saudara yang mengalami kelemahan menerima kekuatan dan tidak sedikit yang mengalami kesembuhan. Namun, perkembangan jemaat dan berbagai perbuatan ajaib yang Tuhan lakukan di tengah-tengah jemaat tidak jarang mendapat hinaan dari saudara di GKPB. Ada yang menyampaikan hinaan tersebut ketika mengusir burung di sawah dengan mengatakan, “Dalam Nama Yesus hai kamu setan emprit, saya usir kamu keluar dari tempat ini”.
Kekuatan jemaat di Ambyarsari telah nyata dengan diutusnya hamba-hamba Tuhan ke berbagai pelosok Indonesia. Di samping itu beberapa gereja Kemah Injil yang ada di Kabupaten Jembrana adalah hasil pelayanan jemaat ini seperti, Jemaat Mendoyo dan Warnasari. Pos-pos Peginjilan juga dibuka seperti Tukad Daya, Banyu Biru. Wujud nyata dari pelayanan sebagai gereja yang missioner adalah dengan diputuskannya untuk memilih lokasi gereja keluar dari desa Blimbingsari ke desa Melaya.
Demikianlah juga telah lahir dan berdiri jemaat-jemaat dewasa di luar Ambyarsari, seperti: Untal Untal (1949), Pakuseba (1950), Singaraja (1954), Klungkung (1957), Tuban (1960), Denpasar (1962), Mendoyo (1963), Gianyar (1968), Ubud (1983), Nusa Dua (1988).
Beberapa misionaris CMA yang telah berjasa dan ikut terjun dalam melayani di lingkup GKII di Bali, seperti: John Wesley Brill, sejak tahun 1933 melayani secara partikelir; Mauriche dan Biola Bliss (1952); Rev. Rodger Lewis (1953-1992).
Sampai kini pelayanan GKII sudah tersebar diberbagai lokasi di Bali, di antaranya:
Kabupaten JEMBRANA:
GKII Ambyarsari, GKII Mendoyo, GKII Warnasari, Pos PI GKII Yeh Embang, GKII Negara, GKII Gilimanuk, Pos PI GKII Melaya
Kabupaten TABANAN:
GKII Tabanan, GKII Bajera, GKII Kota Tabanan, Pos PI GKII Pupuan
Kabupaten BULELENG:
GKII Singaraja, GKII Munduk, GKII Banyuseri, Pos PI GKII Sorga, Pos PI GKII Gerokgak, Pos PI GKII Pedawa, Pos PI GKII Gobleg, Pos PI GKII Pancasari, Pos PI GKII Mayungan, Pos PI GKII Banyuwedang, Pos PI GKII Busung Biu, GKII Bungkulan, Pos PI GKII Sembiran
Kabupaten KARANGASEM:
Pos PI GKII Amlapura, GKII Munti Gunung
Kabupaten KLUNGKUNG:
GKII Semarapura, Pos PI GKII Besan, Pos PI GKII Nusa Penida, Pos PI GKII Uma Lemek
Kabupaten BANGLI:
Pos PI GKII Bangli
Kabupaten GIANYAR:
GKII Pakuseba, GKII Gianyar, GKII Ubud, GKII Ketewel, Pos PI GKII Lebih
Kabupaten BADUNG:
GKII Dalung, GKII Tuban, GKII Nusa Dua, GKII Kerobokan, Pos PI GKII Bukit Jimbaran, Pos PI GKII Munggu, Pos PI GKII Ungasan
Kodya DENPASAR:
GKII Melati, GKII Buana Raya, GKII Bulu Indah, GKII Kepaon, GKII Persadasari, Pos PI GKII Ubung,
Kepemimpinan GKII di Bali masuk dalam lingkup pelayanan Badan Pengurus Wilayah Indonesia Timur II. Dari tahun 1960-1991 pelayanan di Bali di gabung dalam Badan Pengurus Daerah Bali dan NTB, dengan Ketua BPD, Pdt. J. P. Kantohe (1960-1963), Pdt. I Made Gelebug (1963-1966), Pdt. I Wayan Radeg (1966-1978), Pdt. DR. Luther Tubulau (1978-1982), Pdt. Dewa Gede Rena (3 periode, 1982-1991), Pdt. I Nyoman Enos, M.A. (1991-1996).
Pada tahun 1996 GKII di Bali dipisah dari NTB menjadi daerah tersendiri, dengan Ketua BPD pertama Pdt. I Gusti Nyoman David Aryana, M.Th. (1996-2006), kemudian dilanjutkan oleh Pdt. Alfretz Tololiu, S.Th. (2006 sd 2016), Pdt. Margo Adi, S.Th. (2016 - 2021).
~ Ditulis dari berbagai sumber dan diedit oleh Pdt. Margo Adi)

Wednesday, June 17, 2020

KISAH PARA RASUL

 

KISAH PARA RASUL

       ‘Kisah Para Rasul’ (Yunani praxeis apostolon) adalah judul yg diberikan, sejak tahun-tahun terakhir abad 2, pada bagian kedua sejarah permulaan Kekristenan, yg bagian pertamanya kita kenal sebagai ‘Injil menurut Lukas’.

          I. Garis besar isi

          Kitab ini mulai dimana Injil Lukas (’cerita yg terdahulu’ mengenai  Kis 1:1) berakhir, dengan penampilan Yesus sesudah kebangkitan-Nya, dan dilanjutkan dengan mencatat kenaikan-Nya, datangnya Roh Kudus, dan bangkitnya dan berkembangnya dengan cepat gereja Yerusalem (1-5). Kemudian kitab itu menguraikan tentang berseraknya orang Yahudi yg berbahasa Yunani anggota gereja itu sesudah hukuman mati yg dilaksanakan atas pemimpin mereka Stefanus, pengabaran Injil mereka ke daerah-daerah sejauh Antiokhia di utara, dan permulaan penginjilan terhadap orang-orang non-Yahudi di kota itu. Dalam hubungan cerita ini, kita juga diberitahukan tentang pertobatan Paulus dan pengabaran Injil yg dilakukan Petrus di lapangan Saron, yg titik puncaknya tercapai dengan pertobatan keluarga non-Yahudi yg pertama di Kaisarea. Bagian Kitab Kis ini berakhir dengan kedatangan Paulus di Antiokhia untuk turut mengambil bagian dalam pengabaran Injil kepada orang-orang kafir di sana, dan dengan keberangkatan Petrus dari Yerusalem setelah lolosnya dari kematian di tangan Herodus Agripa 1 (6-12). Sejak saat itu pelayanan Paulus sebagai rasul merupakan pokok utama Kis.

          Bersama Barnabas ia mengabarkan Injil di Siprus dan Galatia Selatan (13-14), turut mengambil bagian dalam Sidang di Yerusalem (15) bersama Silas menyeberang ke Eropa dan mengabarkan Injil di Filipi, Tesalonika dan Korintus (16-18), bersama rekan-rekan lain mengabarkan Injil di daerah Asia dari markas besarnya di Efesus (19), mengadakan kunjungan ke Palestina, dimana ia diselamatkan dari huru hara rakyat dan ditahan selama 2 thn (20-26), dikirim ke Roma agar perkaranya didengar oleh Kaisar atas permintaannya sendiri, dan berada di sana sebagai tahanan rumah selama 2 thn, dan mendapat kebebasan penuh untuk memberitakan Injil kepada siapa saja yg mengunjunginya (2728). Sementara Injil pasti diberitakan sepanjang seluruh perjalanan yg bercabang dari tanah airnya Palestina, Kis memusatkan diri pada perjalanan dari Yerusalem ke Antiokhia dan dari sana ke Roma.

          II. Asal dan tujuan

          Kata pendahuluan untuk ‘cerita yg terdahulu’ (Luk 1:1-4) sama-sama berlaku untuk kedua bagian daripada karya itu; seluruh karya dikerjakan agar seorang Teofilus dapat memperoleh laporan yg teratur dan dapat dipercaya mengenai timbulnya dan berkembangnya agama Kristen — walaupun ia sudah memiliki beberapa informasi mengenai hal itu.

          Tanggalnya tidak dinyatakan dengan tepat; Kis memang tidak mungkin ditulis lebih dahulu daripada peristiwa terakhir yg dicatatnya, yakni penahanan Paulus selama 2 thn di Roma (Kis 28:30), yg mungkin meliputi thn 60 dan 61, tapi berapa thn kemudian itu Kis ditulis tidaklah pasti. Seandainya ditetapkan bahwa tanggal itu tergantung pada Antiquities karangan Yosefus, maka tanggalnya tak mungkin lebih dulu daripada thn 93 M, tapi ketergantungan seperti itu adalah sangat mustahil. Kita dapat mencari suatu waktu dimana terjadi sesuatu yg menarik perhatian pada agama Kristen dari karangan anggota masyarakat Roma yg bertanggung jawab, seperti Teofilus. Suatu kemungkinan ialah bagian terakhir masa kekuasaan Domitian (81-96 M) ketika agama Kristen telah memasuki keluarga Kaisar itu. Malah orang menduga bahwa Teofilus mungkin merupakan nama samaran untuk saudara sepupu Domitian, yakni Flavius Clemens. Kemungkinan yg lain terjadi sebelumnya pada akhir thn 60-an, ketika saatnya rupanya tepat untuk membeda-bedakan agama Kristen dari pemberontakan orang Yahudi di Palestina, atau dekat permulaan thn 60-an, ketika penyebar agama Kristen yg terkemuka (Paulus) datang ke Roma sebagai seorang warga negara Roma agar perkaranya didengar di mahkamah Kaisar. Nada optimistis yg mengakhiri Kis, dengan Paulus memberitakan Kerajaan Allah di Roma tanpa rintangan, adalah sesuai dengan suatu tanggal sebelum timbulnya pengejaran pada 64 M. Tanggal dikarangnya Injil Luk perlu dipertimbangkan di sini. Sementara orang menganggap bahwa Luk, yg kita punya sekarang, harus diberi tanggal pengarangan sesudah 70 M, tapi mungkin ‘bukuku yg pertama’ (Kis 1:1) itu merupakan Proto-Lukas (demikian C. S. C Williams), karena itu ditulis sebelum thn 70 M.

          Dengan dikirimnya perkara Paulus ke Roma, para pejabat kerajaan tertentu tentu menaruh perhatian yg lebih serius terhadap Kekristenan dibanding dengan waktu sebelumnya; penulis Kis mungkin menganggap bahwa adalah bijaksana untuk menyediakan bagi orang-orang seperti itu suatu keterangan yg lengkap.

          Penulis itu, sejak abad 2, telah dikenal sebagai Lukas, yg adalah tabib Paulus dan teman seperjalanan (Kol 4:14; Filem 1:24; 2Tim 4:11). Lukas adalah orang Yunani dari Antiokhia, menurut yg disebut ‘Pendahuluan Anti-Marsion’ untuk Injilnya pada akhir abad 2 (bahwa ia berasal dari Antiokhia tercantum juga dlm Kis 11:28 menurut naskah ‘Barat’). Kehadirannya pada beberapa peristiwa yg dicatatnya, secara diam-diam lelah dinyatakan oleh kalimat yg beralih dari bentuk orang ketiga ke bentuk orang pertama jamak dalam ceritanya; ketiga bagian dalam Kis yg memakai ‘bentuk kami’ adalah Kis 16:10-17; 18; 20:5-21:18; 27:1-28:16. Lain daripada masa yg diliputi bagian-bagian ini, ia mempunyai banyak kesempatan untuk mengusut kembali rangkaian kejadian dari mula pertama, karena ia dapat memperoleh informasi langsung dari orang-orang yg dijumpainya kadang-kadang, bukan saja di Antiokhia tapi juga di Asia Kecil dan Makedonia, di Yerusalem dan Kaisarea, dan akhirnya di Roma. Di antara para informan ini, penghargaan yg khusus harus diberikan kepada tuan rumahnya di berbagai kota, seperti Filipus dan putri-putrinya di Kaisarea (Kis 21:8 dab) dan Manason, seorang anggota pertama gereja di Yerusalem (Kis 21:16). Nampaknya ia tidak memakai Surat-surat Paulus sebagai suatu sumber.

          III. Corak yang historis

          Bahwasanya laporan Lukas secara historis dapat dipercaya, telah dikuatkan secara luas oleh penemuan-penemuan arkeologis (yg bersifat purbakala). Sementara ia mempunyai maksud di bidang apologi dan teologi, hal ini tidak mengurangi ketelitiannya yg sangat cermat, walaupun menerangkan pilihan fakta-fakta yg dikemukakannya. Ia menyusun ceritanya dalam rangka sejarah masa itu; halaman-halaman penuh dengan penunjukan-penunjukan pada pejabat-pejabat pemerintahan kota, gubernur-gubernur propinsi, pegawai raja-raja, dan sebagainya, dan penunjukan-penunjukan ini telah dibuktikan benar mengenai tempat dan waktu yg bersangkutan. Dengan kata singkat padat ia memberitahukan corak setempat dengan tepat mengenai kota-kota yg sangat berbeda yg disebut dalam ceritanya. Dan uraiannya mengenai perjalanan Paulus ke Roma (ps 27), hingga masa kini tetap merupakan salah satu dokumen kita yg terpenting mengenai ilmu pelayaran dahulu kala.

          IV. Tekanan Apologetis

          Dalam kedua bagian karyanya, Lukas jelas prihatin untuk memperlihatkan bahwa Kekristenan bukanlah ancaman terhadap hukum dan ketertiban yg berlaku dalam kerajaan Romawi. Ia melakukan hal ini khususnya dengan mengutip keputusan-keputusan para gubernur, pejabat-pejabat pemerintahan dan penguasa lainnya di berbagai tempat dalam kerajaan itu. Dalam Injil, Pilatus telah 3 kali mengumumkan bahwa Yesus tidak bersalah atas tuduhan penghasutan (Luk 23:4,14,22) dan ketika tuduhan-tuduhan yg sama dilakukan terhadap pengikut-pengikut-Nya dalam Kis tuduhan itu tak dapat dipertahankan.

          Para pembesar di Filipi memasukkan Paulus dan Silas ke dalam penjara karena dituduh mencampuri hak-hak milik pribadi, tapi harus melepaskan mereka dengan meminta maaf, karena tindakan mereka yg tidak sah (Luk 16:19 dab, 35 dab). Para pembesar kota Tesalonika, di depan mana Paulus dan kawan-kawan dituduh melakukan penghasutan terhadap Kaisar, merasa puas mendapatkan para warga kota itu yg mau menjamin bahwa para penginjil itu berkelakuan baik (Luk 17:6-9). Galio, kepala daerah Akhaya telah mengambil keputusan yg lebih berarti. Ia menghapuskan gugatan yg dilakukan para pemimpin Yahudi di Korintus terhadap Paulus dengan alasan penyebaran agama yg tidak sah. Secara praktis pengutusannya mengandung makna bahwa agama Kristen turut mendapat lindungan yg dijamin oleh hukum Romawi terhadap ajaran Yahudi (Luk 18:12 dab).

          Di Efesus, Paulus senang bersahabat dengan pembesar-pembesar dari Asia dan oleh panitera kota ia dibebaskan dari tuduhan menghina pemujaan orang Efesus terhadap dewi Artemis (Luk 19:31,35). Di Yudea, gubernur Festus dan Raja Agripa II setuju bahwa Paulus tidak melakukan sesuatu yg setimpal dengan hukuman mati atau hukuman penjara, dan bahwa ia sebenarnya sudah dapat dibebaskan seketika itu juga sekiranya ia tidak naik banding kepada Kaisar (Kis 26:32).

          Namun, orang mungkin bertanya-tanya, mengapa perkembangan agama Kristen begitu sering didampingi oleh huru-hara umum jika orang Kristen begitu patuh pada hukum seperti yg dikatakan oleh Lukas. Jawabannya ialah bahwa, lain daripada kejadian di Filipi dan demonstrasi yg dihasut oleh para tukang perak di Efesus, keributan yg membarengi pemberitahuan tentang Injil selalu dihasut oleh lawan-lawannya yakni orang Yahudi. Sama seperti Injil menggambarkan Kepala Imam orang Saduki di Yerusalem sebagai yg memaksakan Pilatus untuk menjatuhkan hukuman mati pada Yesus bertentangan dengan pendapatnya sendiri, demikianlah dalam Kis orang Yahudi adalah musuh Paulus yg paling ganas di tempat yg satu hingga tempat yg lain. Sementara Kis mencatat perkembangan Injil yg terus menerus di pusat-pusat peradaban orang non-Yahudi, sekaligus ia mencatat penolakan yg progresif terhadap perkembangan tersebut oleh masyarakat Yahudi di seluruh kerajaan Romawi itu.

 

          V. Minat teologis

          Dari segi teologis, tema yg berpengaruh dari Kis adalah kegiatan Roh Kudus. Janji yg dibuat oleh Yesus yg telah bangkit mengenai Roh Kudus yg akan turun seperti tercantum dalam Kis 1:4 dab telah dipenuhi untuk murid-murid orang Yahudi dalam ps 2 dan untuk orang percaya non-Yahudi di dalam ps 10. Dengan kuasa Roh, yg dinyatakan dengan tanda-tanda adikodrati, para murid melepaskan tugasnya; penerimaan Injil oleh penganut-penganutnya yg telah bertobat itu pun dihadiri oleh tanda-tanda kuasa Roh. Kitab ini memang dapat disebut ‘Kisah Roh Kudus’, karena Roh-lah yg menguasai perkembangan Injil seluruhnya; Ia memimpin gerak para pengkhotbah, mis dari Filipus (Kis 8:29,39), Petrus (Kis 10:19 dab), Paulus dan kawan-kawannya (Kis 16:6 dab); Ia memberi petunjuk pada jemaah di Antiokhia untuk mengkhususkan Barnabas dan Saulus untuk tugas yg lebih luas yg telah ditentukan-Nya bagi mereka (Kis 13:2); Ia mendapat tempat pertama dalam surat yg memberitahukan tentang keputusan sidang di Yerusalem kepada gereja-gereja non-Yahudi (Kis 15:28); Ia bicara melalui nabi-nabi (Kis 11:28; 20:23; 21:4,11) seperti yg dilakukan-Nya pada zaman PL; Dia-lah pertama-tama yg melantik para penatua sebuah jemaat untuk memimpin bagian kerohaniannya (Kis 20:28); Ia adalah saksi utama bagi kebenaran Injil (Kis 5:32).

          Pernyataan-pernyataan yg adikodrati yg menyertai penyebaran Injil bukan saja menandakan kegiatan Roh tapi menandakan juga pembukaan zaman baru dimana Yesus memerintah sebagai Tuhan dan Kristus. Unsur-unsur ajaib, seperti akan kita duga, adalah lebih utama dalam bagian permulaan daripada dalam bagian akhir kitab itu: ‘ada pengurangan yg terus dalam tekanan yg diberikan pada aspek yg bersifat ajaib dalam Roh menjalankan pekerjaan, yg adalah sesuai dengan perkembangan jalan pemikiran Surat-surat Paulus’ (W. L Knox, The Acts of the Apostles, 1948, hlm 91).

          VI. Kis dalam gereja purba

          Tidak seperti kebanyakan Kitab-kitab PB, maka kedua bagian dari sejarah Lukas tidak terutama dihubungkan dengan gereja-gereja Kristen, apakah sebagian yg dialamatkan kepada mereka atau sebagai beredar dalam kalangan mereka. Martin Dibelius mungkin benar dengan mengira bahwa karya itu beredar melalui perdagangan kitab pada masa itu untuk kepentingan bacaan umum non-Yahudi untuk siapa kitab-kitab tersebut dimaksud. Jadi mungkin ada selang beberapa waktu antara penerbitan pertama karya yg lipat dua itu dengan peredarannya khusus dalam gereja-gereja sebagai suatu dokumen Kristen yg berwibawa.

          Pada permulaan abad 2, ketika keempat penulisan Injil dikumpulkan dan diedarkan sebagai suatu rangkaian yg empat ganda, maka kedua bagian dari sejarah Lukas dipisah satu dari yg lain, untuk melanjutkan jalannya masing-masing. Sementara hari depan Luk terjamin karena penggabungannya dalam ketiga Injil yg lain, Kis makin terbukti merupakan dokumen yg begitu penting, hingga dengan tepat dapat disebut, menurut kata-kata Harnack, pusat kitab PB.

          Peredaran Kitab Kis yg lebih meluas di gereja-gereja menjelang akhir abad pertama, mungkin mendorong gerakan untuk mengumpulkan Surat-surat Paulus untuk dijadikan suatu kumpulan. Jika Paulus cenderung dilupakan oleh generasi sesudah kematiannya, maka Kis pasti akan membuat ia kembali dalam ingatan Kristen dan juga akan menitikberatkan betapa ia merupakan orang yg penting, luar biasa dan menarik perhatian. Tapi, sementara menitikberatkan pentingnya peranan Paulus, Kis juga menyaksikan tentang rasul-rasul lain, khususnya Petrus.

          Karena hal yg terakhir ini Marsion (lk 140 M) tidak memasukkan Kis ke dalam Daftar Kitab-kitab (Kanon) walaupun ia memasukkan edisi Lukas-nya sebagai suatu kata pendahuluan ke dalam kumpulan Surat Paulus. Kis sementara menyaksikan tentang kerasulan Paulus, pada waktu yg sama melawan pandangan Marsion yg mengatakan bahwa para rasul Yesus yg asli tidak setia pada ajaran Guru-nya.

          Marsion dan pengikut-pengikutnya mungkin merupakan sasaran utama dari tuduhan Tertullianus bahwa tidak konsekuen mereka, yg dengan gagah mengklaim kekuasaan rasuli yg khas dari Paulus untuk pandangan mereka seraya menolak satu-satunya kitab itu yg memberi kesaksian yg independen tentang kerasulannya (lih Prescription, 22 dst).

          Bagi pemimpin Kristen yg ortodoks pada waktu itu, nilai daripada Kis nampaknya lebih besar daripada dulu. Karena ia bukan saja memberikan bukti yg tak dapat disangkal mengenai kedudukan Paulus dan apa yg telah dicapainya selaku rasul, tapi ia juga menjamin kedudukan para rasul lain dan membenarkan dimasukkannya tulisan-tulisan rasuli yg bukan ditulis Paulus disamping kumpulan tulisan Paulus ke dalam Kitab Suci. Mulai saat inilah kitab itu dikenal sebagai ‘Kisah Para Rasul’, atau bahkan, seperti Daftar Muratori menyebutnya dengan sikap anti-Marsion yg berlebih-lebihan, ‘Kisah Semua Rasul-rasul’.

          VII. Nilainya yg tahan lama

          Klaim Kis untuk menduduki tempat yg tradisional antara Injil-injil dan Surat-surat sudah jelas. Pada satu pihak, itu merupakan lanjutan umum ke Injil yg empat ganda (selain lanjutan yg sebenarnya ke salah satu dari empat itu); pada pihak lain, ia memberikan latar belakang yg historis bagi Surat-surat yg terdahulu, dan membenarkan status rasuli dari kebanyakan penulisnya.

          Lagipula, kitab itu merupakan dokumen yg tak terhitung nilainya bagi sejarah permulaan agama Kristen. Bila kita pikirkan betapa sangat sedikit pengetahuan kita mengenai perkembangan Injil yg menuju ke arah lain dalam dasawarsa-dasawarsa menjelang thn 30 M, maka kita sungguh menghargai Kis untuk laporan yg relatif terperinci yg diberikannya mengenai perkembangan Injil sepanjang jalan dari Yerusalem ke Roma. Permulaan dan perkembangan agama Kristen merupakan studi yg penuh dengan persoalan, tapi beberapa dari persoalan ini malah lebih ruwet lagi, jika kita tidak mempunyai informasi dari Kis. Misalnya, bagaimana dapat terjadi, suatu gerakan yg mulai di tengah-tengah ajaran Yahudi, beberapa dasawarsa kemudian diakui sebagai agama lain yg non-Yahudi? Dan bagaimana dapat terjadi suatu agama yg berasal dari Asia, untuk berabad-abad lamanya dalam suka dan duka, telah lebih banyak dihubungkan dengan peradaban Eropa? Jawabannya sebagian besar, walaupun tidak seluruhnya, sangat erat hubungannya dengan karir penginjilan Paulus, rasul bagi orang-orang non-Yahudi dan warga negara Romawi. Lukaslah dalam Kis yg mencatatkan karir itu. Sebenarnya, ceritanya adalah sebuah sumber buku yg tertinggi nilainya bagi suatu tahap yg penting dalam sejarah dunia, peradaban.

 

       KEPUSTAKAAN.

  • Foakes-Jackson dan Kirsopp Lake, BC, 5 jilid, 1920-1933;
  • F. F Bruce, The Acts of the Apostles, 1951, dan The Book of the Acts, 1954;
  • E. M Blaiklock, The Acts of the Apostles, 1959;
  • C. S. C Williams, The Acts of the Apostles, 1957;
  • H. J Cadbury, The Book of Acts in History, 1955;
  • M Dibehius, Studies in the Acts of the Apostles, 1956;
  • J. C O’Neill, The Theology of Acts, 1961;
  • J Dupont, The Sources of Acts, 1964;
  • A Ehrhart, The Acts of the Apostles, 1969;
  • E Haenchen, The Acts of the Apostles, 1971;
  • W. W Gasque, A History of the Criticism of the Acts of the Apostles, 1975.

 


KEPUTUSAN SINODE GEREJA DAN KEPUTUSAN PELAYANAN GEREJA MODERN

  KEPUTUSAN SINODE GEREJA DAN KEPUTUSAN PELAYANAN GEREJA MODERN “Ketika Pendidikan Teologi dan Kekuasaan Pelayanan Tidak Selalu Berjalan Sei...