Friday, February 28, 2025

Mari kita akan Hidup (Amos 5:1-6)

Mari kita akan Hidup (Amos 5:1-6)



Pernahkah Anda mendengar seseorang meratap? Ratapan biasanya terdengar di rumah-rumah duka. Itu adalah cara orang mengungkapkan kerinduan sekaligus perkabungannya.


Akibat ketidakadilan sosial dan kekerasan yang merajalela di ibu kota Samaria, Tuhan menjatuhkan hukuman yang keras kepada Israel. Negeri itu ditanduskan. Orang-orangnya dibuang ke pengasingan. Begitu sedikit yang tersisa (3). Hanya orang yang tua, lemah, sakit, dan cacat yang dibiarkan mengembara di reruntuhan kota-kota Israel. Hal itu tergenapi setelah penyerbuan Asyur dan pembuangan ke Babel. Untuk waktu yang sangat panjang, bangsa Israel tidak mempunyai kekuatan untuk bangkit sebagai sebuah kerajaan (2).


Namun, menghukum Israel bukanlah hal yang dinikmati Tuhan. Ia meratapi keadaan mereka (1). Ia gemas terhadap pemberontakan, tetapi Ia juga merindukan mereka kembali. "Carilah Aku, maka kamu akan hidup!" (4). Dapatkah kita membayangkan wajah Tuhan ketika Dia mengatakan hal itu? Seperti seorang ayah yang rindu menyambut anaknya yang hilang, Tuhan membuka tangan-Nya mengundang Israel bertobat.


Jikalau seseorang bertanya, "Di manakah kami harus mencari Tuhan?", Amos telah menyiapkan jawabannya. Jangan mencari Tuhan di Betel, Gilgal, atau tempat-tempat lain mana pun yang dianggap keramat. Tempat-tempat itu akan diluluhlantakkan dan tidak akan ada lagi. Ini mengingatkan kita akan perkataan Yesus kepada perempuan Samaria: "... kamu akan menyembah Bapa bukan di gunung ini dan bukan juga di Yerusalem" (Yoh. 4:21). Penyembah sejati akan menyembah Allah dalam Roh dan kebenaran.


Carilah Tuhan, maka kita akan hidup. Ini adalah janji-Nya. Ini prinsip yang berlaku pasti seperti rumus matematika. Jika kita mencari-Nya, kita akan mendapatkan-Nya. Satu hal yang perlu kita lakukan hanyalah mencari Dia. Jangan biarkan hari ini berlalu sebelum Anda mendapatkan hidup yang kekal itu. Carilah Tuhan selagi Ia berkenan ditemui, carilah seperti mencari mutiara yang berharga. [PHM]

Jangan mendua hati

 Jangan mendua hati (1 Korintus 10:14-11;1)


Bagaimana perasaan kita ketika orang yang sangat kita cintai tiba-tiba berselingkuh? Pasti perasaan sakit hati, cemburu, marah, kecewa, dsb., bercampur aduk dalam hidup kita. Lalu, bagaimana perasaan Tuhan ketika kita menduakan diri-Nya? Dalam teks ini, Paulus menegaskan bahwa Tuhan marah dan cemburu (22). Karena sejak awal Dia tidak ingin ada allah lain dalam hidup kita (bdk. Kel. 20:3).

Di satu sisi, jemaat Korintus percaya kepada Kristus. Di sisi lain lingkungan yang penuh penyembahan berhala menyebabkan situasi yang sulit. Dengan tegas Paulus menasihati jemaat Korintus untuk menjauhi penyembahan berhala (14). Jemaat Korintus sudah disatukan kepada Kristus melalui perjamuan kudus sebagai lambang penebusan Kristus (16-17). Mereka tidak perlu lagi mengikuti perjamuan para penyembah berhala. Mereka dapat belajar dari nenek moyang Israel yang mendua hati dengan menyembah Allah sekaligus berhala, yang mengakibatkan Allah murka dan menghukum mereka (18-22).


Jika demikian, apakah orang yang percaya kepada Kristus boleh menikmati makanan yang sudah dipersembahkan kepada berhala? Jawaban Paulus bersifat dialektis. Jikalau makanan tersebut benar-benar sebagai alat untuk penyembahan berhala, maka Paulus melarang keras untuk menikmatinya karena sama saja dengan mengakui keberadaan roh jahat di balik berhala (19-20; 28-29a)). Akan tetapi, jikalau makanan tersebut tidak berkaitan dengan penyembahan berhala maka dapat dimakan untuk kebutuhan jasmani (25-27). Prinsip ini yang Paulus gunakan dalam menghadapi 'dilema' seperti itu: 

✅Pertama, selalu menguji hati nurani agar tidak menjadi batu sandungan bagi orang lain (29, 32); 

✅Kedua, mengucap syukur kepada Tuhan (30); 

✅Ketiga, semuanya dipergunakan hanya untuk kemuliaan Tuhan (31). Paulus kemudian mengajak mereka melihat dirinya sebagai teladan sebagaimana ia sendiri meneladani Kristus (10:33-11:1). 

Prinsip Paulus tetap sama dengan pasal 8, yaitu ujung dari semua perbuatan kita haruslah demi kemuliaan Tuhan dan demi kebaikan orang lain. SHFB

Latihan Disiplin Rohani (Ibrani 12:1-11)

Latihan Disiplin Rohani (Ibrani 12:1-11)

Film yang berjudul "Sepatu Dahlan" menceritakan masa kecil Dahlan Iskan. Meskipun berkekurangan, orangtua Dahlan mendidik anak-anaknya untuk disiplin. Pernah sepulang sekolah, Dahlan kepergok mencuri sebatang tebu di perkebunan negara. Walau hanya sebatang, Dahlan tetap dihukum dengan sabetan rotan oleh orangtuanya. Ayah Dahlan berkata: "Bapakmu memang miskin, tetapi itu tidak berarti anak Bapak boleh mencuri. Sekarang mencuri sedikit, lama-lama mencuri banyak, merugikan semua orang!" Sejak hari itu, Dahlan berhati-hati dalam bertindak.



Bapa surgawi juga menghendaki anak-anaknya dapat hidup disiplin dan bertanggung jawab dalam bertindak. Meskipun Allah itu kasih, namun Ia tidak pernah memanjakan anak-anak-Nya agar mereka dapat menjadi dewasa serupa Kristus. Sebab Kristus adalah teladan disiplin rohani bagi kita dalam melawan dosa. Kedisiplinan dan ketaatan Kristus kepada Bapa surgawi telah dibuktikan di kayu salib. Sedangkan pergumulan dan kesulitan kita melawan dosa belum sampai level mencucurkan darah (4). Memang harus diakui bahwa yang kita hadapi belum sebanding dengan penderitaan Kristus. Meskipun begitu, kita perlu belajar terus-menerus dari teladan Kristus.

Pengamsal menyerukan jangan sampai kita menolak didikan Tuhan dan jangan bosan atas peringatan-Nya (Ams. 3:11). Semuanya itu dilakukan Bapa untuk membangun kehidupan rohani yang disiplin. Jika Allah tidak mendidik umat-Nya, maka kita tidak dianggap sebagai anak, melainkan anak-anak gampang (8).

Disiplin rohani tidak hanya membimbing kita untuk dewasa, tetapi juga memuliakan Allah dan mengambil bagian dalam kekudusan-Nya (10). Proses pendisiplinan membutuhkan kerja keras, namun hasilnya adalah buah kebenaran dan damai sejahtera (11).

Berbahagialah kita yang dianggap anak oleh Allah. Sukacita dan damai sejahtera Allah akan memayungi hidup kita. Yakinlah bahwa disiplin Allah atas hidup kita akan membuat kita menjadi pribadi yang diperkenan-Nya. [PPH]

Menjadi Sahabat (Yohanes 15:9-17)

Menjadi Sahabat (Yohanes 15:9-17)

William Charles Fry (1837-1882) mengungkapkan keyakinan imannya bahwa Yesus adalah sahabat sejati dalam hidupnya. Keyakinan itu dituliskan melalui lagu terkenal yang diterjemahkan dengan judul "Tuhan Yesus Sahabatku".



Menjadi sahabat bagi manusia adalah pernyataan Yesus sendiri. Yesus menegaskan kepada murid-murid-Nya bahwa mereka bukan lagi hamba, tetapi dianggap dan diangkat-Nya menjadi sahabat (15). Antara hamba dan sahabat terdapat perbedaan relasi yang cukup signifikan. Dalam persahabatan ada relasi yang sejajar. Jalinan persahabatan terjadi karena cinta kasih (12). Cinta kasih ini membuat seorang sahabat bersedia berkorban, bahkan dengan memberikan nyawanya (13).


Tawaran persahabatan dari Yesus memiliki konsekuensi nilai. Pertama, persahabatan ini menghilangkan kerahasiaan seperti yang ada dalam relasi hamba-tuan. Selain pengorbanan, ada juga rahasia-rahasia yang disingkapkan kepada para murid. Kedua, bagi kita, persahabatan berarti melakukan apa yang diperintahkan Yesus. Dan, perintah yang berulang kali Yesus katakan adalah agar mereka saling mengasihi.


Jalinan persahabatan hanya terjadi karena Yesus sendiri yang berinisiatif memilih kita. Ukuran terpilih menjadi sahabat ditentukan oleh Yesus sendiri. Tujuan persahabatan adalah untuk memperlengkapi sehingga sahabat-Nya dapat berbuah sebagaimana yang Bapa inginkan.


Persahabatan Yesus telah ditunjukkan melalui pengorbanan-Nya di kayu salib. Yesus tidak hanya mengatakan bahwa sahabat menyerahkan nyawanya, tetapi Ia sendiri menyerahkan nyawa-Nya bagi kita, para sahabat-Nya.


Jika nyawa saja sudah diberikan, mengapa kita khawatir? Fry mengatakan, jalinan persahabatan Yesus membuat ia merasa aman karena Yesus akan selalu melindungi dan tidak pernah meninggalkannya. Fry menggambarkannya seperti tembok berapi yang mengelilingi kita. Maukah kita menyambut tawaran persahabatan dengan Yesus? Hiduplah dalam kasih! [ASP]

Bersama Alam Memuji Tuhan (Mazmur 148:1-14)

Bersama Alam Memuji Tuhan (Mazmur 148:1-14)

Mazmur 148 berisi ajakan kepada seluruh ciptaan, baik yang di surga maupun di bumi, untuk memuji Tuhan. Pertama, ada ajakan kepada seluruh isi surga. Kedua, ada ajakan kepada segala yang diciptakan di bumi, baik makhluk hidup yang bernapas maupun benda mati yang tidak bernapas. Dasar dari ajakan tersebut adalah semua yang diajak itu merupakan ciptaan Tuhan dan punya panggilan yang sama untuk memuji Tuhan.



Semua ciptaan bergantung penuh pada Tuhan Sang Pencipta, yang sekaligus Sang Pemelihara. Ia yang menciptakan segala sesuatu dengan firman-Nya, Ia pula yang memberikan segala ketetapan agar semesta terus berjalan dengan baik (5-6).


Rasa kebersamaan dengan seluruh alam, baik di surga maupun di bumi, yang pemazmur rasakan adalah sesuatu yang sangat indah, istimewa, dan berharga. Perasaan dan ajakan sang pemazmur ini didasarkan pada penghayatan bahwa pemazmur sebagai manusia ada bersama dengan ciptaan yang lain.


Ada kesadaran bahwa alam pun adalah subjek yang turut menyembah Tuhan, bukan objek untuk dieksploitasi. Kesadaran seperti ini menjadi teguran keras kepada kita yang sering kali hanya memusatkan segala sesuatu oleh, dari, dan untuk manusia. Kita bersikap sangat antroposentris. Akibatnya, kita cenderung mengabaikan keberadaan, keterkaitan, bahkan kebersamaan dengan ciptaan yang lain, termasuk ciptaan yang ada di surga yang tak terlihat.


Di tengah kerusakan alam yang menyebabkan ketidakteraturan, bahkan kekacauan musim, banjir, tanah longsor, dan lain-lain, kidung yang dinaikkan pemazmur mengajak kita untuk peduli terhadap alam. Kita diajak untuk tidak menjadikan alam semesta sebagai alat pemuasan nafsu, tetapi sebagai sesama ciptaan yang menyembah Sang Pencipta yang Agung.


Mari kita selalu ingat, peduli, dan melibatkan alam di dalam pujian kepada Allah. Biarlah kiranya semuanya bersama-sama memuji nama Allah Sang Pencipta dan Pemelihara ciptaan-Nya. [MTH]

Kuasa dan Pribadi Yesus (Matius 9:18-34)

 Kuasa dan Pribadi Yesus (Matius 9:18-34)

Yesus memiliki kuasa mutlak atas segala sesuatu yang ada, yang sudah ada maupun yang akan ada. Tidak satu kondisi pun yang dapat membatasi Yesus untuk melaksanakan kehendak- Nya. 



Ia berkuasa membangkitkan anak kepala rumah ibadat. Ketika Yesus sampai di rumah kepala rumah ibadat, nampaknya sudah terlambat. Upacara penguburan akan segera dimulai karena para peniup seruling dan penduka profesional yang disewa sudah siap menjalankan pekerjaan mereka. Kuasa Yesus mampu membalikkan kenyataan yang sudah terlambat, karena firman-Nya berkuasa menolak kematian (ayat 28). Upacara penguburan berganti menjadi perayaan yang penuh sukacita karena yang mati sudah bangkit. Ia berkuasa mengembalikan kehidupan ke dalam diri anak itu sebab memang Dialah sumber kehidupan itu. 


Yesus juga berkuasa menyembuhkan perempuan yang sudah 12 tahun menderita pendarahan. Tidak ada pengharapan baginya dan tidak ada vitalitas di dalam dirinya. Namun yang tidak berpengharapan akan menemukan pengharapan dan yang tidak bervitalitas akan menemukannya di dalam Yesus. Yesus pun berkuasa memberikan penglihatan kepada 2 orang buta. Penglihatan yang diberikan tidak hanya memampukan mereka melihat dunia namun juga mampu melihat kemuliaan Allah. Demikian pula ikatan setan yang membuat orang menjadi bisu dilepaskan- Nya, sehingga orang itu menjadi manusia normal kembali yang dapat berkomunikasi. 


Semua mukjizat itu bersumber dari Pribadi Yesus yang berkuasa. Perhatikan setiap proses mukjizat yang terjadi. Yesus memegang tangan anak kepala rumah ibadat yang mati, lalu bangkitlah ia. Perempuan yang sakit pendarahan itu sembuh bukan karena jubah Yesus berkuasa namun karena ia beriman kepada Pribadi Yesus. Orang buta disembuhkan karena jamahan kuasa Yesus. Demikian pula orang bisu dapat berbicara karena kuasa setan dipatahkan oleh kuasa-Nya. Kuasa-Nya tidak dapat dipisahkan dari pribadi-Nya, sebab melalui kuasa yang dinyatakan-Nya terungkaplah identitas Yesus (Mat. 11:2-5). 


Renungkan: Kristen seharusnya bukan hanya takjub kepada kuasa-Nya namun juga tunduk kepada Pribadi Yesus yang adalah sumber kuasa itu. Sebab banyak Kristen yang hanya tergiur mengalami Kuasa-Nya tanpa mau datang dan tunduk kepada Sang Sumber Kuasa. SH

Sunday, February 2, 2025

Berkat Tuhan


Berkat Tuhan

Amsal 10:22 menegaskan tentang pentingnya berkat Tuhan dalam kehidupan kita.


Pesan Utama:

Ayat ini mengajarkan bahwa berkat Tuhanlah yang menjadikan kita kaya, bukan karena susah payah atau usaha kita sendiri. Ini berarti bahwa kita harus mengandalkan Tuhan dan percaya pada berkat-Nya, bukan hanya pada kemampuan kita sendiri.


Prinsip-Prinsip:

1. Berkat Tuhan: Ayat ini menekankan pentingnya berkat Tuhan dalam kehidupan kita.

2. Ketergantungan pada Tuhan: Kita harus mengandalkan Tuhan dan percaya pada berkat-Nya, bukan hanya pada kemampuan kita sendiri.

3. Kesadaran akan kemampuan Tuhan: Ayat ini mengingatkan kita bahwa Tuhan memiliki kemampuan yang tidak terbatas untuk memberkati kita.


Aplikasi Praktis:

1. Mengandalkan Tuhan: Kita harus mengandalkan Tuhan dan percaya pada berkat-Nya dalam kehidupan kita sehari-hari.

2. Mengucap syukur: Kita harus mengucap syukur atas berkat-berkat yang telah kita terima dari Tuhan.

3. Menggunakan berkat dengan bijak: Kita harus menggunakan berkat-berkat yang telah kita terima dari Tuhan dengan bijak dan untuk kemuliaan-Nya.


Konteks:

Amsal 10:22 merupakan bagian dari kitab Amsal, yang merupakan kitab yang berisi ajaran-ajaran tentang kebijaksanaan dan kehidupan yang benar. Kitab ini ditulis oleh Raja Salomo, yang merupakan raja yang bijaksana dan kaya. (MAI)

KEPUTUSAN SINODE GEREJA DAN KEPUTUSAN PELAYANAN GEREJA MODERN

  KEPUTUSAN SINODE GEREJA DAN KEPUTUSAN PELAYANAN GEREJA MODERN “Ketika Pendidikan Teologi dan Kekuasaan Pelayanan Tidak Selalu Berjalan Sei...