Tuesday, January 6, 2026

Rencana Tuhan vs Rencana Manusia (Yeremia 29:11)

 Renungan hari ini 🌄🙋

 Rencana Tuhan vs Rencana Manusia (Yeremia 29:11)

“Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan.”

1. Rencana Manusia Terbatas  

Kita sering merancang masa depan berdasarkan logika, kekuatan, dan keinginan pribadi. Namun, rencana kita bisa gagal karena keterbatasan pengetahuan dan kendali.  

2. Rencana Tuhan Sempurna  

Tuhan melihat keseluruhan hidup kita—dari awal sampai akhir. Rencana-Nya mengandung damai sejahtera, bukan kehancuran. Ia tahu apa yang terbaik, bahkan di tengah situasi sulit.

3. Rencana Tuhan Mencakup Harapan  

Dalam konteks Yeremia 29:11, Israel sedang dalam pembuangan. Mereka menderita, bingung, dan kecewa. Tapi Tuhan berkata: “Aku masih punya rencana untuk kalian!”  

➤ Harapan dari Tuhan bukan berdasarkan keadaan sekarang, tapi janji-Nya yang pasti.

Penerapan:

- Jangan putus asa bila rencanamu gagal — mungkin Tuhan sedang arahkan ke jalan-Nya.

- Tetap percaya walau belum melihat hasil.

- Libatkan Tuhan dalam setiap keputusan (Amsal 3:5-6).



Doa:

Tuhan, aku serahkan semua rencanaku ke dalam tangan-Mu. Bawalah aku berjalan dalam rancangan-Mu yang membawa damai dan harapan. Ajarku percaya dan setia. Amin. CG YP

Monday, January 5, 2026

Apakah Orang Kristen Berhak Melepaskan Umatnya?

Pemahaman Alkitab: Apakah Orang Kristen Berhak Melepaskan Umatnya untuk Pergi ke Agama Lain Karena Pernikahan?

1. Alkitab Tidak Pernah Membenarkan Meninggalkan Iman karena Pernikahan

- Keluaran 20:3 – “Jangan ada padamu allah lain di hadapan-Ku.”  

  ➤ Iman kepada Allah tidak bisa ditukar atau dikompromikan demi hubungan manusiawi.

- Matius 10:37 – “Barangsiapa mengasihi bapa atau ibunya lebih dari pada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku.”  

  ➤ Apalagi pasangan—jika cinta kepada manusia membuat seseorang meninggalkan Kristus, maka ia dianggap tidak setia kepada Tuhan.

- 2 Korintus 6:14 – “Janganlah kamu merupakan pasangan yang tidak seimbang dengan orang-orang yang tak percaya...”  

  ➤ Tuhan ingin umat-Nya menjaga kesucian iman, bukan menukarnya demi hubungan.


2. Pemimpin atau Gembala Tidak Punya Kuasa Melegalkan Murtad


Pemimpin gereja atau hamba Tuhan tidak memiliki otoritas rohani atau alkitabiah untuk "merelakan" atau "memberkati" seseorang berpindah agama demi pernikahan. Itu berarti:

- Membenarkan pelanggaran iman.  

- Tidak setia pada panggilan untuk menjaga domba-domba Tuhan.  

- Menjadi batu sandungan dan bertanggung jawab di hadapan Allah.


3. Komitmen Kristen: Setia Sampai Akhir

 - Wahyu 2:10 – “Hendaklah engkau setia sampai mati, dan Aku akan mengaruniakan kepadamu mahkota kehidupan.”  

  ➤ Iman bukan sesuatu yang bisa dinegosiasikan—iman adalah dasar keselamatan.


Kesimpulan:

Tidak ada dasar Alkitabiah untuk membenarkan orang Kristen meninggalkan imannya demi menikah. Demikian juga, tidak ada hak secara rohani bagi seorang pemimpin Kristen untuk melepaskan umat dari imannya demi pernikahan beda agama.

Sebaliknya, gereja harus:

- Membimbing dengan kasih.  

- Memberi pengertian tentang nilai kekudusan pernikahan dan iman.  

- Meneguhkan umat agar tetap setia pada Kristus di atas segalanya.

Pandangan Alkitab tentang “Kumpul Kebo” (tinggal serumah tanpa pernikahan)

Pandangan Alkitab dan Hukum Indonesia (KUHP 2023) tentang “Kumpul Kebo”


1. Pandangan Alkitab tentang “Kumpul Kebo” (tinggal serumah tanpa pernikahan)

Istilah "kumpul kebo" dalam konteks kekristenan merujuk pada hubungan laki-laki dan perempuan yang tinggal bersama layaknya suami-istri tanpa pernikahan yang sah.

- Ibrani 13:4 — “Hendaklah semua orang menghormati perkawinan dan menjaga kesucian hubungan suami istri, sebab orang-orang cabul dan pezinah akan dihakimi Allah.”

- 1 Korintus 6:18 — “Jauhkanlah dirimu dari percabulan!”

Dalam 1 Korintus 6:18-20, Paulus menulis: "Jauhkanlah dirimu dari perzinahan! Setiap dosa lain yang dilakukan manusia, terjadi di luar tubuhnya. Tetapi orang yang melakukan perzinahan, berdosa terhadap tubuhnya sendiri."

Dalam Matius 19:5-6, Yesus mengatakan: "Dan karena itu laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan istrinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging. Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu."

Alkitab mengajarkan bahwa hubungan seksual harus terjadi dalam konteks pernikahan yang sah antara seorang laki-laki dan seorang perempuan.

- Efesus 5:3 — “Tetapi percabulan dan rupa-rupa kecemaran… janganlah disebut di antara kamu.”

Kesimpulan: Alkitab melarang hubungan seksual atau tinggal bersama tanpa ikatan pernikahan yang sah, dan menyebutnya sebagai dosa percabulan (fornication). Tuhan menghendaki kekudusan dan kehormatan dalam relasi antara pria dan wanita.


2. Pandangan Hukum Indonesia – KUHP 2023 (yang mulai berlaku tahun 2026)

KUHP baru (UU No. 1 Tahun 2023) mengatur hubungan di luar nikah, termasuk “kumpul kebo”:

- Pasal 411 ayat (1): “Setiap orang yang melakukan persetubuhan dengan orang yang bukan suami atau istrinya dipidana...”

- Pasal 412: Tinggal bersama tanpa pernikahan (“kumpul kebo”) bisa dipidana, jika ada pengaduan dari keluarga (orang tua, anak, atau pasangan sah).


➤ Sifat delik aduan: Artinya, pelanggaran ini tidak langsung diproses hukum, kecuali ada laporan dari pihak keluarga.


Kesimpulan Umum:

- Alkitab: Jelas melarang dan menyebut “kumpul kebo” sebagai dosa, mencemari kekudusan tubuh, dan bertentangan dengan rencana Tuhan tentang pernikahan.

- Hukum Indonesia (KUHP 2023): Mengatur bahwa kumpul kebo dapat dipidana, tapi hanya jika ada aduan dari keluarga inti.


Refleksi:  

Sebagai orang percaya, standar kita adalah firman Tuhan. Kita dipanggil untuk hidup dalam kekudusan, menjaga relasi sesuai dengan kehendak Allah—yaitu dalam ikatan pernikahan yang sah dan diberkati.

Sunday, January 4, 2026

P andangan Alkitab & Hukum Indonesia tentang Pernikahan Beda Agama

Pandangan Alkitab & Hukum Indonesia tentang Pernikahan Beda Agama



1. Pandangan Alkitab: Menikah Beda Agama Tidak Diperbolehkan

- 2 Korintus 6:14: “Janganlah kamu merupakan pasangan yang tidak seimbang dengan orang-orang yang tak percaya...”  

  ➤ Menikah dengan yang tidak seiman disebut "pasangan yang tidak seimbang" (yoke) dan dilarang karena akan mengganggu iman dan ibadah.

- Ulangan 7:3-4: Tuhan melarang umat-Nya menikah dengan bangsa lain karena akan menarik hati mereka dari Tuhan.

- 1 Korintus 7:39: Jika seorang janda menikah kembali, “hendaklah dengan orang yang percaya.”

➤ Kesimpulan: Alkitab jelas mendorong umat Tuhan untuk menikah dalam iman yang sama agar rumah tangga dibangun dalam keharmonisan iman dan pelayanan kepada Tuhan.


2. Pandangan Hukum di Indonesia

- UU No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan, Pasal 2 ayat (1): “Perkawinan adalah sah, apabila dilakukan menurut hukum masing-masing agama dan kepercayaannya.”

- Dalam praktiknya, pernikahan beda agama sulit disahkan di Indonesia karena tidak ada kesepakatan lintas agama soal tata cara pernikahan, dan biasanya salah satu pasangan harus pindah agama agar bisa menikah secara sah.

- Beberapa orang mencoba menikah di luar negeri, lalu mendaftarkan pernikahannya di Indonesia. Namun, tetap saja tidak sesuai dengan prinsip iman Kristen.


Kesimpulan:

- Secara iman (Alkitab): Menikah beda agama tidak dianjurkan dan dilarang demi menjaga kemurnian iman dan pertumbuhan rohani keluarga.

- Secara hukum (Indonesia): Pernikahan beda agama tidak diakomodasi secara jelas, dan sering kali menimbulkan masalah administrasi dan hukum.

Saran: Sebelum memutuskan menikah, penting untuk mempertimbangkan kesatuan iman, nilai, dan tujuan hidup dalam terang firman Tuhan dan hukum negara. CG YP

Rencana Tuhan vs Rencana Manusia (Yeremia 29:11)

 Renungan hari ini 🌄🙋  Rencana Tuhan vs Rencana Manusia (Yeremia 29:11) “Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku...