Alfa dan Omega: Allah yang Memegang Kendali Segala Sesuatu
I. Pendahuluan
Dunia kita sering kali terasa kacau dan tidak pasti. Kita khawatir tentang masa depan, menyesali masa lalu, dan merasa lelah di masa kini. Namun, di tengah ketidakpastian itu, Tuhan memperkenalkan diri-Nya dengan sebuah gelar yang absolut: "Aku adalah Alfa dan Omega." Ini bukan sekadar simbol huruf, melainkan sebuah proklamasi bahwa Tuhan adalah pemilik garis start dan garis finish kehidupan kita. Tidak ada satu detik pun dalam sejarah yang berada di luar jangkauan-Nya.
II. Latar Belakang
Gelar "Alfa dan Omega" muncul tiga kali dalam kitab terakhir Alkitab, yaitu Wahyu (Wahyu 1:8; 21:6; 22:13).
Etimologi: Alfa ($\alpha$) adalah huruf pertama dalam alfabet Yunani, dan Omega ($\omega$) adalah huruf terakhir.
Konteks Sejarah: Kitab Wahyu ditulis saat jemaat mula-mula mengalami penganiayaan hebat di bawah kekaisaran Romawi. Mereka merasa "akhir" sudah dekat dan segalanya hancur. Tuhan menggunakan istilah ini untuk menghibur mereka: bahwa Dialah yang memulai sejarah, dan Dialah yang akan menutupnya, bukan kaisar dunia.
Makna Budaya: Dalam tradisi Yahudi, mencakup seluruh alfabet (dari Aleph sampai Tav) adalah cara untuk menyatakan totalitas atau kesempurnaan.
III. Poin-Poin Penting (Eksposisi)
1. Allah yang Transenden (Melampaui Waktu)
Sebagai Alfa dan Omega, Allah ada sebelum waktu diciptakan dan tetap ada setelah waktu berakhir. Dia tidak terikat oleh kalender manusia.
Alfa: Dia adalah Penyebab Pertama (The First Cause). Segala sesuatu ada karena ide-Nya.
Omega: Dia adalah Tujuan Akhir. Semua sejarah bergerak menuju satu titik: kemuliaan-Nya.
2. Allah yang Immanen (Menyertai di Antara Alfa dan Omega)
Penting untuk diingat: Allah bukan hanya ada di huruf pertama dan terakhir. Dia adalah seluruh "alfabet" kehidupan. Di antara Alfa dan Omega, terdapat huruf-huruf lain. Artinya, di antara kelahiran dan kematian kita, di antara awal rencana dan pencapaiannya, Allah hadir di setiap prosesnya.
3. Kesatuan Kristus dengan Bapa
Dalam Wahyu 22:13, Yesus Kristus mengklaim gelar ini bagi diri-Nya sendiri. Ini adalah bukti teologis yang sangat kuat tentang ke-Tuhan-an Yesus. Dia setara dengan Allah Bapa dalam kekekalan dan kuasa.
IV. Penerapan Praktis
Berhenti Menjadi "Alfa" Bagi Diri Sendiri: Seringkali kita stres karena kita mencoba mengontrol awal dari segala sesuatu. Percayalah bahwa Allah sudah memulai pekerjaan yang baik di dalam kita.
Ketidaktakutan Terhadap Masa Depan (Omega): Jika Allah memegang akhir sejarah, kita tidak perlu takut akan kematian atau akhir zaman. Akhir kita bukan kehancuran, melainkan perjumpaan dengan Sang Omega.
Ketekunan di Masa Sulit: Jika Anda sedang berada "di tengah-tengah" masalah (antara awal dan akhir), ingatlah bahwa Sang alfabet agung sedang merangkai cerita indah dalam hidup Anda.
V. Kesimpulan
Mengakui Tuhan sebagai Alfa dan Omega berarti menyerahkan kendali total hidup kita kepada-Nya. Dia yang merancang awal hidupmu, dan Dia pula yang menjamin akhir hidupmu akan penuh dengan kemenangan. Jangan takut pada apa yang ada di depan, karena Sang Omega sudah lebih dulu ada di sana.
VI. Sumber Buku (Referensi)
Untuk pendalaman lebih lanjut, berikut adalah beberapa referensi buku yang otoritatif:
Beale, G. K. (1999). The Book of Revelation (New International Greek Testament Commentary). Wm. B. Eerdmans Publishing. (Sangat mendalam tentang simbolisme Yunani).
Ladd, George Eldon. (1972). A Theology of the New Testament. Eerdmans. (Membahas eskatologi dan kedaulatan Kristus).
Mounce, Robert H. (1997). The Book of Revelation (New International Commentary on the New Testament). Eerdmans.
Barclay, William. (2001). The Revelation of John (The New Daily Study Bible). Westminster John Knox Press. (Sangat baik untuk latar belakang sejarah dan bahasa).
Sproul, R.C. (2012). The Holiness of God. Tyndale House. (Membahas tentang keabadian dan sifat Allah).

No comments:
Post a Comment