Sunday, December 15, 2024

Berkat Kelahiran Yesus Bagi UmatNya. Yakin pasti bisa berubah

 Lapastik (16 Des 2024) Yesaya Penlobang. 


Berkat Kelahiran Yesus Bagi UmatNya.  Yakin pasti bisa berubah

(Lukas 2:21-40) 


1. Hidup dalam Perubahan Moralitas

*Hidup Benar dan Saleh

*Setia kepada Tuhan, 

*Keluarga dan Umat Tuhan.

2. Hidup dalam Perubahan Spritual

*Dipimpin oleh Kudus

*Dipimpin Tuhan menuju jalan keselamatan,

*Persekutuan dengan Tuhan, 

*Pengalaman Rohani, 

*Pelayanan kepada Tuhan.

3. Hidup dalam Perubahan & Kepedulian Sosial.

*Hidup dalam Anugerah Keselamatan dan menjadi Berkat bagi sesama, Keluarga dan Jiwa yang sesat dan terhilngan dan Berdosa.

*Hidup Sukacita dalam Kasih dan Damai Sejahtera dari Tuhan Yesus.

(YP)

Friday, November 29, 2024

Antusiasme kepada Allah


Antusiasme kepada Allah (Mazmur 100:1-5)

Seberapa antusias kita bernyanyi dan memuji Allah? Pertanyaan ini mungkin dijawab dengan dua respons, yaitu antusias atau masa bodoh.

Jika pertanyaan ini diajukan kepada pemazmur dalam Mazmur 100, kita akan menemukan bahwa pemazmur sangat antusias menaikkan pujian kepada Allah. Penggunaan kata kerja aktif seperti: bersorak-soraklah, beribadahlah, datanglah, masuklah, dan pujilah menunjukkan betapa pemazmur begitu bersemangat dalam memuji Allah (1-4).

Antusiasme dalam memuji Allah adalah salah satu tema sentral Mazmur 100. Tema ini menutup mazmur pujian Allah sebagai Raja yang ada di pasal sebelumnya (psl. 93, 95-99). Pujian kepada Allah sebagai Raja dan Tuhan ditutup dengan puji-pujian yang antusias dari pemazmur. Antusiasme ini timbul karena pemahaman pemazmur mengenai identitas Tuhan yang adalah Allah dan Gembala (3) yang baik dan setia, yang kasih setia-Nya tetap turun-temurun (3-5).

Pemahaman pemazmur tentang siapa Allah telah membawanya kepada pemahaman tentang identitas diri dan bangsanya. Ia dan bangsanya adalah umat Allah dan kawanan domba gembalaan-Nya. Mereka mendapat jaminan perlindungan karena kebaikan dan kasih setia Allah (5).

Jadi, antusiasme pemazmur dalam memuji Allah timbul dari persekutuan dan pengenalan akan Allah secara pribadi. Tanpa pengenalan itu, mustahil orientasi hidupnya bisa berubah. Karena itulah, orang yang sudah mengalami pengenalan akan Allah pasti hidupnya penuh pujian.

Sebagai umat Allah, kita perlu memeriksa diri. Sering kali pemahaman kita mengenai Allah berhenti pada pengetahuan saja. Kita tidak mau belajar hidup dekat dengan Allah melalui firman-Nya dalam kehidupan kita sehari-hari. Inilah yang membuat kita tidak memiliki antusiasme dalam berelasi dengan Allah. Mari kita bertekad mengenal Allah tidak hanya dengan pengetahuan, tetapi juga antusiasme untuk berjumpa dengan Tuhan agar hidup kita menjadi nyanyian bagi-Nya. [HOS]

Integritas Hidup

Integritas Hidup (Mazmur 101:1-8)

Pemazmur membuka Mazmur ini dengan sebuah pujian tentang kesetiaan TUHAN kepada perjanjian-Nya dan keadilan-Nya (1). Selanjutnya, sebagai seorang raja, selain menyatakan kerinduannya untuk hidup menurut jalan-jalan TUHAN yang sempurna (2a) dan memohon agar TUHAN sendirilah yang menolongnya (2b), pemazmur juga mau memiliki hidup yang berintegritas (2c).

Dalam hidupnya bersama orang lain, dia menolak untuk berkelakuan buruk (3a), membenci perbuatan murtad (3b), dan menjauhkan dirinya dari sikap serta perbuatan yang tidak benar (4-5). Namun, dia tahu bagaimana memperlakukan dengan tepat, baik terhadap orang-orang yang hidupnya benar (6) maupun yang salah (7). Kemudian pemazmur menutup tulisannya dengan komitmen untuk melenyapkan kefasikan dan kejahatan (8).

Sebagai seorang Kristen, apa pun status kita, terlebih jika kita seorang pemimpin, kita sudah sepatutnya menjaga hidup yang berintegritas. Pikiran yang mau hidup dalam kebenaran dan menolak kejahatan, seharusnya terwujud pula dalam tindakan nyata. Bukan sekadar retorika, melainkan terwujud dalam laku hidup.


Hidup berintegritas membutuhkan komitmen yang harus dipelihara dan dikembangkan seumur hidup. Perlu diketahui bahwa integritas bukan semata-mata bersumber dari kebaikan dan usaha sendiri, tetapi juga berasal dari hidup yang takut akan Tuhan. Karena itu, sudah sepatutnya kita selalu ingat bahwa keberadaan kita, selain menjadi wakil Tuhan untuk menyatakan kebenaran-Nya, juga menjalani hidup yang benar dalam anugerah-Nya agar nama Tuhan dimuliakan.

Lawan dari hidup beritegritas dalam kebenaran adalah kemunafikan. Karena itu, marilah kita berusaha untuk tidak melihat kegagalan, keburukan, bahkan kemunafikan orang lain lebih besar daripada kegagalan, keburukan, dan kemunafikan diri sendiri. Sambil terus-menerus memperbaiki diri, marilah kita memohon dan mengandalkan anugerah Tuhan yang memampukan kita untuk menjalani hidup yang berintegri-tas. Dengan cara itulah, iman nyata dalam perbuatan. [RH]

Saturday, August 3, 2024

Allah memperhatikan penderitaan umat

 

Allah memperhatikan penderitaan umat (Keluaran 2:23-3:10)

Ketika menderita, kadang kita menganggap bahwa Allah tidak peduli pada penderitaan kita. Tentu salah jika kita berpikir demikian. Allah kita adalah Allah yang sangat peduli terhadap penderitaan manusia, terutama penderitaan umat-Nya. Ini dapat kita lihat dalam nas hari ini.

Setelah ratusan tahun di Mesir, umat Israel -yang merasa menderita- berseru kepada Allah (23-24). Allah pun mengingat perjanjian-Nya dengan Abraham, Ishak, dan Yakub. Ia kemudian menjalankan rencana-Nya untuk menyelamatkan mereka dari perbudakan Mesir. Dalam bahasa Ibrani kata "mengingat" bukan berarti hanya secara pemikiran/kognitif, yaitu bahwa tadinya lupa dan sekarang ingat, tetapi mencakup tindakan juga. Jadi ini berarti, telah tiba waktunya bagi Allah untuk bertindak seturut dengan perjanjian-Nya kepada Abraham, Ishak, dan Yakub.

Allah kemudian memanggil Musa dan menyatakan bahwa "Aku telah memperhatikan dengan sungguh kesengsaraan umat-Ku di tanah Mesir, dan Aku telah mendengar seruan mereka yang disebabkan oleh pengerah-pengerah mereka, ya, Aku mengetahui penderitaan mereka" (7). Allah kita memang adalah Allah yang sangat peduli dengan kesengsaraan umat-Nya, terutama mereka yang ditindas. Sebab itu Allah berkata bahwa jika kita menindas janda dan anak yatim lalu mereka berseru kepada Allah, maka Allah akan mendengar seruan mereka dan akan menyatakan murka-Nya kepada mereka yang menindas janda dan anak yatim tersebut (Kel. 22:22-24).

Kita harus mengerti bahwa Allah sangat peduli dengan penderitaan kita, karena itu jangan berhenti berseru kepada Allah untuk memberikan pertolongan kepada kita. Jika pertolongan tidak datang seturut yang kita inginkan, maka kita harus percaya bahwa itu bukan karena Allah tidak peduli, tetapi pasti ada rencana Allah dibalik penderitaan tersebut. Sebaliknya, kita juga harus berhati-hati jangan sampai kita menindas mereka yang lebih lemah karena ketika mereka berseru kepada Allah, maka Allah pasti akan mendengar seruan mereka dan akan menunjukkan murka kepada kita, yang menindas mareka yang lemah.

Diskusi renungan ini di Facebook: 

http://apps.facebook.com/santapanharian/home.php?d=2013/05/27/

Thursday, August 1, 2024

Iman dan Janji

Iman dan Janji (Roma 4:13-25)

Kita hidup pada zaman di mana manusia sangat mudah melanggar janji, seperti: janji perkawinan, janji persahabatan, perjanjian kerja, dan lainnya. Beda halnya dengan Allah. Ketika Allah berjanji, Ia pasti menepatinya. Dan kepada orang-orang yang percaya kepada-Nya, Allah memberikan janji bukan karena perbuatan mereka, melainkan karena iman mereka (13-14).

Dalam rencana keselamatan Allah, janji-Nya sangat penting. Hal itu ditegaskan Paulus dalam perikop ini hingga lima kali (13-14, 16, 20-21). Lalu apa kaitan antara iman dan janji tersebut? 

Pertama, orang beriman beroleh janji Allah (13-17). Paulus menegaskan hal ini melalui teladan Abraham ketika imannya diperhitungkan sebagai kebenaran oleh Allah. Selain itu, Allah juga memberikan janji kepada Abraham sebagai bapa dari segala bangsa (16-17).

Kedua, orang beriman memercayai janji Allah (18-22). Paulus memakai contoh Abraham yang meskipun tidak mempunyai dasar untuk percaya dan berharap, namun ia memilih tetap percaya dan berharap kepada Tuhan dan janji-Nya (18-21).

Menariknya, Paulus pun menegaskan pada bagian akhir dari perikop ini bahwa kedua hal tersebut bukan hanya berlaku bagi Abraham, tetapi juga bagi kita yang percaya kepada Yesus (23-25).

Allah membenarkan kita melalui karya penebusan Kristus di kayu salib. Bagian yang terbaik telah Ia kerjakan. Karena itu, marilah kita juga melakukan bagian yang dipercayakan Allah kepada kita.

Sebagai orang percaya yang memiliki iman dalam Yesus Kristus, marilah kita senantiasa berpegang dan percaya pada janji Allah, yaitu janji keselamatan dalam Yesus Kristus.

Demikianlahlah ungkapan rasa syukur kita. Karena itu, jangan biarkan kesulitan hidup menggoyahkan iman dan pengharapan kita kepada-Nya. [MFS]

Dosa merusak Persekutuan

Dosa merusak Persekutuan (1 Yohanes 1:5-10)

Persekutuan jemaat berarti juga persekutuan antarjemaat dan persekutuan dengan Allah. Persekutuan dengan Allah berarti persekutuan dalam Terang (ayat 5), oleh karena itu persekutuan manusia dengan Allah tidak mungkin terjadi dalam kegelapan. Dosa mengakibatkan rusaknya persekutuan dengan Allah dan dengan sesama. Yohanes memaparkan 3 hal yang merusak persekutuan manusia dengan Allah. Ketiganya dimulai dengan frasa ‘jika kita katakan’ (ayat 6,8,10).

✅Pertama, hidup dalam kegelapan (ayat 6). Orang menyatakan dirinya memiliki persekutuan dengan Allah, namun hidup dalam dosa, orang demikian memisahkan iman dan perbuatan. Mereka berpendapat bahwa apa yang dipercaya tidak perlu dilakukan di dalam hidup sehari-hari. Kehidupan hari Minggu kelihatan saleh dalam ibadah, tetapi di luar ibadah, hidupnya bergelimang dalam dosa. 

✅Kedua, tidak berdosa (ayat 8). Orang menyatakan dirinya memiliki persekutuan dengan Allah, tetapi merasa tidak perlu mengaku dosa kepada Allah. Allah adalah Terang. Ketika kita menghampiri Terang, maka kegelapan diri kita akan disoroti. Allah tidak hanya menyingkapkan dosa-dosa kita, tetapi juga mengarahkan kita untuk melihat kuasa darah Yesus yang menyucikan segala dosa kita (ayat 7). Akibat serius jika kita menyatakan diri tidak berdosa adalah rusaknya persekutuan dengan sesama (ayat 7) dan persekutuan dengan Allah (ayat 10).

✅Ketiga, tidak pernah berbuat dosa (ayat 10). Merasa bahwa semua perbuatan dosa dianggap bukan dosa. Penyangkalan dosa tidak hanya menipu diri sendiri, tetapi menjadikan Allah sebagai penipu. Allah tidak dapat bersekutu dengan dosa. Salib menjadi tempat di mana Allah menghukum dosa. Penolakan terhadap dosa sama artinya dengan menolak firman Allah yang menyatakan bahwa semua manusia berdosa dan perlu pengampunan dosa oleh darah Yesus. 

Renungkan: Kapan kita terakhir sekali menyadari dosa dan mengaku dosa kepada Allah? SH

Tuesday, July 23, 2024

JANGAN KUATIR!

 

JANGAN KUATIR! (Filipi 4:6)

“Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur.” (Filipi 4:6)

Sebagai manusia kita dapat mengalami kekuatiran. Dalam dunia sekarang ini, saat penyakit covid 19 beberapa tahun lalu yang datang ke dunia ini, banyak kita yang mengalami kekuatiran seperti: kuatir kehilangan orang yang kita kasihi, kuatir tentang kehilangan pekerjaan, kuatir masalah keuangan, kuatir dengan keamanan keluarga, dll. Ketika rasa kuatir itu timbul dalam hati kita, maka kita kehilangan damai dan sukacita dalam hidup kita.  Bagaimana kita harus menghadapi kekhawatiran dalam hidup ini, sehingga kita tidak kehilangan damai itu?

Saudara terkasih, kita dapat belajar dari Paulus, dalam menghadapi kekuatiran tersebut, lewat Firman Tuhan yang dituliskannya kepada jemaat Filipi ini. Sebagai manusia, seperti kita, Paulus juga punya alasan untuk kuatir: usianya yang menua, dirinya yang dipenjara, dimana tidak ada kejelasan apa ia akan bebas atau ia akan mati di penjara. Namun ditengah tantangan dan kesusahan yang dialaminya, ia mempunyai rahasia untuk tidak kuatir, dan tetap memiliki Damai Sejahtera. Itulah yang dibagikannya kepada jemaat Filipi dalam Firman yang menjadi renungan harian kita hari ini.

Apakah rahasia untuk tidak kuatir itu? 

✅Pertama, Nyatakanlah segala keinginan kita pada Tuhan. Dalam setiap hal yang kita hadapi dan jalani dalam hidup ini, kita seharusnya menghadapinya dan menjalaninya dengan berharap pada Tuhan, menyampaikan segala keinginan kita kepadaNya. Dia umber berkat itu. 

✅Kedua, berdoa. Doa adalah nafas kehidupan orang percaya. Lewat doa, orang percaya berkomunikasi dengan Allah. Doa adalah tanda bahwa kita mengakui sebagai manusia, kita terbatas, kita memerlukan Tuhan dalam hidup kita.  Maka dalam hal ini Paulus mengajak kita agar kita menyerahkan seluruh kekuatiran kita pada Tuhan. 

✅Ketiga, Mengucap Syukur. Tindakan Mengucap syukur, merupakan tindakan yang disenangi Allah dalam setiap hidup umat-Nya ( 1 Tes. 5:18). Hanya dengan selalu bersyukur dalam segala hal, kita mampu menjauhi kekuatiran dalam hidup kita. (TS)

Doa: Tuhan, aku tidak akan kuatir karena Engkau selalu ada bersamaku. Amin

Kata bijak:

Nyatakanlah keinginanmu pada Tuhan, jangan kuatir lagi.

KEPUTUSAN SINODE GEREJA DAN KEPUTUSAN PELAYANAN GEREJA MODERN

  KEPUTUSAN SINODE GEREJA DAN KEPUTUSAN PELAYANAN GEREJA MODERN “Ketika Pendidikan Teologi dan Kekuasaan Pelayanan Tidak Selalu Berjalan Sei...