Sunday, July 13, 2025

Gereja yang Bertahan: Uang, Jabatan, atau Kristus?


Pandangan Alkitab tentang Gereja yang Bertahan: Uang, Jabatan, atau Kristus?

1. Fokus Gereja Sejati adalah Yesus Kristus

Alkitab dengan jelas menekankan bahwa fondasi gereja yang sejati adalah Kristus, bukan kekayaan atau jabatan:

- 1 Korintus 3:11 – "Karena tidak ada seorangpun yang dapat meletakkan dasar lain dari pada dasar yang telah diletakkan, yaitu Yesus Kristus."

- Matius 16:18 – "Di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya."

Uang, harta, dan nama besar bisa menjadi alat, tapi bukan dasar gereja yang sejati.

2. Peringatan Alkitab Tentang Ketergantungan pada Hal Duniawi

- Wahyu 3:17 (gereja di Laodikia): "Karena engkau berkata: Aku kaya dan aku telah memperkayakan diriku dan aku tidak kekurangan apa-apa..." — gereja ini ditegur karena kesombongan materi dan kehilangan kebergantungan kepada Kristus.

- 1 Timotius 6:10 – "Akar segala kejahatan ialah cinta uang."


3. Aplikasi bagi Gereja dan Orang Kristen Masa Kini

- Gereja dipanggil untuk mengandalkan Kristus dan firman-Nya sebagai pusat hidup dan pelayanan.

- Waspadai godaan mengukur kesuksesan gereja dari ukuran gedung, jumlah dana, atau popularitas hamba Tuhan.

- Umat Kristen harus menilai kehidupan bergereja dari kesetiaan pada Injil, kasih yang nyata, dan hidup dalam pertobatan.


Sumber Buku/Rekomendasi Studi:

- "The Purpose Driven Church" oleh Rick Warren (Gereja yang berpusat pada misi Kristus, bukan kesuksesan duniawi).

- "Nine Marks of a Healthy Church" oleh Mark Dever (Menekankan Injil, pengajaran sehat, dan pemuridan, bukan pertumbuhan eksternal semata).

- "Mengapa Gereja Ada?" oleh John Stott (Fokus pada gereja yang melayani Kristus di tengah dunia).

Pandangan Alkitab Pemimpin yang Meregenerasi


Pandangan Alkitab tentang Pemimpin yang Meregenerasi dan Aplikasinya bagi Pemimpin Rohani Masa Kini

1. Pandangan Alkitabiah:

Alkitab menekankan pentingnya regenerasi kepemimpinan, yaitu pemimpin yang membentuk dan mempersiapkan penerus yang setia dan berkarakter.

Contoh-contoh Alkitabiah:

- Musa
Yosua
(Bilangan 27:18-23): Musa menumpangkan tangan atas Yosua, membimbing dan menyerahkan kepemimpinan.

- Elia → Elisa (2 Raja-raja 2): Elia membentuk Elisa sebagai nabi pengganti yang setia.

- Yesus → Para Murid (Matius 28:19-20): Yesus memuridkan dan mempercayakan pelayanan pada murid-murid-Nya.

- Paulus → Timotius & Titus (2 Timotius 2:2): Paulus mengajar, memperlengkapi dan mempercayakan pelayanan kepada generasi berikutnya.


2. Prinsip-prinsip Regenerasi Kepemimpinan:

- Disiplin dan pembentukan karakter (1 Timotius 4:12)

- Pemuridan dan mentoring (2 Timotius 2:2)

- Pentransferan visi dan nilai (Ulangan 6:6-7; 1 Korintus 11:1)

- Pendelegasian tanggung jawab (Keluaran 18:21-23)


3. Aplikasi bagi Pemimpin Masa Kini:

- Membentuk pemimpin muda melalui pemuridan dan pelatihan rohani.

- Memberi ruang bagi generasi muda untuk bertumbuh dan melayani.

- Melibatkan mereka dalam keputusan pelayanan.

- Fokus bukan pada membangun nama sendiri, tapi membangun kerajaan Allah jangka panjang.


4. Sumber Buku & Referensi:

- John C. Maxwell, "The 21 Irrefutable Laws of Leadership" (khususnya Law of Legacy).

- J. Oswald Sanders, "Spiritual Leadership" — pembahasan soal pemimpin yang membina penerus.

- Bill Hull, "The Disciple-Making Pastor" — menekankan pemuridan dalam gereja.

- Howard & William Hendricks, "As Iron Sharpens Iron" — tentang mentoring rohani.



Thursday, July 10, 2025

Pandangan Alkitab tentang Penjara Hati & Penjara Fisik

Pandangan Alkitab tentang Penjara Hati & Penjara Fisik  

1. Penjara Fisik dalam Alkitab

Penjara secara fisik disebutkan sering dalam Alkitab:

- Yusuf dipenjara secara tidak adil (Kejadian 39:20-23), tetapi tetap setia dan akhirnya dipakai Tuhan.

- Yeremia dipenjara karena menyampaikan firman Tuhan (Yer. 37:15-16).

- Paulus & Silas dipenjara tetapi memuji Tuhan, lalu membebaskan kepala penjara (Kis. 16:25-34).

- Yesus sendiri diperlakukan seperti penjahat dan diadili secara tidak adil.

Makna: Penjara bukan akhir dari rencana Tuhan. Justru di tempat gelap, Tuhan sering nyatakan terang-Nya.

2. Penjara Hati

Penjara hati adalah kondisi batin yang terbelenggu oleh:

- Luka batin dan dendam (Efesus 4:31-32)

- Rasa bersalah dan malu (Mazmur 32:3-5)

- Ketakutan atau trauma masa lalu (Roma 8:15)

Yesus datang bukan hanya membebaskan tubuh, tapi jiwa yang terbelenggu:  

"Ia telah mengutus Aku... untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan..." (Lukas 4:18)


3. Aplikasi bagi Warga Kristen di Penjara

- Secara fisik: Meski terbelenggu, jiwa bisa bebas oleh pengampunan dan kasih karunia Kristus.

- Secara rohani: Penjara menjadi tempat perjumpaan dengan Tuhan (seperti Paulus & Silas).

 - Pemulihan batin: Melalui pertobatan dan pengampunan, hati yang terbelenggu bisa dipulihkan.

- Pelayanan di penjara: Jemaat bisa menjangkau napi dengan kasih, konseling, dan pendampingan iman.


Kesimpulan:  

Tuhan sanggup membebaskan, baik dari penjara fisik maupun penjara hati. Bagi warga Kristen di penjara, harapan tetap hidup bila hati percaya dan terbuka kepada Kristus. YP


Referensi Alkitab:

- Lukas 4:18  - Kejadian 39–41 (Yusuf)  - Kisah Para Rasul 16  - Yesaya 61:1  - Mazmur 142  

Referensi Buku:

- "Prison to Praise" – Merlin Carothers  

- "Strength to Love" – Martin Luther King Jr.  

- "Bound to Be Free: Escaping Performance to Be Captivated by Grace" – D.A. Horton


Tuesday, July 8, 2025

TINJAUAN ALKITABIAH: HUKUM GEREJA & HUKUM YURIDIS

TINJAUAN ALKITABIAH HUKUM GEREJA DALAM PERJANJIAN LAMA, PERJANJIAN BARU, DAN HUKUM POSITIF/YURIDIS SERTA APLIKASINYA BAGI ORANG KRISTEN MASA KINI


1. Hukum dalam Perjanjian Lama:

- Hukum Taurat (Torah): Merupakan dasar etika dan hukum sosial umat Israel (Keluaran 20; Imamat; Ulangan).

- Fungsi: Mengatur kehidupan rohani, sosial, ibadah, dan hubungan antar umat.

- Aplikasi: Menunjukkan standar kekudusan dan keadilan Allah, serta kebutuhan akan penebusan.


2. Hukum dalam Perjanjian Baru:

- Yesus sebagai Penggenap Hukum (Matius 5:17): Hukum kasih menggantikan hukum legalistik (Matius 22:37-40).

- Hukum Roh dan Kasih Karunia (Roma 8:2): Menekankan kasih, pengampunan, dan hidup dalam pimpinan Roh Kudus.

- Gereja mula-mula tetap menghormati struktur hukum, namun fokus pada kasih, kebenaran, dan disiplin jemaat (Kisah Para Rasul 15; 1 Korintus 5).


3. Hukum Gereja dan Hukum Positif/Yuridis:

- Roma 13:1-7: Paulus menasihati umat Kristen untuk tunduk pada pemerintah karena otoritas berasal dari Allah.

- Hukum gereja lokal (kanon, peraturan internal): Mengatur tata ibadah, organisasi, etika pelayan, dan disiplin jemaat.

- Hukum positif: Meliputi konstitusi, hukum pidana/sipil, hak asasi manusia — orang Kristen dipanggil untuk jadi warga negara yang baik selama hukum dunia tidak bertentangan dengan firman Tuhan (Kisah 5:29).

Hukum yuridis adalah sistem hukum yang berdasarkan pada peraturan perundang-undangan yang berlaku dan dapat diterapkan oleh lembaga hukum, seperti pengadilan. Hukum yuridis mencakup semua aspek hukum yang berkaitan dengan peraturan, norma, dan prosedur yang digunakan untuk menyelesaikan sengketa atau kasus hukum.

Hukum Yuridis memiliki beberapa karakteristik, seperti:

1. Berdasarkan peraturan perundang-undangan: Hukum yuridis berdasarkan pada peraturan perundang-undangan yang berlaku.

2. Dapat diterapkan oleh lembaga hukum: Hukum yuridis dapat diterapkan oleh lembaga hukum, seperti pengadilan.

3. Bersifat mengikat: Hukum yuridis memiliki kekuatan untuk mengikat masyarakat dan memberikan sanksi bagi mereka yang melanggarnya.

4. Menggunakan prosedur yang jelas: Hukum yuridis menggunakan prosedur yang jelas dan sistematis untuk menyelesaikan sengketa atau kasus hukum.

Contoh Hukum Yuridis termasuk:

- Hukum perdata

- Hukum pidana

- Hukum administrasi negara

- Hukum internasional

Hukum yuridis memainkan peran penting dalam menjaga ketertiban dan keamanan masyarakat, serta memberikan perlindungan bagi hak-hak individu.


4. Aplikasi bagi Orang Kristen Masa Kini:

- Memahami dan menaati hukum gereja sebagai bagian dari ketertiban dan kesaksian.

- Tunduk kepada pemerintah dan hukum negara, kecuali jika bertentangan dengan iman Kristen.

- Mempraktikkan kasih dan keadilan dalam relasi sosial sesuai prinsip Alkitabiah.


Referensi Buku:

- "Ethics for a Brave New World" – John S. Feinberg & Paul D. Feinberg  

- "Teologi Perjanjian Lama dan Baru" – Walter C. Kaiser Jr. & Thomas Schreiner  

- "Etika Kristen" – Louis Berkhof  

- "Gereja dan Negara" – R.C. Sproul  

- UU Organisasi Keagamaan di Indonesia – untuk konteks hukum positif


TINJAUAN ALKITABIAH: IBADAH DALAM PERJANJIAN LAMA, PERJANJIAN BARU

TINJAUAN ALKITABIAH: IBADAH DALAM PERJANJIAN LAMA, PERJANJIAN BARU & APLIKASINYA BAGI ORANG KRISTEN MASA KINI


1. IBADAH DALAM PERJANJIAN LAMA

Fokus: Ritual, simbol, korban binatang, tempat kudus (Kemah Suci/Bait Allah)  

Tujuan: Penyembahan, penebusan dosa, pemulihan hubungan dengan Allah  

Ciri khas:

- Imamat 1–7: Tata cara korban bakaran, korban keselamatan, dll.  

- Ibadah terpusat: di Kemah Suci/Bait Suci  

- Imam sebagai perantara  

- Hari-hari raya: Paskah, Hari Pendamaian (Imamat 23) 

> Ibadah diatur secara ketat untuk menyatakan kekudusan Allah dan kebutuhan manusia akan pengampunan.


2. IBADAH DALAM PERJANJIAN BARU

Fokus: Relasi pribadi melalui Kristus, dalam roh dan kebenaran  

Perubahan utama:

- Yohanes 4:23-24: Menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran  

- Ibrani 10:10-14: Yesus sebagai korban sempurna, menghapus sistem korban binatang  

- 1 Korintus 3:16: Orang percaya adalah Bait Allah  

- Ibadah menjadi gaya hidup (Roma 12:1)  

Ibadah bukan lagi terikat tempat atau ritual, tetapi hidup dalam penyerahan dan ketaatan kepada Kristus.


3. APLIKASI BAGI ORANG KRISTEN MASA KINI

- Ibadah bukan hanya hari Minggu → seluruh hidup adalah penyembahan

 - Kehadiran Tuhan → tidak tergantung tempat, tapi hati yang berserah  

- Menjaga kekudusan hidup (1 Petrus 1:15)  

- Melayani dan memberi dengan hati yang tulus (Ibrani 13:15-16)  

- Ibadah kolektif tetap penting (Ibrani 10:25)  


KESIMPULAN:

Ibadah dalam PL menekankan simbol dan ritual; dalam PB, berpusat pada Kristus dan hati yang menyembah dalam roh. Orang Kristen masa kini dipanggil hidup dalam penyembahan sejati—bukan hanya dalam liturgi, tetapi dalam setiap aspek kehidupan. YP


REFERENSI BUKU & SUMBER:

- Desiring God – John Piper  

- Worship Matters – Bob Kauflin  

- The Knowledge of the Holy – A.W. Tozer  

- The Spirit of the Disciplines – Dallas Willard  

- Teologi Sistematika – Louis Berkhof (topik: Ibadah & Penebusan)

KEHENDAK TUHAN ATAU KEHENDAK MANUSIA

TINJAUAN: KEHENDAK TUHAN ATAU KEHENDAK MANUSIA DALAM MELAYANI TUHAN DAN SESAMA


1. PENGANTAR  

Dalam pelayanan, sering muncul ketegangan antara mengikuti kehendak Tuhan atau menuruti kehendak pribadi/manusia. Melayani bukan sekadar aktivitas lahiriah, tapi ekspresi ketaatan dan penyerahan pada kehendak Allah.

2. KEHENDAK TUHAN DALAM PELAYANAN  

- Matius 6:10 – "Jadilah kehendak-Mu..."  

- Roma 12:2 – Kehendak Allah adalah yang baik, berkenan, dan sempurna.  

- Efesus 2:10 – Kita diciptakan untuk melakukan pekerjaan baik yang telah dipersiapkan Allah sebelumnya.  

Ciri pelayanan sesuai kehendak Tuhan:  

✓ Mendorong pertumbuhan rohani  

✓ Mengutamakan kasih, kebenaran, dan ketaatan  

✓ Tidak mencari pujian diri  


3. KEHENDAK MANUSIA DALAM PELAYANAN  

- Yohanes 5:44 – “Bagaimana kamu dapat percaya, kamu yang menerima hormat satu dari yang lain...?”  

- Pelayanan jadi bersifat ambisius, mementingkan nama pribadi, pencitraan, atau tradisi belaka.


4. TANDA MELAYANI DALAM KEHENDAK TUHAN  

✓ Penuh ketulusan dan kasih  

✓ Meninggikan Kristus, bukan diri  

✓ Siap dikoreksi dan tunduk pada Firman  

✓ Memberi dampak ilahi bagi sesama


5. APLIKASI PRAKTIS:  

- Berdoa meminta tuntunan sebelum melayani  

- Evaluasi motivasi hati (Kolose 3:23)

 - Berkonsultasi dengan pemimpin rohani  

- Siap mengoreksi arah saat menyimpang dari kehendak Allah


KESIMPULAN:  

Pelayanan sejati bukan hasil kehendak diri, melainkan hasil penyerahan pada kehendak Allah. Tuhan memanggil bukan hanya untuk aktif, tetapi untuk taat dan setia dalam kasih. YP


REFERENSI BUKU TEOLOGIS:  

- John Piper – Desiring God (tentang melayani karena kesukaan akan Tuhan)  

- Henry Blackaby – Experiencing God (mengenal kehendak Allah dan meresponsnya)  

- Rick Warren – The Purpose Driven Life (tentang hidup dan pelayanan yang berpusat pada Tuhan)  

- Charles Stanley – The Will of God  

- Norman Geisler – Systematic Theology (Vol. 3, bagian kehendak Allah)

Monday, July 7, 2025

Keluarga Kristen yang Harmonis dan Bahagia


TINJAU THEOLOGIS KELURGA YANG HARMONIS DAN BAHAGAI APLIKASINYA BAGI KELUARGA KRISTEN MASA KINI?

1. Dasar Teologis Keluarga dalam Alkitab:

- Institusi ilahi: Keluarga adalah rancangan Tuhan sejak awal (Kejadian 2:24).

- Pusat pertumbuhan iman: Keluarga adalah tempat pertama pendidikan rohani (Ulangan 6:6-7). Mazmur 128: Keluarga yang takut akan Tuhan akan diberkati, hidup dalam damai, dan mengalami kebahagiaan dalam pekerjaan dan keturunan.

- Cerminan relasi Kristus dan Jemaat: Pernikahan dan keluarga mencerminkan kasih, kesetiaan, dan pengorbanan Kristus (Efesus 5:22-33).


2. Ciri-ciri Keluarga Harmonis dan Bahagia menurut Alkitab:

- Kasih yang rela berkorban (1 Korintus 13:4-7)

- Komunikasi yang jujur/terbuka dan saling menghargai/penuh kasih (Efesus 4:15, 29)

- Pengampunan dan kerendahan hati (Kolose 3:13)

- Peran yang dijalankan sesuai kehendak Tuhan: Suami sebagai kepala (Efesus 5:23), istri sebagai penolong (Kej. 2:18), anak-anak taat dan dihargai (Efesus 6:1-4)

- Yesus Kristus sebagai pusat rumah tangga

- Kasih dan pengampunan menjadi dasar relasi

- Komitmen dalam doa dan ibadah bersama

- Peran ayah, ibu, dan anak dijalankan sesuai Alkitab (Efesus 6:1-4)


3. Aplikasi bagi Keluarga Kristen Masa Kini:

- Doa dan firman sebagai pusat hidup keluarga: Luangkan waktu untuk doa keluarga dan pembacaan Alkitab. Membangun altar keluarga (doa & firman bersama)

- Prioritaskan hubungan, bukan hanya rutinitas: Jangan sibuk dengan aktivitas duniawi dan lupa membangun komunikasi rohani dan emosional.

- Terapkan kasih Kristus di rumah: Belajar mengampuni, bersabar, dan mengasihi tanpa syarat.

 - Didik anak dengan nilai iman: Libatkan anak dalam pelayanan, beri teladan hidup takut akan Tuhan.

- Mengutamakan waktu bersama, bukan hanya pencapaian materi

- Menghadapi tantangan zaman (media sosial, gaya hidup modern) dengan nilai Alkitab

- Pendidikan iman sejak dini kepada anak-anak (Amsal 22:6)


Kesimpulan:  

Keluarga harmonis dan bahagia bukan sekadar soal kenyamanan, tapi hasil dari ketaatan pada rancangan Allah. Dengan membangun keluarga berdasarkan kasih Kristus, firman Tuhan, dan hidup dalam doa, keluarga Kristen masa kini bisa menjadi saksi nyata bagi dunia. YP


Sumber Buku / Referensi Teologis:

- "The Family: A Christian Perspective on the Contemporary Home" oleh Jack & Judith Balswick  

- "Keluarga Kristen dan Iman yang Hidup" oleh R.A. Torrey  

- "Membangun Keluarga Kristen yang Sehat" – Dr. Stephen Tong  

- "Sacred Marriage" – Gary Thomas  

- Alkitab LAI (Lembaga Alkitab Indonesia)


Gereja yang Bertahan: Uang, Jabatan, atau Kristus?

Pandangan Alkitab tentang Gereja yang Bertahan: Uang, Jabatan, atau Kristus? 1. Fokus Gereja Sejati adalah Yesus Kristus Alkitab dengan jela...